KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
KEUTAMAAN AKHLAK ROSULULLOH SHOLLALLAHU ALAIHI WASALLAM
Rosululloh shallallahu alaihi wasallam adalah sosok makhluk yang utama bahkan keutamaannya tidak terbandingi oleh siapapun diantara makhluk Alloh. Banyak sekali nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan keutamaan akhlak mulia yang dimiliki Rasululloh shallallahu alaihi wasallam ini. Diantaranya:
Hadits ini menunjukkan bahwa sebenarnya akhlak terpuji sudah ada sejak zaman jahiliyah, seperti; memuliakan tamu dan syaja’ah (keberanian).
Ketawadhuan Rosululloh saw sangat luar biasa, hal itu bisa dilihat dalam kehidupan sehari-harinya, tidak ada sedikitpun kesombongan tampak pada diri dan hatinya padahal beliau adalah makhluk Alloh swt yang paling mulia. Ketikapun beliau shallallahu alaihi wasallam menyebutkan dirinya adalah manusia paling mulia dan menyebut-kan keutamaan-keutamaannya maka hal itu hanya sebatas untuk menerangkan hakekat kedudukannya pada manusia yang lain yang tidak didasarkan atas kesombongan. Perhatikanlah hadits berikut: “Dari Abu Sa’id ra: Rosululloh saw bersabda: Aku adalah penghulu anak Adam pada hari kiamat tanpa berbangga diri, ditanganku bendera pujian tanpa berbangga, tidak ada seorang Nabi pun termasuk Adam as kecuali berada di bawah benderaku dan aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari dalam kubur tanpa berbangga.” (HR. Tirmidzi).
Dari hadits ini jelas sekali akan tawa-dhuan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam, beliau setiap kali mene-rangkan keutamaan dirinya selalu menjelaskan juga bahwa keterangan itu bukan untuk membanggakan diri akan tetapi sekedar informasi bahwa itulah karunia Alloh swt yang diberikan kepadanya.
Ini adalah salah satu sifat Rosululloh shallallahu alaihi wasallam yang sangat terpuji. Dan seorang Muslim harus bertawadhu dengan tidak merendahkan maupun menghinakan diri. Tawadhu adalah sifat luhur, sementara kesombongan atau takabbur bukan termasuk akhlaknya dan tidak mungkin bersanding dengannya. Seorang Muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat ini agar dimuliakan oleh Alloh swt, sebab su-dah menjadi sunnah Alloh swt untuk memu-liakan orang-orang yang bertawadhu karena-nya serta merendahkan orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya. Rosululloh saw bersabda: “Dari Abu Hurairoh ra, dari Rosululloh shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: Sodakoh itu tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Alloh menambah seorang hamba yang pema-af kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang bertawadhu karena Alloh kecuali Dia mening-gikannya.” (HR. Muslim).
Dan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang sombong pada hari kiamat akan digi-ring seperti benda kecil dalam bentuk seorang lelaki yang diliputi kehinaan dari segala penjuru, digiring memasuki penjara di dalam neraka jahannam yang namanya “penjara bulas” diliputi api yang paling panas dan diberi mi-num dari kotoran penghuni neraka yang sangat busuk.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hadits ini hasan sohih).
Seorang Muslim dikala telinga dan hatinya mendengar kabar yang maha benar ini dari Alloh dan Rosul-Nya shallallahu alaihi wasallam tentang pujian bagi orang-orang yang sangat tawadhu dan tentang celaan bagi orang-orang yang sangat sombong, yang satu memerintahkan tawadhu dan yang lain melarang kesombongan, maka bagaimana mungkin ia tidak menjauhi kesombongan dan tidak membencinya. Secara langsung Alloh swt pun memerintahkan Rosul-Nya untuk bertawadhu, Alloh swt berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. As-Syuara: 215).
Dalam Surat Al Isro: 37, Alloh swt ber-firman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”. (QS. Al-Isro’: 37).
Alloh swt juga berfirman memuji sifat tawadhu para kekasih-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Alloh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54).
Alloh berfirman tentang balasan bagi orang yang bertawadhu: “Negeri akhirat [Surga] itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qosos: 83).
Rosululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda di dalam perintah tawadhu: “Sesungguhnya Alloh telah mewahyukan kepadaku agar kamu sekalian saling bertawadhu, sehingga tidak seorangpun menyombongkan diri atas yang lain dan tidak ada seorangpun yang melampaui batas yang lain.” (HR. Muslim).
Ketawadhuan Rosululloh shallallahu alaihi wasallam pun sangat tampak ketika beliau tidak pernah menolak untuk menerima undangan makan dan hadiah meskipun hanya sekedar tulang hasta ataupun tulang betis. Rosululloh saw bersabda: “Jika aku diundang kepada satu tulang hasta atau tulang betis pasti aku datangi, dan jika aku dihadiahi tulang hasta atau tulang betis pasti aku terima.” (HR. Bukhori).
Rosululloh saw bersabda ketika memperingatkan takabbur: “Maukah aku kabarkan tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang bengis, suka bersuara keras dan sombong .” (HR Bukhori dan Muslim).
Semoga Alloh senantiasa mencurahkan nikmat-Nya kepada kita dalam dakwah kemurnian ini. Allohu Ta’ala A’lam
Sumber:
(Diambil dari Buletin As-Silmi Bogor)
Artikel:
www.inilahfikih.com