HUKUM TAKBIRAN PADA HARI RAYA DAN SIFAT BACAANNYA 

HUKUM TAKBIRAN PADA HARI RAYA DAN SIFAT BACAANNYA 

Allah ta’ala berfirman:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

“Dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya. (QS. Al-Baqarah: 185)

Dengan ayat ini mayoritas ulama mensunnahkan bertakbir pada hari raya idul fitri, bahkan Imam Dawud Adz-dzahiri rahimahullah mengatakan wajib berdasarkan dzohir ayat di atas. Sedangkan Imam Abu Hanifah rahimahullah berpendapat tidak disyariatkannya bertakbir (pada hari raya idul fitri). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Kapan Takbiran Dilakukan?

Waktu pelaksanaan takbir pada hari raya idul fitri para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengatakan bahwa takbir dimulai dari terbenamnya matahari pada malam hari raya idul fitri sampai sebelum dilaksanakannya shalat id. Adapun sebagian ulama berpendapat bahwa takbir dianjurkan ketika seseorang keluar menuju lapangan sampai sebelum dilaksanakan shalat id.

Untuk takbir hari raya idul adha pun ulama berbeda pendapat, sebagian ulama mengatakan, bertakbir sudah bisa dilakukan dari habis subuh hari arafah hingga shalat ashar hari terakhir dari hari tasyriq (yaitu tanggal 13 dzulhijjah – pada hari tasyrik takbir dilakukan setiap selesai salat 5 waktu-), sebagian ulama mengatakan bahwa takbir dilakukan sejak selesai salat dzuhur hingga shalat ashar hari terakhir dari hari tasyriq (yaitu tanggal 13 dzulhijjah – pada hari tasyrik takbir dilakukan setiap selesai salat 5 waktu-). Dan sebagian ulama lainnya berpendapat dilakukan seperti hari raya idul fitri yaitu dari terbenam matahari hingga hari terakhir pada hari tasyrik (pada salat asar).

Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Mughni:

وَجُمْلَتُهُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلنَّاسِ إظْهَارُ التَّكْبِيرِ فِي لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ فِي مَسَاجِدِهِمْ وَمَنَازِلِهِمْ وَطُرُقِهِمْ، مُسَافِرِينَ كَانُوا أَوْ مُقِيمِينَ، لِظَاهِرِ الْآيَةِ الْمَذْكُورَةِ

“Secara umum, dianjurkan bagi umat Islam menampakkan (mengeraskan) takbir pada malam-malam hari raya di masjid, rumah, jalan, baik bagi yang musafir (bepergian) maupun yang dirumah berdasarkan dzohir ayat (Al-Baqarah ayat 185). ”

ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى، يَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ، وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ، حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا. قَالَ أَحْمَدُ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُعْجِبُنَا ذَلِكَ

“Ibnu Umar bertakbir dikubahnya yang berada di Mina hingga terdengar jamaah masjid dan merekapun ikut bertakbir serta orang-orang di pasar pun mengikutinya sampai-sampai kota Mina dipenuhi dengan gema takbir. Imam Ahmad berkata, dahulu Ibnu Umar bertakbir pada dua hari raya dan kami merasa bangga (senang) dengan perkara itu.”

وَقَالَ أَبُو الْخَطَّابِ: يُكَبِّرُ مِنْ غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ لَيْلَةِ الْفِطْرِ إلَى خُرُوجِ الْإِمَامِ إلَى الصَّلَاةِ، فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ. وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ

Abul Khaththab rahimahullah berkata: “Takbir dilakukan semenjak terbenamnya matahari pada malam hari raya idul fitri hingga imam keluar menuju tanah lapang (untuk shalat id) dalam salah satu riwayat (pendapatnya) dan ini adalah Imam Asy-Syafii. ”

Bagaimana Sifat Bacaan Takbir?

Bacaan ketika takbiran secara teks sesungguhnya tidak ada dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sehingga para ulama pun dalam menentukan teks bacaan takbir memiliki beberap pendapat. Sebagian ulama merujuk pada atsar (ucapan) sahabat Nabi (itupun sebagian ulama mempermasalahkan kesahihannya) dan sebagian ulama lainnya merujuk pada perbuatan Nabi secara umum (seperti ucapan Nabi saat di bukit shafa -InsyaAllah sebentar lagi kita singgung masalah ini-) .

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah mencantumkan beberapa teks bacaan takbir dalam kitabnya Al-Adzkar, beliau membuat bab: “Bacaan takbir yang disyariatkan pada dua hari raya”,

Pertama:

اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ‏

Kedua:

اللّه أكْبَرُ كَبيراً، والحَمْدُ لِلَّهِ كَثيراً، وَسُبْحانَ اللَّهِ بُكْرَةً وأصِيلاً، لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَلا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدينَ وَلَوْ كَرِهَ الكافِرُون، لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأحْزَابَ وَحْدَهُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللّه واللَّهُ أكْبَرُ‏

Ketiga:

اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ، واللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُ أكْبَرُ ولِلَّهِ الحَمْدُ‏

Beliau (Imam An-Nawawi Asy-Syafii) rahimahullah juga menyebutkan teks bacaan takbir dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab:

اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

merujuk pada perbuatan Nabi shalallahu alaihi wasallam,

لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذلك على الصفا

“Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam mengucapkannya di atas bukit shafa. ”

Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rahimahullah membuat bab dalam kitabnya Al-Mughni, bab: “Sifat (bentuk bacaan) takbir pada dua hari raya. ”

Beliau rahimahullah berkata:

وَصِفَةُ التَّكْبِيرِ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. وَهَذَا قَوْلُ عُمَرَ، وَعَلِيٍّ، وَابْنِ مَسْعُودٍ. وَبِهِ قَالَ الثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَإِسْحَاقُ، وَابْنُ الْمُبَارَكِ، إلَّا أَنَّهُ زَادَ: عَلَى مَا هَدَانَا. لِقَوْلِهِ: {لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ} .الحج: 37
وَقَالَ مَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ، يَقُول: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثَلَاثًا؛ لِأَنَّ جَابِرًا صَلَّى فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ.

Sifat (bacaan) takbir adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

(Lafadz الله أكبر dibaca 2 kali)

Ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ali, Ibnu Mas’ud. Dan inilah yang menjadi pendapat Imam Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Ishaq dan Abdullah Ibnul Mubarok, hanya saja ditambah lafadz:

عَلَى مَا هَدَانَا

merujuk pada ayat:

لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ

“Supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. ” (Al-Hajj: 37)

Adapun Imam Malik dan Imam Asy-Syafii  rahimahullah berpendapat bahwa sifat (bacaan) takbir adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

(lafadz الله أكبر dibaca 3 kali- kemudian bacaan selanjutnya sama seperti pendapat ulama lainnya sehingga bacaan sempurnanya:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

karena sahabat Jabir radhiyallahu anhu pernah salat pada hari tasyrik dan setelah selesai salat mengucapakan:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

(lafadz الله أكبر dibaca 3 kali).

Bagi kami, silahkan ambil salah satu pendapat atau bisa mengamalkan semua pendapat tersebut. Wallahu a’lam

Oleh:

Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *