KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Haramnya Menyendiri Dengan Wanita Lain (Yang Bukan Mahramnya)
Oleh: Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan jikalau engkau semua meminta kepada para wanita itu – yakni yang ajnabiyat (bukan mahramnya) akan sesuatu benda, maka mintalah kepada mereka di belakang tabir.” (QS. al-Ahzab: 53)
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Takutlah engkau semua masuk kepada wanita – yang bukan mahramnya.” Kemudian ada seorang lelaki dari sahabat Anshar berkata: “Bagaimanakah pendapat Tuan tentang al-hamwu (ipar)?” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ipar itulah yang menyebabkan kematian – yakni kerusakan.”
Maksudnya menyendirinya seorang wanita dengan ipar suami itu menyebabkan timbulnya fitnah dan kerusakan, maka diumpamakan sebagai yang menyebabkan kematian. (Muttafaq ‘alaih)
Al-hamwu ialah keluarga dari suami seperti saudara lelaki suami, anak lelaki saudara itu atau anak lelaki pamannya.
Makna dari Hadis ini ialah bahwa menyendirinya hamwu (ipar) dan sebagainya yang tertulis di atas – itu adalah lebih besar bahayanya daripada orang yang benar-benar asing, sebab kadang-kadang lelaki itu mempertunjukkan sesuatu yang baik pada isteri tadi, kemudian beratlah kiranya bagi suaminya untuk mengusahakan sesuatu yang ada di luar kemampuannya, atau akan menyebabkan buruknya hubungan dan Iain-Iain sebagainya. Selain itu suami juga tidak akan terkesan sesuatu apapun dalam hatinya untuk mengamat-amati lelaki tersebut, terutama mengenai keadaan batinnya dengan ke luar masuk dalam rumahnya itu.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah sekali-kali seseorang lelaki di antara engkau semua itu menyendiri dengan seorang wanita, melainkan haruslah ada mahramnya beserta wanita tadi.” (Mu’ttafaq ‘alaih)
Dari Buraidah radhiyallahu anhu katanya: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kemuliaannya – yakni kehormatannya – para isteri kaum lelaki yang mengikuti peperangan atas yang duduk – yakni tidak mengikuti peperangan – adalah sebagaimana kemuliaan – yakni kehormatan -ibu-ibu mereka – yakni ibu-ibunya yang tidak mengikuti. Tiada seorang lelakipun dari golongan orang-orang yang duduk – tidak mengikuti peperangan – yang menjadi ganti seorang lelaki yang mengikuti berjihad, untuk mengawasi keluarganya, kemudian ia berkhianat kepada sahabatnya – yang ikut berjihad tadi, melainkan orang yang berkhianat tadi akan dihentikan di muka orang yang berjihad besok pada hari kiamat, selanjutnya yang berjihad itu akan mengambil kebaikan-kebaikannya orang yang mengawasi tersebut, sekehendak hatinya sehingga ia rela – yakni sampai merasa puas.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menoleh kepada kita semua lalu bersabda: “Bagaimanakah dalam perkiraanmu – maksudnya: Bukankah itu suatu hal yang berat tanggungannya. (Riwayat Muslim)
Semoga bermanfaat
www.inilahfikih.com