22 TANYA JAWAB SEPUTAR RAMADHAN

 

22 TANYA JAWAB SEPUTAR RAMADHAN

Berilmu sebelum berucap dan beramal adalah suatu keharusan bagi setiap muslim dan muslimah, ilmu dalam beribadah sangat menentukan hasil dan kualitas ibadah.

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab sahihnya: “Bab: Ilmu itu sebelum ucapan dan amal”. Maka dalam kesempatan ini kami sajikan beberapa hukum seputar ramadhan yang dikemas berupa tanya jawab, semoga bisa menambah ilmu kita seputar ramadhan sehingga ibadah kita menjadi sempurna dan diterima oleh Allah Ta’ala.

Berikut beberapa hukum seputar ramadhan dalam bentuk tanya jawab:

1. BERJIMA’ DI SIANG HARI PADA BULAN RAMADHAN

PERTANYAAN: Telah diketahui bersama bahwa seseorang apabila melakukan jima`(bersetubuh dengan istri) disiang hari pada bulan ramadhan maka baginya kafarat (denda) yaitu membebaskan budak mukminah, jika tidak mampu maka harus berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak mampu maka ia harus memberikan makanan kepada 60 orang miskin. Pertanyaannya, seandainya seseorang tidak mampu memenuhi dari tiga hal tersebut bagaimana hukumnya?

JAWABAN: al-Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: Menurut Imam as-Syafii Rahimahullah ada dua pendapat: pertama: tidak dikenai apapun baginya, dan walaupun setelah itu ia mampu tetap tidak dikenai apapun. Kedua: pendapat yang sahih menurut pendukung madzhab syafii dan pendapat yang terpilih, yaitu kafarat (denda) tidak terbebas begitu saja, bahkan tetap menjadi tanggungannya hingga ia mampu membayarnya, dengan di qiyas(analogi)kan dengan segala bentuk hutang, hak-hak dan pungutan-pungutan seperti pungutan hasil buruan dan lainnya. (Sahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, Pustaka al-Iman, hal. 214).

2. BERPUASA DALAM KEADAAN SAFAR

PERTANYAAN: Bagaimana hukum puasa dalam keadaan safar (bepergian)?

JAWABAN: al-Imam an-Nawawi al-Syafii Rahimahullah berkata: Para ulama berbeda pendapat tentang puasa dalam keadaan safar(bepergian), sebagian ulama Ahlu Dzohir berpendapat: Tidak sah puasa ramadhan dalam keadaan safar, jika ia berpuasa(dalam keadaan safar) maka tidak dianggap dan wajib qodho` berdasarkan hadits” tidak termasuk perbuatan kebajikan ketika puasa dalam keadaan safar” dan didalam hadits lain “mereka(yang berpuasa dalam keadaan safar) melakukan kemaksiatan”. Sedangkan menurut mayoritas ulama dan semua ahlu fatwa: diperbolehkan puasa dalam keadaan safar dan puasanya dianggap serta mendapatkan pahala. (Sahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, pustaka al Iman hal. 219).

3. DALAM KEADAAN SAFAR MANA YANG LEBIH AFDHAL, BERPUASA ATAU BERBUKA?

PERTANYAAN: Mana yang lebih afdhol, berpuasa atau berbuka (dalam keadaan safar)?

JAWABAN: al-imam an-Nawawi Rahimahullah melanjutkan qoulnya: mereka(para ulama) berbeda pendapat, mana yang lebih utama,puasa atau berbuka ketika dalam keadaan safar: Imam Malik Rahimahullah, Abu hanifah Rahimahullah, asy Syafii Rahimahullah dan mayoritas berpendapat: berpuasa lebih utama bagi orang yang mampu, tanpa ada kesulitan yang tampak dan tidak membahayakan, namun jika membahayakan dirinya maka berbuka lebih utama baginya. mereka(ulama) berargumen dengan puasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan Abdullah Ibn Rowahah Radhiyallahu Anhu dan lainnya, dan dengan hadits hadits lain, dan hal itu(dengan berpuasa) membebaskan tanggungan seketika itu. Adapun menurut Said Ibn Musayyab Rahimahullah, al Auza`I Rahimahullah, Ahmad Rahimahullah, Ishaq Rahimahullah dan lainnya: berbuka lebih utama dari berpuas a(dalam keadaan safar), dan pendapat ini dinisbatkan oleh sebagian pendukung madzahab syafii kepada pendapat asy-Syafii Rahimahullah. Penisbatan ini ghorib. (Sahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, pustaka al Iman hal. 219).

4. MENCIUM ISTRI DALAM KEADAAN BERPUASA

PERTANYAAN: Apa hukum mencium istri di siang hari pada bulan ramadhan?

JAWABAN: Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Dia berkata: Rasulullah pernah mencium salah satu istrinya dalam keadaan puasa. Kemudian ia(Aisyah) tertawa. (HR. MUSLIM). Imam as-Syafii Rahimahullah dan sahabat-sahabatnya berkata: Mencium istri dalam keadaan puasa tidak haram bagi orang yang tidak tergerak syahwatnya, namun meninggalkan mencium lebih baik, dan tidak dikatakan(dihukumi): makruh baginya, tetapi mereka(ulama syafii) mengatakan: meninggalkannya(mencium) lebih utama meski adanya ketetapan dari rasul yaitu perbuatan yang dicontohkan Rasulullah. Karena Rasulullah aman dari efek perbuatan tersebut, dan dikhawatirkan bagi selain Rasulullah. (Sahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, Pustaka al-Iman, hal. 206)

5. MENCICIPI MAKANAN DALAM KEADAAN BERPUASA

PERTANYAAN: Apa hukum mencicipi makanan disiang hari pada bulan ramadhan?

JAWABAN: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata:” Tidak mengapa mencicipi cuka atau suatu makanan, selama tidak memasukkannya ke dalam kerongkongannya, pada saat sedang puasa”. [hadits hasan lighoirihi, riwayat ini ada penguatnya dalam riwaat bukhari secara mu`allaq dan Baihaqi).Termasuk mencicipi adalah mengunyah makanan untuk suatu keperluan. Wallohu A`lam

6. BERKUMUR-KUMUR DAN ISTINSYAQ DALAM KEADAAN BERPUASA

PERTANYAAN: Apa hukum berkumur-kumur dan Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dalam keadaan puasa?

JAWABAN: Tidak mengapa berkumur-kumur dan Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung dalam keadaan puasa walaupun tidak untuk berwudhu atau mandi, namun harus dilakukan dengan tidak berlebihan. Rasulullah Shallalu Alaihi Wasallam bersabda: “Dan sunnguh-sungguhlah dalam istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung), kecuali jika kalian sedang puasa.” Artinya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mensunnahkan untuk sunnguh-sunnguh dalam istinsyaq ketika berwudhu, namun jika pada bulan Ramadhan dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh. Wallohu A`lam

7. BERCELAK, SUNTIK, TETES MATA, DAN MENCIUM PARFUM DALAM KEADAAN BERPUASA

PERTANYAAN: Apa hukum bercelak, injeksi (suntik), tetes mata dan mencium parfum dalam keadaan puasa?

JAWABAN: Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: Adapun celak, injeksi, apa yang diteteskan diuratnya, serta pengobatan al makmumah (luka sampai ke otak), dan al-Ja`ifah (luka sampai ke dalam perut) adalah perkara yang diperselisihkan di kalangan para ulama (apakah membatalkan puasa atau tidak). Sebagian ulama berpendapat, semua itu tidak membatalkan puasa. Sementara sebagian lainnya mengatakan, perkara-perkara tersebut membatalkan puasa kecuali celak. Ada juga yang berpendapat, semua itu membatalkan puasa kecuali obat tetes mata. Dan aja juga yang mengatakan, semua itu membatalkan puasa, kecuali celak dan tetes mata. Kesimpulan: Pendapat yang paling jelas adalah, perkara-perkara yang disebutkan di atas tidak membatalkan puasa. Sebab puasa dalam Islam memerlukan pengetahuan tentang hukum khusus dan umum. Seandainya semua ini termasuk perkara yang diharamkan Alloh dan Rasulnya, di saat berpuasa atau dapat membatalkan puasa, tentunya wajib bagi Rasululloh untuk menjelaskannya. Wallohu A`lam

8. HIJAMAH (BERBEKAM) DALAM KEADAAN BERPUASA

PERTANYAAN: Apa hukum hijamah (berbekam) disiang hari pada bulan ramadhan?

JAWABAN: al-Qodhi Ibnu Rusyd al-Qurthuby Rahimahullah berkata: Terdapat tiga pendapat dalam masalah ini: pertama, Berbekam membatalkan puasa, dan wajib berbuka. Ini pendapat Ahmad Rahimahullah, Dawud Rahimahullah, al-Auza`I Rahimahullah, dan Ishaq Ibn Rohawaih Rahimahullah. Kedua, Berbekam hukumnya makruh dan tidak membatalkan puasa. Ini pendapat Malik, Syafii, dan ats-Tsauri. Ketiga, Berbekam tidak makruh dan tidak membatalkan puasa,. Ini pendapat Abu hanifah Rahimahullah dan pengikut-pengikutnya. {Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid Li al-Qodhi Ibnu Rusyd al-Qurthuby Rahimahullah }.

9. BERPUASA DALAM KEADAAN SAKIT

PERTANYAAN: Orang yang sakit dan Safar (bepergian) berpuasa bagaimana hukumnya?

JAWABAN: Para ulama berbeda pendapat, Mayoritas ulama berpendapat jika orang yang sakit dan orang yang safar berpusa maka sah puasanya dan mendapatkan pahala, sedangkan menurut Ahlu Dzohir, puasanya tidak sah dan tidak mendapatkan pahala, karena kewajibannya dihari yang lain (bukan saat sakit atau safar). Kesimpulan: berdasarkan argumen-argumen yang ada, maka pendapat yang paling benar dan kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama).

10. MEMILIKI HUTANG PUASA DAN BELUM DIBAYAR SEHINGGA MEMASUKI RAMADHAN BERIKUTNYA

PERTANYAAN: Orang yang memiliki hutang puasa ramadhan dan belum membayarnya hingga masuk ramadhan berikutnya, bagaimana hukumnya?

JAWABAN: Wajib membayarnya, (dilakukan) setelah melaksanakan puasa (yang ia dapati saat itu) dan wajib juga baginya membayar kafarat (denda), Ini adalah pendapat Imam Malik Rahimahullah, Imam Asy-Syafii Rahimahullah. Sebagian ulama mengatakan, wajib membayar puasa namun tidak perlu membayar kafarat dan ini pendapat Hasan al-Bashri Rahimahullah dan Ibrohim an-Nakho`i Rahimahullah. [Bidayatul Mujtahid Wanihayatul Muqtashid, Pustaka Ibnu Hazm, hal.250]

11. LUPA BERJIMA’ DALAM KEADAAN PUASA

PERTANYAAN: Bagaimana hukumnya jika jima`(brsetubuh dengan istri) disiang hari pada bulan ramadhan dalam keadaan lupa?

JAWABAN: Imam asy-Syafii Rahimahullah dan Imam Abu hanifah Rahimahullah berpendapat: Tidak wajib qodho` (puasanya tetap sah) dan tidak membayar kafarot (denda). Adapun Imam Malik Rahimahullah berpendapat: Wajib qodho` (puasanya batal) dan tidak membayar kafarot, sedangkan Imam Ahmad Rahimahullah dan ahlu Dzohir berpendapat: Wajib qodho` (batal puasanya) dan membayar kafarot. Kesimpulan: Pendapat yang mendekati kebenaran adalah pendapat Imam Syafii Rahimahullah dan Abu Hanifah Rahimahullah.

12. MIMPI DI SIANG HARI PADA BULAN RAMADHAN DAN KELUAR MANI

PERTANYAAN: Apakah mimpi disiang hari pada bulan ramadhan dan keluar mani membatalkan puasa?

JAWABAN: Mimpi di siang hari pada bulan ramadhan dan keluar mani tidak membatalkan puasa karena orang yang tidur tidak menyengajanya, dan dia dimaafkan (Shahih Fikih Wanita Karya Syaikh Ibnu Al-Utsaimin & Fikih Muyassar)

13. MENELAN DAHAK

PERTANYAAN: Apa hukum menelan dahak bagi orang puasa?

JAWABAN: Haram bagi orang yang berpuasa dan selainnya, karena dahak itu menjijikkan dan terkadang membawa beberapa penyakit. Akan tetapi menurut pendapat yang rajih, menelan dahak tidak membatalkan puasa, walaupun ia sudah sampai ke mulut, karena ia belum keluar dari mulut dan menelannya pun tidak terbilang makan maupun minum (Sahih Fikih Wanita Karya Syaikh Ibnu Al-Utsaimin)

14. WAFAT MENINGGALKAN HUTANG PUASA

PERTANYAAN: Bagaimana dengan seorang muslim atau muslimah yang wafat dan meninggalkan hutang puasa?

JAWABAN: Walinya mengqadha’ untuknya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: Barangsiapa mati dengan meninggalkan hutang puasa, maka walinya berpuasa untuknya (HR. Al-Bukhari).

Sebagian ulama berpendapat tidak wajib mengqadha’nya kecuali puasa nadzar.

15. AWAL MASUK MASJID BAGI ORANG YANG HENDAK I’TIKAF DAN KAPAN DIA KELUAR

PERTANYAAN: Kapan seseorang yang hendak i’tikaf memasuki masjid dan kapankah ia keluar?

JAWABAN: Orang yang bernadzar untuk i’tikaf di hari tertentu atau ia hendak i’tikaf disepuluh hari terakhir bulan ramadhan, maka menurut as-sunnah, ia harus masuk setelah salat subuh di awal hari-hari yang ia nadzarkan atau yang ia kehendaki (misalnya di hari ke dua puluh satu ramadhan). Dalam hadits Aisyah Radhiyallahu Anha dikatakan, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam i’tikaf disepuluh hari terakhir Ramadhan. Saya mendirikan gubuk kecil untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh, kemudian beliau memasuki gubuknya.

Adapun keluar dari i’tikaf adalah setelah fajar (setelah shalat shubuh) di hari ‘idul fitri untuk berangkat ke tanah lapang yaitu tempat melaksanakan salat idul fitri. (Buku Tuntunan Praktis Puasa Tarawih, I’tikaf, Lailatul Qadar dan Zakat Fitrah Pustaka Ibnu Umar)

16. MENGGUNAKAN PIL PENCEGAH HAID

PERTANYAAN: Apakah boleh menggunakan pil pencegah haid bagi perempuan pada bulan ramadhan?

JAWABAN: Menurut pendapat saya, menggunakan pil-pil ini baik bulan ramadhan maupun bulan lainnya dilarang, karena terbukti bagi saya dari keterangan para dokter bahwa pil-pil pencegah haid itu sangat membahayakan bagi perempuan dan setiap yang membahayakan hukumnya dilarang, karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam: Jangan ada yang membahayakan dan jangan ada yang saling membahayakan. (Fatawa Syaikh Ibn Al-Utsaimin)

17. HUKUM MEMANDANG WANITA TERUS MENERUS KEMUDIAN KELUAR MANI DAN HUKUM BERKHAYAL SEHINGGA KELUAR MANI

PERTANYAAN: Bagaimana hukum orang yang memandang wanita terus menerus sehingga keluar mani dan hukum berkhayal kemudian keluar mani?

JAWABAN: Memandang wanita secara terus menerus kemudian keluar mani maka puasanya rusak, namun jika memandang sekali pandang lalu keluar mani, maka puasanya tidak batal, karena keumuman sabda Rasulullah: Milikmu pandangan yang pertama dan bukan milikmu pandangan yang kedua. (HR. Abu Daud)

Adapun berkhayal kemudian keluar mani maka tidak batal, karena keumuman sabda Rasulullah: Sesungguhnya Allah memaafkan ummatku dari apa yang dikatakan hatinya selama ia tidak memperbuatnya atau memperbincangkannya. (HR. Al-Bukhari) [Sahih Fikih Wanita Karya Syaikh Ibnu Al-Utsaimin)

18. WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

PERTANYAAN: Wanita hamil dan menyusui dan tidak mampu berpuasa apakah wajib qadha atau hanya membayar fidyah?

JAWABAN: Ulama berbeda pendapat, 1. Qadha’ dan fidyah, ini pendapat Imam Malik, Imam Asy-Syafii dan Imam Ahmad. Namun menurut madzhab Syafii dan Hambali jika tidak puasa karena takut atas dirinya (bukan anaknya) maka hanya qadha’ 2. Qadha’ saja, ini pendapat Al-Auzai, Ats-Tsauri, Abu Hanifah beserta pengikutnya, Abu Tsaur, dan Abu Ubaid 3. Fidyah saja, ini pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ishaq dan dipilih syaikh Al-Albani 4. Qadha’ bagi wanita hamil dan fidyah bagi wanita menyusui, Ini pendapat Imam Malik dan disandarkan juga kepada Imam Asy-Syafii 5. Tidak ada qadha’ dan tidak ada fidyah, ini madzhab Ibnu Hazm.

Sebagian ulama kontemporer merajihkan pendapat ketiga yaitu hanya mengeluarkan fidyah (memberi makan satu orang miskin setiap kali dia meninggalkan puasa) seperti syaikh Abu Malik Kamal bin Sayid Salim dalam kitab sahih fikih sunnah, syaikh Abdul Adzim bin Badawi Al-Khalafi dalam kitab Al-Wajiz, dan syaikh Al-Albani. [Kitab Sahih Fikih Sunnah & Al-Wajiz]

19. TANDA-TANDA LAILATUL QADAR

PERTANYAAN: Apa tanda-tanda lailatul qadar?

JAWABAN: Lailatul qadar memiliki beberapa tanda diantaranya: 1. Pada malam itu cuaca sangat cerah, 2. Malam itu lebih bercahaya, 3. Seorang mukmin merasakan ketenangan dan kelapangan dada melebihi malam-malam lainnya. 4. Angin bertiup perlahan, 5. Terkadang Allah memperlihatkan lailatul qadar kepada seseorang lewat mimpinya, 6. Seseorang merasakan kelezatan dalam beribadah jauh melebihi apa yang dirasakannya pada malam-malam lainnya. [Sahih Fikih Wanita Karya Syaikh Ibnu Al-Utsaimin]

20. MELAFADZKAN NIAT PUASA

PERTANYAAN: Apakah niat puasa harus di lafadzkan?

JAWABAN: Imam Taqiyuddin Al-Hishni Asy-Syafii berkata: Tidak sah puasa kecuali dengan niat berdasarkan hadits Nabi, niat tempatnya di hati, tidak disyaratkan melafadzkannya dan tidak ada perselisihan ulama dalam hal ini, niat wajib dilaksanakan setiap malamnya. (Kitab Kifayatul Akhyar)

21. PENETAPAN LAILATUL QADAR

PERTANYAAN: Kapan lailatul qadar itu terjadi?

JAWABAN: Para ulama saling berbeda pendapat tentang penetapan lailatul qadar. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah menyebutkan empat puluh tujuh pendapat di dalam kitab fathul bari syarah sahih Al-Bukhari tentang lailatul qadar. Dia menyebutkan persekutuan (pendapat) antara yang samar-samar dan yang mendalam. Tapi dia menegaskan pendapat yang menyatakan pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir dari bulan ramadhan. Imam Ahmad Rahimahullah berkata: Yang paling diharapkan adalah malam dua puluh tujuh. Ini merupakan pendapat yang paling kuat dalilnya. (Kitab Taisirul ‘Allam Syarh Umdatil Ahkam)

22. PEMBATAL I’TIKAF

PERTANYAAN: Apa saja pembatal i’tikaf?

JAWABAN: Pembatal i’tikaf diantaranya adalah:

1. Keluar dari masjid untuk selain suatu keperluan darurat seperti buang hajat atau keluar mencari makan karena tidak mendapati makanan di masjid. Orang yang i’tikaf tidak boleh menjenguk orang sakit, salat jenazah diluar, bahkan itikaf dinilai batal sekalipun orang yang keluar ke masjid jami’ untuk shalat jumat karena dia i’tikaf di masjid yang tidak didirikan shalat jumat, maka dari itu para ulama menganjurkan i’tikaf di masjid yang didirikan shalat jumat.

2. Hubungan intim suami istri. Allah berfirman: Tetapi jangan kalian campuri mereka, ketika kalian beri’tikaf dalam masjid. (Al-Baqarah:187)

3. Hilang akal

4. Haid dan nifas bagi wanita, karena keduanya tidak boleh berdiam diri di masjid

5. Murtad

(Lihat Kitab Fikih Muyassar)

WALLAHU A’LAM. SEMOGA BERMANFAAT

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

 

Artikel:

alghurobasite.wordpress.com

Inilahfikih.com

 

 

2 Replies to “22 TANYA JAWAB SEPUTAR RAMADHAN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *