HUKUM SUJUD SYUKUR

SUJUD SYUKUR

Definisi Sujud Syukur:

Secara bahasa sujud adalah masdar dari sajada-yasjudu artinya adalah tunduk dan rendah.
Secara istilah sujud adalah meletakkan dahi atau sebagiannya di atas bumi atau di atas sesuatu yang menyampaikan kepadanya dengan posisi yang tetap, disertai gerakan yang khusus.
Adapun syukur kebalikan dari kufur secara bahasa adalah mengakui atas kebaikan yang diterima, dan menyebarkannya serta memuji kepada pemberi kebaikkan tersebut. Hakikat syukur adalah menampakkan pengaruh nikmat yang didapatkan dengan lisan, hati dan perbuatan. Yaitu lisan menetapkan nikmat tersebut datang dari Alloh serta memuji-Nya, hati mengakui nikmat tersebut datang dari Alloh, serta anggota badan memanfaatkannya kepada sesuatu yang diridhoi-Nya. Syukur kepada Alloh artinya adalah membelanjakan/memanfaatkan nikmat yang datang dari Alloh dalam rangka melakukan ketaatan kepada-Nya.
Adapun sujud syukur secara syariat adalah sujud yang dilakukan seseorang ketika mendapatkan nikmat atau terhindar dari bahaya dan musibah.

Hukum Sujud Syukur:

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Pendapat pertama adalah pendapat jumhur ulama yaitu Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, ibnu Mundzir, Abu Yusuf, Ibnu Habib dari kalangan Malikiyah bahwasannya hukum sujud syukur adalah sunnah dan disyariatkan. Berdalil dengan perbuatan Rosululloh saw:

كَانَ إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ يُسَرُّ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Dari Abu Bakrah bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat sesuatu yang disenangi atau diberi kabar gembira, beliau segera sujud sebagai tanda syukur kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Abu Daud; hasan)
Kemudian atsar sahabat, bahwa Abu Bakar pernah bersujud ketika menaklukan Yamamah ketika mendengar berita terbunuhnya Musailamah al-Kadzab. Kemudian Ali juga pernah melakukan sujud syukur ketika terbunuhnya pemimpin Khowarij dan begitu juga banyak sahabat yang melakukannya.
Dalam madzhab Syafi’i dan Hambali menyatakan bahwa melakukan sujud syukur karena suatu sebab hukumnya sunnah.
Pendapat yang kedua adalah pendapat Abu Hanifah , pendapat yang masyhur dari Malik dan Nakho’i mengatakan bahwa sujud syukur tidak disyariatkan. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan makruh tidak ada pahala melakukannya dan meninggalkannya lebih utama. Walaupun dalam satu riwayat Malik menyatakan hukumnya adalah boleh saja.

Syarat-syarat Sujud Syukur:

Menurut pendapat madzhab Syafi’i dan Hambali bahwa syarat melakukan sujud syukur adalah sebagaimana syarat sahnya sholat yaitu suci dari hadats dan najis, menghadap kiblat, menutup aurat. Maka dari itu tidak sah sujud syukur tanpa bersuci dan syarat-syarat tersebut. Maka kita mengetahui disini ulama Syafiiyyah dan Hanabilah menggunakan dalil qiyas.
Akan tetapi Ibnu Taymiyah dan Ibnu Baz tidak mensyaratkan thoharoh dalam melakukan sujud syukur. Dalilnya adalah menggunakan qiyas dengan sujud tilawah, sebagaimana tidak disyaratkan suci ketika melakukan sujud tilawah menurut mereka begitu juga ketika melakukan sujud syukur. Ibnu Baz mengutip atsar Rosululloh, bahwa ketika beliau membaca al-Qur’an dihadapan majlis sahabat maka beliau sujud tilawah kemudian dikuti oleh manusia dan Rosul tidak menyatakan bahwa yang tidak memiliki wudhu maka dilarang ikut bersujud, padahal sangat memungkinkan ada dia antara para sahabat tidak dalam keadaan suci. Begitu juga atsar sahabat Ibnu Umar yang melakukan sujud syukur tapi tidak dalam keadaan suci.
Tentunya keluar dari khilaf lebih utama yaitu ketika bersujud dalam keadaan bersuci lebih afdhol, menenangkan hati, dan lebih hati-hati.

Tata Cara Sujud Syukur:

Apabila salah seorang mendapatkan nikmat dari Alloh atau terhindar dari mara bahaya dan musibah. Maka seseorang tersebut dianjurkan untuk melakukan sujud syukur dengan cara menghadap kiblat, kemudian bertakbir, kemudian bersujud satu kali sujud dengan memuji Alloh, mensucikan-Nya dengan membaca subhana robbiyal a’la wa bihamdihi, dan berdoa kepada-Nya. Wallohu ta’ala a’lam.

Referensi :

1. Mausu’ah Fiqhiyyah
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
3. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid

Disusun oleh : Salman Yudi Aris D.,S.Ud.,Lc.

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *