SHOLAT TAHAJUD

SHOLAT TAHAJUD

Pengertian:

Tahajud secara bahasa dari kata hajada-hujudan artinya adalah tidur dan juga arti kebalikannya yaitu bergadang. Tahajud menurut bahasa juga maknanya sholat yang dilaksanakan pada malam hari di saat manusia sedang tidur.

Secara istilah menurut Imam Al-Jasshos rahimahullloh tahajud adalah sholat sunnah (tathowwu’) yang dilaksanakan setelah tidur. Abu Bakar Ibnu Arobi al-Maliki rahimahullloh mengatakan bahwa makna tahajjud menurut ulama terdapat tiga pendapat.

Pertama, yang merupakan pendapat ulama tabi’in bahwa tahajud adalah sholat yang dilakukan setelah bangun tidur kemudian sholat (tahajud) kemudian tidur lagi kemudian sholat (sholat subuh) lagi.

Kedua, merupakan pendapat Malikiyah, menyatakan bahwa sholat tahajud adalah sholat yang dilakukan setelah tidur.

Ketiga, maknanya adalah sholat yang dilakukan setelah sholat isya.

Sholat tahajjud pada dasarnya semakna dengan qiyamullail (mendirikan malam) dan ihya’ullail (menghidupkan malam). Sebagian ulama membedakannya bahwa tahajud dilaksanakan setelah tidur sedangkan qiyamullail sebelum tidur atau setelah tidur. Sebagian ulama tidak membedakan antara sholat tahajud, sholat malam, sholat tarawih, dan sholat witir. Karena semuanya masuk kategori qiyamullail.

Hukum Sholat Tahajud:

Sholat tahajud hukumnya sunnah (nafilah) bagi ummat Rosulullloh sholallohu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana Firman Alloh ta’ala:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isro: 79)

Sedangkan bagi Rosululloh tahajjud adalah kewajiban tambahan sebagaimana beliau senantiasa membiasakannya dan mengqodhonya ketika tertinggal.

Keutamaan Sholat Tahajud:

1. Ibadah tambahan bagi kaum Muslimin dan kewajiban bagi Nabi sebagaimana dalil di atas.
2. Mendapatkan kebaikan dan ampunan Alloh.

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ17 وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ 18

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)
3. Orang yang melakukan shalat malam dijanjikan surga dan selamat dari adzab neraka. Dari Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ! أَفْشُوا اَلسَّلَام, وَصِلُوا اَلْأَرْحَامَ, وَأَطْعِمُوا اَلطَّعَامَ, وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ, تَدْخُلُوا اَلْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah tali silturahmi (dengan kerabat), berilah makan (kepada istri dan kepada orang miskin), shalatlah di waktu malam sedangkan manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR. Tirmidzi no. 2485 dan Ibnu Majah no. 1334)
4. Sholat malam adalah sholat sunnah terbaik setelah sholat wajib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
5. Sholat malam adalah kebiasaan orang-orang sholeh sejak dahulu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ

“Lakukanlah shalat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” [HR. Tirmidzi, Hadist hasan]

Waktu pelaksanaan:

Sebagaimana dalam pengertian di atas bahwa sholat tahajud adalah sholat yang dilaksnakan setelah tidur. Maka sebagian ulama membolehkannya setelah bangun tidur, adapun sebagian lain tidak mensyaratkan tidur dan boleh dilaksanakan setelah isya sampai sebelum waktu sholat subuh. Akan tetapi yang utama adalah dilaksanakan di sepertiga malam terakhir setelah bangun tidur.
‘Aisyah pernah ditanya mengenai shalat malam yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ ، فَيُصَلِّى ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ ، وَإِلاَّ تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).” (HR. Al-Bukhori)

Jumlah Roka’at Sholat Tahajjud:

Para ulama sepakat bahwa jumlah roka’at sholat tahajjud paling sedikit adalah dua roka’at. Akan tetapi mereka berselisih pendapat mengenai batasan terbanyaknya. Menurut Hanafiyah delapan roka’at selain witir, sedang menurut Malikiyah batas maksimalnya 10 atau 12 roka’at selain witir. Berdalil dengan perbuatan Rosululloh biasa melakukannya 11 roka’at dengan witir atau 13 roka’at beserta witir. Tapi ini bukan dalil pembatasan menurut pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah. Bahkan menurut mereka jumlah roka’at tahajud tidaklah terbatas. Artinya boleh mengerjakan berapa saja sesuai kemampuan, apakah 11, 13, 21, atau 23 roka’at.

Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Referensi:
1. Mausu’ah Quwaiytiyyah
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

Penyusun: Salman Yudi Aris D., S.Ud., Lc.

Editor: Abul Fata Miftah, S. Ud; Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *