Kondisi Ulama Salaf Ketika Tertinggal Dari Shalat Berjamaah

Kondisi Ulama Salaf Ketika Tertinggal Dari Shalat Berjamaah

Shalat berjamaah pertama kali disyariatkan dan dilakukan secara terbuka terjadi di kota madinah. Diantara hikmahnya adalah untuk menguatkan ikatan persaudaraan antar sesama jamaah, maka dari itu disyariatkan pelaksanaannya di masjid agar sesama jamaah yang saling bertetangga bisa bertemu disaat waktu shalat.

Shalat Berjamaah merupakan ciri khusus ummat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Shalat berjamaah lebih utama dengan mendapatkan pahala 27 derajat atau 25 derajat dibandingkan shalat sendirian.

Sehingga para ulama salaf begitu antusias dalam menjalankan serta menjaga shalat berjamaah.

Terus bagaimana kondisi para ulama salaf ketika dirinya tertinggal shalat berjamaah?

Dikisahkan oleh syaikh Asy-Sya’roni Asy-Syafii rahimahullah, dahulu orang-orang salaf menganggap bahwa meninggalkan shalat berjamaah sebagai musibah.

Dikisahkan pula, dahulu ada seseorang yang sedang sibuk mengurus kebun kurmanya, kemudian dia pulang ke rumahnya (karena waktu shalat telah tiba) dan ternyata dia menjumpai orang-orang sudah melaksanakan shalat ashar berjamaah. Berkatalah dia: “Saya tertinggal dari shalat berjamaah, saksikanlah sesungguhnya kebun kurmaku akan aku sedekahkan untuk orang-orang miskin.”

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu pernah tertinggal dari shalat isya’ berjamaah, akhirnya beliau shalat isya pada malam itu hingga muncul fajar.

Ubaidillah bin Umar Al-Qowariri rahimahullah pernah tertinggal dari shalat berjamaah karena sibuk menemui tamu, waktu itu (ketika selesai menemui tamu) beliau keluar rumah untuk shalat berjamaah di masjid, ternyata di semua masjid sudah dilakukan shalat berjamaah bahkan pintunya sudah ditutup. Akhirnya beliau pulang dan berkata: “Aku tahu ada hadis yang menyebutkan bahwa shalat berjamaah pahalanya 27 derajat dibandingkan shalat sendiri.” Akhirnya beliau shalat isya sendirian 27 kali. Kemudian beliau tidur dan ternyata bermimpi sedang menunggangi kuda dan di depannya ada rombongan kaum yang juga menunggangi kuda. Dalam perjalanannya beliau tidak bisa mendahului rombongan tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menengok dan berkata: “Kudamu kelelahan, tidak bisa mengejar kami.” Beliau menjawab: “Tidak wahai saudaraku”. Orang tadi berkata lagi: “Karena kami shalat berjamaah sedangkan kamu shalat sendirian”. Akhirnya beliau terbangun dari tidurnya dalam keadaan sangat bersedih.

Dahulu para salaf mengatakan, tidaklah seseorang meninggalkan shalat berjamaah kecuali disebabkan dosa yang menimpanya.

Dahulu para salaf menghibur diri (dari kesedihan) selama 7 hari ketika meninggalkan shalat berjamaah dan menghibur diri (dari kesedihan) selama 3 hari ketika tertinggal takbir pertama bersama imam.

Inilah kondisi para salaf ketika meninggalkan shalat berjamaah. Bagaimana dengan kita? Semoga Allah memudahkan kita untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid.

 

Akhukum Fillah:

Abul Fata Miftah, Lc

 

Sumber:

(Diringkas Dari Kitab I’anatuth Thalibin Karya Syaikh Abu Bakar Ibn Muhammad Syatho Ad-Dimyathi Asy-Syafii rahimahullah Dalam Bab Shalat Berjamaah)

 

Artikel:

www.inilahfikih.com

Spongsored by:

www.toko.inilahfikih.com

 

Share !! Semoga mendapatkan pahalanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *