MENDOAKAN KEBURUKAN TERHADAP ORANG YANG MEMFITNAH KITA

MENDOAKAN KEBURUKAN TERHADAP ORANG YANG MEMFITNAH KITA

Ternyata sudah menjadi tradisi sebagian sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila mereka dituduh atau difitnah, kemudian untuk mendapatkan atau membuktikan benar atau tidaknya tuduhan tersebut, sahabat tersebut berdoa keburukan terhadap orang yang memfitnahnya. Seperti ucapan doa “miskinkan dia selamanya, butakan matanya, timpakan berbagai fitnah kepadanya, matikanlah dia” dan sejenisnya.

Jadi, diperbolehkan bagi kita apabila ada orang yang memfitnah diri atau agama kita, kemudian kita mendoakan keburukan kepadanya. Misal, ada orang menuduh atau memfitnah diri atau agama kita sebagai teroris atau radikal, wanita bercadar dan lelaki bercelana cingkrang berafiliasi dengan teroris, ormas Islam adalah sarang radikal dan pemecah belah kesatuan atau diri kita dituduh berzina, mencuri, orang sesat dan lain sebagainya. Maka, untuk mencari atau membuktikan kebenaran, kita diperbolehkan berdoa kepada Allah berupa keburukan terhadap orang yang memfitnah diri atau agama kita. Misalnya kita berdoa “Ya Allah, apabila ucapan atau tuduhan mereka kepada kami adalah dusta maka butakanlah mata mereka, matikan mereka dalam keadaan sangat hina, miskinkan mereka selamanya, timpakan kesengsaran dan fitnah kepada mereka, timpakan bencana yang bertubi-tubi dan lain sebagainya “.

Dalil kebolehan mendoakan keburukan terhadap orang yang memfitnah diri atau agama kita adalah hadis shahih yang dicantumkan oleh Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah dalam kitab riyadhus shalihin pada bab “Karomah dan Keutamaan Wali”

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Para penduduk Kufah mengadukan Sa’ad – yakni Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu anhu kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu – yang pada waktu itu menjabat sebagai khalifah, sedang Sa’ad sebagai gubernur yang diangkat olehnya untuk daerah Kufah. Oleh sebab itu Umar lalu memecat Sa’ad dan diganti oleh ‘Ammar untuk memerintah penduduk Kufah itu – sebagai ganti Sa’ad.

Orang-orang Kufah itu mengadukan, sampai-sampai mereka itu menyebutkan bahwasanya Sa’ad itu tidak bagus dalam mengerjakan shalatnya. Sa’ad diminta datang oleh Umar radhiyallahu anhu lalu berkata: “Hai Abu Ishaq – yakni Sa’ad bin Abu Waqqash, sesungguhnya orang-orang Kufah menyangka bahwa engkau tidak bagus dalam melakukan shalat.” Sa’ad menjawab: “Tentang saya ini, demi Allah, sesungguhnya saya shalat dengan orang-orang itu sebagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak saya kurangi sedikitpun. Saya shalat Isya’, lalu saya perpanjangkan dalam kedua rakaat yang pertama, sedang kedua rakaat yang penghabisan saya peringankan.” Umar berkata: “Itu adalah penyangkaan orang-orang padamu, hai Abu Ishaq.”

Selanjutnya Umar mengirimkan Sa’ad bersama seorang atau beberapa orang ke daerah Kufah untuk menanyakan kepada penduduk Kufah tentang diri Sa’ad tadi. Tiada suatu masjidpun yang didatangi oleh Sa’ad dan para penduduk Kufah kecuali memuji akan kebaikan Sa’ad. Akhirnya masuklah di suatu masjid di lingkungan Bani ‘Abs. Kemudian ada seorang lelaki di antara mereka itu berdiri, namanya Usamah bin Qatadah yang diberi nama gelar yaitu Abu Sa’dah. la berkata: “Adapun kalau anda bertanya kepada kami tentang Sa’ad, maka sesungguhnya Sa’ad itu tidak pernah ikut pergi memimpin pasukan – ke medan perang, tidak pernah mengadakan pembagian harta rampasan dengan samarata dan tidak pernah menjatuhkan putusan dengan adil.”

Sa’ad lalu berkata: “Aduh, demi Allah, niscayalah saya akan berdoa dengan 3 macam permohonan: “Ya Allah, jikalau hambamu ini – Usamah bin Qatadah – berkata dusta dan melakukan hanya karena congkak dan kesombongan belaka, maka PANJANGKANLAH USIANYA, PANJANGKANLAH KEMISKINANNYA, DAN TIMPAKANLAH BERBAGAI FITNAH.”

Sesudah beberapa saat berlalu, orang itu jikalau ditanya, siapa dirinya, ia menjawab: “Aku adalah orangtua renta yang terkena fitnah, karena doanya Sa’ad sudah mengena pada diriku.”

Abdul malik bin Umair yang meriwayatkan Hadis ini dari Jabir bin Samurah berkata: “Saya sendiri melihat orang itu sesudah tuanya, kedua alisnya telah rontok-rontok di atas kedua matanya karena amat lanjut usianya itu dan sesungguhnya ia sering menggoda wanita-wanita sambil menarik-narik tangan mereka itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shaleh rahimahullah dalam syarah riyadhus shalihin mengatakan, “diantara pelajaran dari hadis tersebut adalah diperbolehkannya bagi orang yang terdzalimi mendoakan keburukan terhadap orang yang mendzaliminya sesuai kedzalimannya”.

Dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya Said bin ‘Amr bin Nufail radhiyallahu anhu dilaporkan oleh wanita bernama Arwa binti Uwais kepada Marwan bin al-Hakam – yang waktu itu sebagai khalifah. Wanita itu menuduh bahwa Said mengambil sebagian dari tanahnya. Said lalu berkata: “Bagaimana saya mengambil sebagian tanahnya, sedangkan saya sudah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda?.” Marwan bertanya: “Apa yang anda dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?” la menjawab: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengambil tanah sejengkal secara penganiayaan, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya sampai tujuh lapis bumi di bawahnya.” Marwan lalu berkata:”Saya tidak lagi akan meminta keterangan tentang kebenaranmu setelah mendengar ini.” Said lalu berdoa: “YA ALLAH, JIKALAU WANITA ITU DUSTA, MAKA BUTAKANLAH MATANYA, DAN MATIKANLAH IA DALAM TANAHNYA SENDIRI”

‘Urwah berkata; “Wanita itu tidak mati-mati sehingga penglihatannya lenyap – yakni menjadi buta matanya, Dan pada suatu ketika ia berjalan di tanahnya sendiri, tiba-tiba terjerumuslah ia dalam suatu lobang, kemudian mati di situ.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar, yang isinya semakna dengan uraian di atas itu dan bahwasanya ia melihat wanita tadi sudah buta mencari-cari dinding di waktu berjalan sambil mengucapkan: “Saya terkena oleh doanya Said.” Selanjutnya ketika wanita itu berjalan melalui sumur yang ada di dalam rumah yang dijadikan bahan pertengkaran dulu, tiba-tiba ia jatuh di dalamnya, lalu itulah yang menjadi kuburnya -yakni sebab kematiannya-.

Semoga bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi kita.

Oleh: Abul fata Miftah Murod, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *