PANDANGAN BAPAK JALALUDDIN RAKHMAT (TOKOH BESAR SYIAH INDONESIA) TERHADAP SAHABAT NABI DAN TANGGAPANNYA

PANDANGAN BAPAK JALALUDDIN RAKHMAT (TOKOH BESAR SYIAH INDONESIA) TERHADAP SAHABAT NABI DAN TANGGAPANNYA

Bisa disimak dengan baik vidio tersebut, vidio di upload oleh channel resmi milik syiah Bandung “Misykat TV”, misykat ini juga merupakan salah satu nama situs web syiah Bandung.

TANGGAPAN KAMI (AHLUS SUNNAH):

Ada 2 point yang kami soroti dari vidio di atas:

PERTAMA:

Dia (Bapak Jalaluddin Rakhmat) mengatakan “Saya ini termasuk dahulu itu pengagum sahabat Nabi”

Dengan jelas dia katakan, dahulu ia pengagum sahabat Nabi, artinya sekarang ia sudah berbalik arah atau bisa dikatakan tidak kagum lagi dengan sahabat Nabi.

Ini menjadi bukti bahwa pandangan syiah terhadap sahabat Nabi bertentangan dengan pandangan Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana demikian? Karena Allah dan rasul-Nya kagum dengan sahabat Nabi bahkan memujinya di dalam banyak ayat dan Hadits.

Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. ” (QS. Al-Fath: 29)

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجٰهَدُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوٰلِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
(QS. At-Taubah: 20)

لقَدْ رَضِىَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,”
(QS. Al-Fath Ayat 18).

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرٰثُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِى مِنْكُمْ مَّنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقٰتَلَ ۚ أُولٰٓئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنۢ بَعْدُ وَقٰتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنٰى ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid Ayat 10).

Dan masih banyak ayat yang lainnya.

Kekaguman dan pujian terhadap sahat Nabi juga terdapat dalam hadits.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya dan kemudian zaman berikutnya. Lalu akan datang satu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian (yakni bersumpah dan bersaksi sebelum diminta, Pent)” (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Sesungguhnya bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit. Jika bintang-bintang itu lenyap, maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas langit. Aku adalah pengaman bagi sahabatku. Jika aku telah pergi, maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas sahabatku. Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku. Jika sahabatku telah pergi, maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku”. [Hadits riwayat Muslim, no 2531, dari jalur Sa’id bin Abi Burdah dari ayahnya, yakni Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَ طُوْبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلمَ ْيَرَنِي وَ طُوْبَى لَهُ وَ حُسْنَ مَآبٍ

“Sungguh beruntung orang yang melihatku, dan sungguh beruntung orang yang beriman kepadaku, sedangkan ia belum pernah melihatku. Sungguh baginya keberuntungan dan balasan yang baik”. [Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam As Sunnah, 1527, dari Ya’qub].

Dan masih banyak hadits yang lainnya.

KEDUA:

Dalam vidio diatas, Bapak Jalaluddin Rakhmat mengutip ayat ke 100 dari surat Attaubah:

وَالسّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Melalui ayat tersebut Bapak Jalaluddin Rahmat beranggapan bahwa tidak semua sahabat itu terekomendasi untuk dijadikan teladan (bahkan sudah masyhur, mereka selalu mengkritik, mencari-cari kesalahan sahabat Nabi bahkan sampai pada pengkafiran), juga selalu membawa ayat ini untuk merendahkan sahabat. Mereka beralasan bahwa dalam ayat tersebut Allah menyebutkan:

مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ

Kata ْمِن diartikan “sebagian” sehingga makna ayat tersebut “sebagian dari sahabat Muhajirin dan Anshar” saja yang layak dijadikan teladan, dan yang lain tidak layak.

Padahal banyak dari ahli tafsir mengatakan bahwa kata مِنْ bermaksud للبيان yaitu penjelas dan inilah yang tepat, sehingga makna utuhnya:

مِنَ الْمُهٰجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ

“Dari kalangan sahabat muhajirin dan anshar”.

Kalaulah kita terima arti مِن adalah “sebagian” bukan berarti ayat diatas menunjukkan sahabat yang lain tidak memiliki sifat yang termaktub sesuai dalam ayat tersebut dan tidak layak dijadikan teladan, padahal ayat tentang pujian sahabat tidak hanya di ayat itu saja, masih banyak ayat dan hadits Nabi yang menjelaskan kemuliaan dan pujian terhadap sahabat Nabi.

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:

من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ, فإنهم كانوا أبرَّ هذهِ الأمةِ قلوباً، وأعمقـُها عِلماً، وأقلـُّهَا تكلـُّفَا، وأقومُها هَديَا، وأحسنـُها حالاً، اختارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وإقامَةِ دينِهِ، فاعرفوا لهم فضلـَهُم، واتـَّبـِعُوهم في آثارِهِم، فإنهم كانوا على الهُدى المُستقيم

“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya diantara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada shiratal mustaqim (jalan yang lurus)”

Hanya saja, niat yang buruk dan pemahaman yang keliru dari kaum syiah sehingga mereka menjadikan ayat tersebut untuk merendahkan sahabat Nabi.

Dalam ayat tadi Allah menyebutkan bahwa sahabat telah ridha dan ridhai serta dijanjikan surga, jikalau kita ikuti pandangan syiah maka otomatis kita beranggapan bahwa yang ridha dan diridhai serta dijanjikan surga adalah hanya sebagian sahabat sedangkan yang lain tidak. Pertanyaannya, sahabat mana saja yang tidak ridha dan tidak diridhai? Artinya pandangan kaum syiah itu hanya tuduhan yang berlawanan dengan fakta di kehidupan sahabat Nabi.

Kita tahu bahwa diantara ciri sekte menyimpang adalah ketika berdalil hanya mengambil beberapa nash dan meninggalkan nash yang lain.

Sehingga kalaupun dalam attaubah ayat 100 tadi diperuntukkan sebagian sahabat padahal banyak sekali ayat dan hadits lain yang menerangkan tentang keutamaan sahabat, baik secara global maupun perorangan, silahkan baca kitab Shahih Muslim disana Imam Muslim rahimahullah membuat bab khusus tentang keutamaan para sahabat, belum lagi kalau kita baca ayat Al-Quran maka kita temui banyak ayat yang menerangkan pujian dan keutamaan sahabat sebagaimana saya sebutkan pada point pertama di atas.

Tentang surat At-Taubah ayat 100 Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Allah telah memberitakan bahwa Dia telah rida kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka celakalah bagi orang yang membenci mereka, mencaci mereka, atau membenci dan mencaci sebagian dari mereka. Terlebih lagi terhadap penghulu para sahabat sesudah Rasul dan yang paling baik serta paling utama di antara mereka, yaitu As-Siddiqul Akbar —khalifah Rasulullah yang pertama—Abu Bakar ibnu Abu Quhafah radhiyallahu anhu. Lain halnya dengan golongan yang terhina dari kalangan golongan Rafidhah (Syiah)/Khawarij, mereka memusuhi sahabat yang paling utama, membenci mereka serta memusuhinya; semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Hal ini jelas menunjukkan bahwa akal mereka telah terbalik dan kalbu mereka telah tertutup. Maka mana mungkin mereka dinamakan sebagai orang yang beriman kepada Al-Qur’an bila mereka mencaci orang-orang yang telah diridai oleh Allah? Berbeda dengan golongan ahli sunnah, maka mereka rida kepada orang-orang yang diridai oleh Allah, mencaci orang-orang yang dicaci oleh Allah dan Rasul-Nya, memihak kepada orang-orang yang dipihak oleh Allah, dan memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh Allah. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang mengikuti (Rasul dan sahabat-sahabatnya), bukan orang-orang ahli bid’ah; dan mereka adalah orang-orang yang bertaklid, bukan orang-orang yang memulai. Mereka itulah golongan Allah yang beruntung dan hamba-hamba-Nya yang beriman.”

Terakhir, kami ingatkan tentang kisah salah seorang sahabat Nabi yang bernama Hathib bin Abi Balta’ah radhiyallahu anhu.

Kisah ini diceritakan oleh Ali bin Abi Thâlih Radhiyallahu anhu. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami yaitu aku, Zubair dan Miqdâd. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami : “Pergilah kalian ke daerah Raudhah Khakh! Di sana ada seorang wanita yang sedang membawa sepucuk surat. ambillah surat tersebut !” Lalu kami berangkat, kuda kami berlari kencang membawa kami. Lalu bertemulah kami dengan wanita (yang dimaksudkan oleh Rasulullah) itu. Kami berkata kepada wanita itu : “Keluarkanlah surat (yang sedang engkau bawa-pent) !” Perempuan itu mengelak : “Aku tidak membawa surat.” Kami berkata lagi : “Keluarkanlah surat itu atau kamu harus menanggalkan pakaianmu!” Akhirnya ia mengeluarkan surat itu dari sela-sela kepangan rambutnya. Kemudian kami membawa surat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata surat itu dari Hâthib bin Abu Balta’ah untuk orang-orang musyrik di kota Mekah. Dia memberitahukan beberapa rencana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Hâthib : “Wahai Hâthib apa ini ?” Hâthib menjawab : “Jangan terburu (menghukumi telah kafir), wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku dahulu adalah seorang yang akrab dengan orang-orang Quraisy.” Sufyân (salah seoang yang membawakan riwayat ini-pent) menjelaskan: “Ia pernah bersekutu dengan mereka meskipun dia bukan berasal dari Quraisy.” (Hathib bin Abi Balta’ah melanjutkan pembelaan dirinya-pent) : “Para Muhajirin yang ikut bersamamu mempunyai kerabat yang dapat melindungi keluarga mereka (di Mekah). Dan karena aku tidak mempunyai nasab di tengah-tengah mereka, aku ingin memiliki jasa untuk mereka sehingga dengan demikian mereka mau melindungi keluargaku. Aku melakukan ini bukan karena kekufuran, bukan karena murtad, bukan pula karena aku rela dengan kekufuran setelah memeluk Islam.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia benar.” Umar Radhiyallahu anhu mengatakan: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam perang Badar dan kamu tidak tahu barangkali Allah telah melihat kepada para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar lalu berfirman : “Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian. ” ! [Sumber: almanhaj.or.id]

Perhatikan bagaimana tingginya posisi Sahabat Nabi. Yang jelas-jelas bertindak kurang tepat saja mendapatkan pembelaan dan posisi dari Nabi, lalu bagaimana dengan sahabat Nabi lainnya? Subhanallah..!!

Tidak pantas lisan dan hati kita dikotori dengan gunjingan dan kebencian terhadap sahabat Nabi.

Rasulullah shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا تسبوا أصحابي ، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مد أحدهم ولا نصيف

“Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud (satu genggam), bahkan tidak menyamai setengahnya”. (HR. Al-Bukhari)

Kita bisa shalat, bisa puasa, bisa zakat, dan bisa ibadah dengan benar itu karena jasa sahabat Nabi yaitu melalui riwayat-riwayat yang dibawa dari Nabi secara langsung.

Jika kita membenci sahabat Nabi terus kita kelak di hari kiamat akan berkumpul bersana siapa? Sedangkan dalam hadits Nabi disebutkan,

 حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حماد بن زيد عن ثابت عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Saya mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakr dan Umar. Saya berharap bisa bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka meskipun saya tidak mampu melakukan amalan yang mereka lakukan. ” (HR. Al-Bukhari).

Semoga Allah mengumpulkan kita kelak di hari kiamat bersama para penghuni surga, semoga Allah tanamkan kecintaan pada diri kita terhadap sahabat Nabi dan Allah jaga lisan serta hati kita dari cacian dan kebencian terhadapnya. Aamiin

✍🏽Abul Fata Murod, Lc

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *