BEGINILAH RASULULLAH MENGAJARKAN ADAB BUANG HAJAT

BEGINILAH RASULULLAH MENGAJARKAN ADAB BUANG HAJAT

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian. ” (HR. Ath-Thabrani)

Islam agama yang sempurna, Islam telah mengajarkan segala urusan ummat manusia, bukan hanya urusan ibadah atau akidah, akan tetapi Islam pun mengajarkan semua interaksi manusia dari ia bangun tidur hingga tidur kembali.

Diantara perkara yang dijarkan oleh Islam adalah urusan buang hajat. Rasulullah shallallahu alaihi wasalam telah mengajarkannya tentang adab buang hajat sebagaimana tercantum dalam hadits-haditsnya.

Berikut adab buang hajat yang diajarkan rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

1. Menjauhkan tulisan atau ucapan yang mengandung lafadz Allah ketika masuk toilet

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ )  أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ وَهُوَ مَعْلُول

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila masuk kakus (WC) beliau menanggalkan cincinnya. [Diriwayatkan oleh Imam Empat tetapi dianggap ma’lul].

Imam Ash-Shon’ani rahimahullah mengatakan, para ulama berdalil dengan hadits ini tentang keharusan
menjauhkan segala hal yang mengandung lafadz Allah ketika masuk toilet.

2. Membaca doa ketika hendak masuk dan saat keluar toilet

عن أنس بن مالك قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ قَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ ). أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَة

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila masuk kakus beliau berdo’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hal-hal yang keji dan kotor.” [Dikeluarkan oleh Imam Tujuh]

Dan saat keluar membaca:

غُفْرَانَكَ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sudah keluar dari kamar kecil beliau membaca: Ghufraanaka.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa, no. 52)

3. Hindari buang hajat di jalan umum dan tempat berteduh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِتَّقُوا اَللَّاعِنِينَ: اَلَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ اَلنَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ )  رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh.” [Riwayat Imam Muslim].

4. Membersihkan kotoran dengan tangan kiri

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ ). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing jangan membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan dan jangan pula bernafas dalam tempat air.” [Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim].

5. Hindari menghadap kiblat

وَعَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: (لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم “أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ”). رَوَاهُ مُسْلِم

وَلِلسَّبْعَةِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه ( لَا تَسْتَقْبِلُوا اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّب )

Salman Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil atau ber-istinja’ (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan atau beristinja’ dengan batu kurang dari tiga biji atau beristinja’ dengan kotoran hewan atau dengan tulang. [Hadits riwayat Muslim].

Hadits menurut Imam Tujuh dari Abu Ayyub Al-Anshari Radliyallaahu ‘anhu berbunyi: “Janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”

6. Membuat penutup, jangan biarkan aurat terlihat (bagi yang buang hajat di tempat terbuka).

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَتَى اَلْغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang hendak buang air hendaklah ia membuat penutup.” [Riwayat Abu Dawud].

7. Anjuran membersihkan kotoran dengan 3 buah batu dan dilarang membersihkan dengan benda najis dan tulang

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: (أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: “هَذَا رِكْسٌ”)  أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ائْتِنِي بِغَيْرِهَا

Ibnu Mas’u d Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: “Ini kotoran menjijikkan.” [Diriwayatkan oleh Al- Bukhari]. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: “Ambilkan aku yang lain.”

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى “أَنْ يُسْتَنْجَى بِعَظْمٍ أَوْ رَوْثٍ” وَقَالَ: “إِنَّهُمَا لَا يُطَهِّرَانِ” )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَه

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang untuk beristinja’ dengan tulang atau kotoran binatang dan bersabda: “Keduanya tidak dapat mensucikan.” [Riwayat Daruquthni dan hadits ini dinilai shahih]

8. Pastikan anggota tubuh telah bersih dari najis dan jangan meremehkannya

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ )  رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ

وَلِلْحَاكِمِ: ( أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ اَلْبَوْلِ )  وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَاد

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya.” [Riwayat Daruquthni].

Menurut riwayat Hakim: “Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing.”[ Hadits ini sanadnya shahih].

وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ )  رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ ضَعِيف

Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali.” [Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang lemah].

Dan masih ada beberapa adab lainnya dalam buang hajat seperti mendahulukan kaki kiri ketika masuk toilet, dilarang buang hajat di air yang tidak mengalir dan lain sebagainya.

Sebagai pelengkap mari kita simak pemaparan Imam Al-Qodhi Abu Syuja’ Asy-Syafii rahimahullah dalam kitab Matan Abu Syuja’:

والاستنجاء واجب من البول والغائط والأفضل أن يستنجي بالأحجار ثم يتبعها بالماء ويجوز أن يقتصر على الماء أو على ثلاثة أحجار ينقي بهن المحل فإذا أراد الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل. ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء ويجتنب البول والغائط في الماء الراكد وتحت الشجرة المثمرة وفي الطريق والظل والثقب ولا يتكلم على البول ولا يستقبل الشمس والقمر ولا يستدبرهما

Artinya: “Instinja’ (cebok) atau membersihkan diri itu wajib setelah buang air kecil (kencing) dan buang air besar (BAB). Yang utama adalah bersuci dengan memakai beberapa batu kemudian dengan air. Boleh bersuci dengan air saja atau dengan 3 (tiga) buah batu yang dapat membersihkan tempat najis. Apabila hendak memakai salah satu dari dua cara, maka memakai air lebih utama. Orang yang sedang buang air besar (BAB) hendaknya tidak menghadap kiblat dan tidak membelakanginya apabila dalam tempat terbuka. Kencing atau BAB hendaknya tidak dilakukan di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah, di jalan, di tempat bernaung, di lobang. Dan hendaknya tidak berbicara saat kencing dan tidak menghadap matahari dan bulan dan tidak membelakangi keduanya. ”

Semoga bermanfaat.

@Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *