Najiskah Nanah dan Cairan Luka Anggota Tubuh Manusia?

Najiskah Nanah dan Cairan Luka Anggota Tubuh Manusia?

Mayoritas ulama menghukuminya sebagaimana darah, yaitu najis. Namun jika ukurannya sedikit maka dimaafkan. Apabila darah manusia itu najis menurut mayoritas ulama, lebih-lebih jika berupa cairan luka tubuh manusia atau nanah.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, “Para ulama sepakat bahwa nanah ketika keluar dari badan manusia, hukumnya najis. Karena nanah termasuk benda menjijikkan. Allah berfirman, “Dia yaitu Muhammad mengharamkan segala hal yang menjijikkan.(QS Al-A’raf: 157). ” Sementara tabiat manusia yang masih baik, merasa jijik dengan nanah. Larangan haramnya sesuatu padahal bukan karena itu haram atau membahayakan jika dikonsumsi, menunjukkan bahwa itu diharamkan karena najis. Karena unsur najis, ada dalam cairan nanah. Karena, kata najis adalah nama untuk menyebut setiap yang menjijikkan. Dan orang yang tabiatnya sehat, menganggap jijik nanah, karena sudah berubah menjadi busuk. Juga karena nanah itu turunan dari darah. Sementara darah itu najis. (Lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah).

Ada sebagian ulama di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, nanah tidak najis. Karena tidak ada dalil najisnya nanah. Beliau mengatakan,

لا يجب غُسل الثوبِ والجسد من المِدَّة والقيح والصديد ، ولم يقم دليلٌ على نجاسته

“Tidak wajib mencuci pakaian dan badan yang terkena nanah. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa itu najis.” (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 26)

Wallahu a’lam

@inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *