TANDA-TANDA LEMAHNYA IMAN

TANDA-TANDA LEMAHNYA IMAN
Sesungguhnya iman adalah amalan hati. Iman naik dan turun. Naiknya iman dengan ketaatan kepada Alloh. Dan lemahnya iman dengan bermaksiat kepada Alloh.

Berikut ini adalah ciri-ciri dari lemahnya iman;
1. Melakukuan kedurhakaan dan dosa

Tanda lemahnya iman adalah dengan banyaknya melakukan kedurhakaan dan dosa kepada Alloh. Serta dilakukan dengan sering dan terus menerus, sehingga dosa baik besar atau kecil yang dilakukan terus-menerus akan berubah menjadi kebiasaan. Sehingga lambat laun pelakunya akan berani berbuat terang-terangan sehingga menyebabkan hatinya keras membatu susah menerima kebenaran.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

2. Merasakan kekakuakan dan kerasnya hati.

Seorang yang lemah imannya akan merasakan kekakuan hati serta susahnya menerima nasehat kebenaran. Alloh ta’ala berfirman:
“kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (al-Baqoroh:74)

3. Tidak tekun dalam beribadah.

Gambarannya adalah seperti tidak khusu dan fokus ketika sholat, membaca al-Qur’an, berdoa dan berdzikir. Hatinya telah lalai dari mengingat Alloh. Dan menjadikan ibadah hanya sebuah rutinitas semata saja.

4. Malas untuk melakukan amal ketaatan serta meremehkannya.
Ibadah yang dilakukan seperti jasad tanpa ruh. Sering meremehkan waktu shalat, seringnya menunda-nunda kebaiklan dan mengakhirkannya. Sering meninggalkan amalan-amalan sunnah dan bahkan kadang berani meninggalkan yang wajib. Sebagaimana yang terjadi pada orang munafik.
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa: 142)

5. Dada yang merasa sesak, perubahan perangai, sehinggga seakan-akan seseorang merasakan beban berat yang menghimpitnya. Kelapanga hatinya sirna dan hilangnya kesabaran menghadapi permasalahn hidup. Sabda Rasululloh shallallahu alaihi wasallam:
“Iman itu kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah As-Shahihah)

6. Tidak tersentuh oleh ayat-ayat al-Qur’an, tidak takut akan ancaman dan kurang termotivasi terhadap janji Alloh dalam Al-Qur’an. Tidak adanya semangat untuk membaca dan menyimak bacaannya.

7. Melalaikan Alloh dalam berdzikir kepadaNya.

Sehingga berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat bagi dirinya, susah mengangkat tangan untuk berdoa, atau kalaupun berdoa maka ingin bercepat-cepat menyelesaikannya tanpa merasakan nikmat bermunajat kepadaNya.

8. Tidak merasa marah apabila melihat pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Alloh.

Sebab al-Ghiroh (kecemburuan) dalam hati telah padam, sehingga anggota tubuhnya tak mampu lagi mengingkari kemungkaran. Tidak mau menyuruh kepada yang ma’ruf dan tidak mau melarang dari yang munkar.

9. Gila hormat dan syuhroh (popularitas).

Gambarannya gila kedudukan, menginginkan agar tampil sebagai pemimpin dan orang yang menonjol. Tanpa dibarengi kemampuan bertanggung jawab.

10. Bakhil dan kikir.

Rasululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya. (HR. An-Nasai)

11. Mengatakan apa yang tidak diperbuatnya.

Alloh berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat.” (QS. As-Saff: 2-3)

Demikian beberapa tanda-tanda lemahnya iman, semoga kita bisa senantiasa mempertahankan keimanan kita dan meningkatkannya.

Sumber: Buku “Obat Lemahnya Iman karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzohulloh”

Artikel: www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *