KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Noktah Hitam di Malam Tahun Baru
Ada satu momen berharga yang sangat dinantikan dan di idam-idamkan oleh banyak manusia di belahan dunia, bahkan sebagian kaum Muslimin pun ikut menantikan-nya. Apa peristiwa itu? Ia adalah pergantian tahun baru.Mereka menyambutnya dengan berbagai macam acara seperti, begadang semalan suntuk untuk menunggu pukul 00.00 tiba, kemudian meniup terompet secara serentak, pesta kembang api, menyalakan petasan, memainkan alat-alat musik dan lain sebagainya.
Begitu meriah acara yang digelar untuk merayakan tahun baru. Banyak orang terbuai, terlena, ikut terhanyut gelombang kemungkaran yang timbul karenanya. Fenomena ini merupakan keterpurukan ummat yang senantiasa berulang setiap tahunnya.da satu momen berharga yang sangat dinantikan dan di idam-idamkan oleh banyak manusia di belahan dunia, bahkan sebagian kaum Muslimin pun ikut menantikan-nya. Apa peristiwa itu? Ia adalah pergantian tahun baru.Mereka menyambutnya dengan berbagai macam acara seperti, begadang semalan suntuk untuk menunggu pukul 00.00 tiba, kemudian meniup terompet secara serentak, pesta kembang api, menyalakan petasan, memainkan alat-alat musik dan lain sebagainya.
Ada beberapa noktah hitam atau kemungkaran di malam tahun baru, di antaranya sebagai berikut;
Orang-orang kafir menjadikan tanggal 1 Januari sebagai tahun baru. Mereka bersuka cita dan gembira merayakan pergantian tahun. Jika umat Islam mengikuti mereka berarti telah menyerupai mereka dan melakukan petaka besar yang berakibat menuai dosa. Nabi bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Ahmad)
Umat Islam hanya memiliki dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan idul Adha. Pada dua hari raya inilah mereka bergembira, bersuka cita, dan merayakannya. Dari sahabat Anas bin Malik , beliau berkata, “Saat Rosululloh datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari besar untuk bermain-bermain. Lalu beliau bertanya, ‘Dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah.’ Lantas beliau bersabda, ‘Sesungguh-nya Allah Ta’ala telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) Idul Adha dan Idul Fitri.’” (HR. Abu Dawud)
Pada malam tahun baru banyak wanita dewasa yang keluar dari rumah mereka untuk merayakan tahun baru. Bahkan, remaja putri pun tak tertinggal untuk ber-partisipasi merayakan acara yang dipenuhi dengan sejuta maksiat ini.
Mereka berpenampilan cantik, mengena-kan parfum yang aromanya mampu me-mikat lawan jenis, mengenakan pakaian tipis dan ketat serta membiarkan sebagian tubuh-nya terbuka, melenggak-lenggok ketika berjalan. Padahal Alloh berfirman:
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al-Ahzab [53]: 33)
Rosululloh bersabda : “Wanita mana saja yang memakai minyak wangi, kemu-dian keluar melewati laki-laki agar mereka mencium baunya maka dia adalah pezina.” (HR. Abu Dawud dan An- Nasa’i).
Rosululloh juga bersabda:”Ada dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu….dan wanita yang berpa-kaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (HR. Muslim)
Pemandangan yang sering kita jumpai pada malam tahun baru adalah pria dan wanita duduk berduaan di tempat yang sunyi, bercanda-ria dengan gelak tawa di antara mereka, bahkan sampai terjerumus kepada perbuatan zina. Na’udzu billah min dzalik.
Rosululloh bersabda :
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka janganlah ia berkholwat dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi yang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)
Berkata Al-Munawi :”Yaitu syaitan menjadi penengah (orang ketiga) diantara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadi-kan syahwat mereka berdua bergejolak serta menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di hadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitanpun menyatu-kan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinaan.”
Milyaran uang kaum Muslimin terbuang sia-sia untuk merayakan tahun baru. Ke- kurang pahaman mereka terhadap Islam yang murni menjadikan mereka rela merogoh saku untuk membeli terompet, petasan, kembang api, makanan, alat musik, dan lain-lain, yang semua itu di sisi Alloh adalah sia-sia bahkan mereka akan ditanya oleh Alloh , kemana mereka membelanjakan harta bendanya.
Kita tahu bahwa membelanjakan harta untuk perayaan tahun baru merupakan sikap menghambur-hamburkan harta, dan hal ini dilarang oleh Alloh .
Alloh telah berfirman (yang artinya) : “Dan janganlah kamu menghambur-hambur kan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isro’ [17]: 26-27)
Qotadah berkata : “Tabdzir (meng-hambur- hamburkan harta) adalah mem-belanjakan harta dalam rangka bermaksiat kepada Alloh, bukan pada jalan haq, dan guna membuat kerusakan.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Perayaan tahun baru sangat membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah ber-harga, setiap waktu yang hilang tidak akan bisa kembali lagi. Orang yang berakal mengetahui bahwa dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat.
Mereka tahu bahwa dunia adalah waktu untuk bercocok tanam sedangkan akhirat waktu untuk memanen. Mereka bekerja keras dan optimal melakukan berbagai aktivitas amal sholih. Sebab mereka tahu bahwa di akhirat kelak mereka akan memetik buah dari amal sholih, yaitu pahala. Maka merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu.
Ibnu Mas’ud pernah berkata:
“Tidaklah pernah aku menyesal seperti penyesalanku terhadap hari terbenamnya
matahari , di mana umurku berkurang sedangkan aku tidak menambah amalku.”
Hasan al-Bashri pernah berkata: “Wahai anak cucu adam, Anda hanyalah himpunan hari-hari. Bila satu hari lewat berarti hilanglah sebagianmu dan bila sebagian hari telah pergi maka tidak lama semuanya akan pergi (mati). Anda tahu hal ini maka beramallah.”
Ibnul Qoyyim menjelaskan, ”Menyia- nyiakan waktu lebih besar masalahnya dari-pada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Alloh dan kampung akhirat, sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penghuni-nya.” (al-Fawa‘id, hal 33)
Sebagian orang rela begadang semalam suntuk dengan tujuan untuk menunggu saat-saat pergantian tahun. Sungguh, semua itu tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hal itu merupakan kesia-siaan belaka.
Diriwayatkan dari Abi Barzah , beliau berkata:,“Rosululloh membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan mengobrol setelahnya (tanpa ada keperluan).” (HR. al-Bukhori)
Begadang pada malam tahun baru acap kali menjadi sarana untuk memperbincang-kan keburukan orang lain. Lisan-lisan mereka dengan ringanya merendahkan kehormatan saudara mereka sendiri. Padahal, perbuatan ini termasuk dosa besar. Pada hari kiamat pelaku gosip akan mendapatkan siksa yang dahsyat, apabila mereka tidak bertaubat kepada Alloh .
Demikianlah, diantara noktah hitam kemaksiatan di malam tahun baru. Padahal mereka sendiri megklaim harus memulai tahun baru dengan kebaikan dan hal positif.
Wallahu A’lam.
Sumber:
(Disalin dari Buletin As-Silmi Bogor)
Artikel:
www.inilahfikih.com