Keabadian Surga, dan Bahwa Ia Tidak Fana dan Tidak Akan Berakhir

Keabadian Surga, dan Bahwa Ia Tidak Fana dan Tidak Akan Berakhir

Hal ini termasuk perkara yang dipastikan secara mendasar bahwa Rasulullah mengabarkannya.
Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang diberi kebahagiaan, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain; sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Hud: 108).

Allah menegaskan kekekalan ahli surga dengan kata abadi, selama-lamanya pada beberapa ayat dalam al-Qur’an. Allah mengabarkan bahwa mereka tidak merasakan kematian di dalamnya, kecuali kematian yang pertama, dan ini adalah pengecualian yang terputus, bila Anda menggabungkannya dengan pengecualian pada Firman Allah: “kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain,” maka Anda mengetahui maksud dari kedua ayat. Pengecualian waktu di mana pada saat itu mereka belum di surga dari masa kekekalan adalah seperti pengecualian kematian pertama dari seluruh kematian. Ini adalah kematian yang mendahului kehidupan mereka yang abadi, sedangkan pengecualian itu adalah perpisahan dengan surga yang mendahului kekekalan mereka di surga. Dan hanya Allah yang memberi taufik.

Dalam sabda Nabi  disebutkan,
“Barangsiapa masuk surga, dia mendapatkan kenikmatan dan tidak akan pernah sengsara, dia kekal dun tidak akan mati.” (HR. Muslim)

Seorang penyeru mengumumkan, ‘Wahai penduduk surga, kalian sehat dan tidak akan sakit selamanya; kalian terus muda dan tidak akan menjadi tua selamanya; kalian hidup dan tidak akan mati selamanya. (HR. Muslim)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi bahwa beliau bersabda,
”Kematian akan didatangkan dalam wujud domba hitam sedikit ada putihnya, lalu ia diberhentikan di antara surga dan neraka.
Kemudian diserukan, ‘Wahai penduduk surga!’ Maka mereka melihat dengan penuh kecemasan. Dan dikatakan, ‘Wahai penduduk neraka!‘ mereka melihat dengan bahagia. Maka dikatakan, ‘Apakah kalian mengetahui ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya, ia adalah kematian.’ Maka ia disembelih di antara surga dan neraka. Kemudian dikatakan, ‘Wahai penduduk surga, kekal tidak ada kematian, wahai penduduk neraka, kekal tidak ada kematian’. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sumber: Dikutip dari Buku Kemegahan & Keindahan Surga serta Para Penghuninya. Hlm134-136. Penulis: Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah. Diintisarikan oleh Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad. Cetakan: Keempat. Penerbit: Darul Haq

Www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *