APAKAH KULIT BANGKAI BINATANG BISA SUCI DENGAN DISAMAK?

APAKAH KULIT BANGKAI BINATANG BISA SUCI DENGAN DISAMAK?

Al-Khatib asy-Syarbini rahimahullah ketika mendefinisikan menyamak mengatakan; Menghilangkan kotoran pada kulit yaitu kotoran yang berbentuk cair dan basah, dimana kulit itu akan rusak bila keduanya masih ada. Adapun tatacara menyamak nya sebagai berikut :

  1. Menghilangkan sisa-sisa daging yang menempel pada kulit yang bisa mengakibatkan pembusukkan kulit.
  2. Setelah di bersihkan beri cairan yang berasa sepat seperti cuka, daun jeruk atau barang yang najis tapi sepat seperti kotoran burung dara misalnya.
  3. Kemudian di rendam 3 atau 4 hari.
  4. Setelah itu bilaslah dengan air yang suci dan jemur di tengah terik matahari.

Apakah kulit bangkai bisa suci dengan disamak? Ada beberapa pendapat di kalangan para dalam masalah ini:

Pendapat pertama: Semua kulit bangkai binatang bisa suci dengan disamak, suci bagian dalam maupun luarnya, bisa dipergunakan untuk sesuatu yang kering maupun yang basah, dikecualikan kulit bangkai babi dan anjing. Ini adalah pendapat madzhab Syafii.

Dalil sucinya kulit bangkai binatang dengan disamak adalah hadits berikut:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

مَرَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّونَ شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ  :لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا؟ قَالُوا :إِنَّهَا مَيْتَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ

“Beberapa pria Quraisy yang sedang menarik (bangkai) kambing sebesar keledai melintas di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka, ‘Sekiranya kalian memanfaatkan kulitnya?’ Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kambing ini adalah bangkai.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kulitnya dapat disucikan dengan air dan qarazh yaitu sejenis tumbuhan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Adapun dikecualikannya babi berdasarkan firman Allah:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu najis. (QS. Al-An’am: 145)

Kenajisan anjing diqiyaskan atau dianalogikan dengan babi.

Pendapat kedua: Semua kulit bangkai binatang tidak bisa suci dengan disamak. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan yang sependapat dengannya seperti madzhab Maliki.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ukaim.

أَتَانَا كِتَابُ رَسُول اللَّهِ  قَبْل وَفَاتِهِ بِشَهْرٍ أَوْ شَهْرَيْنِ : أَلاَّ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ

Telah datang sebuah surat dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebulan atau dua bulan sebelum wafatnya yang berisi : Janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai dengan cara penyamakan. (HR. At-Tirmidz)

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan dengan redaksi yang berbeda :

كُنْتُ رَخَّصْتُ لَكُمْ فِي جُلُودِ الْمَيْتَةِ فَإِذَا جَاءَكُمْ كِتَابِي هَذَا فَلاَ تَنْتَفِعُوا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ

Dahulu Aku pernah memberikan keringanan atas sucinya kulit bangkai. Dengan datangnya suratku ini maka janganlah kalian memanfaatkan kulit bangkai yang telah disamak. (HR. Abu Daud)

Pendapat ketiga: Kulit bangkai binatang bisa suci dengan disamak kecuali babi saja. Ini adalah pendapat Madzhab Hanafi. Pengecualian babi berdasarkan firman Allah:

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu najis. (QS. Al-An’am: 145)

Sedangkan anjing tidak diqiyaskan dengan babi.

Pendapat keempat: Semua kulit bangkai binatang adalah suci sekalipun anjing dan babi. Ini adalah pendapat sebagian ulama ahli fikih.

Mereka mengatakan bahwa pengharaman babi dan anjing adalah memakannya, sedangkan kulitnya untuk dimanfaatkan tidaklah mengapa.

Mereka berdalil dengan keumuman hadits berikut;

Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Jika kulit bangkai disamak, sungguh menjadi suci.” (HR. Muslim)

Pada riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan lafadz,

أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

“Kulit bangkai apa saja yang disamak maka sungguh menjadi suci.”

Dua hadits ini menunjukkan lafadz mutlak nencakup semua jenis kulit binatang. Baik yang halal dimakan dagingnya maupun tidak, yang najis maupun tidak.

Pendapat yang mengecualikan kulit binatang babi dan anjing in syaAllah pendapat yang hati-hati.

Ulama yang mengatakan bahwa kulit bangkai binatang suci dengan disamakpun berbeda pendapat, apakah kulit yang disamak tersebut bisa dimakan?

Pertama, haram secara mutlak, baik dari kulit hewan yang bisa dimakan atau tidak.

Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Daruquthni dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda;

إنَّمَا حَرُمَ مِنْ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا

“Sesungguhnya yang haram dari bangkai adalah memakannya.”

Kedua, halal secara mutlak, baik dari kulit hewan yang bisa dimakan atau tidak.

Ketiga, halal dimakan jika dari kulit yang bisa dimakan dan haram jika dari kulit hewan yang tidak bisa dimakan.

Imam Nawawi dalam kitab Almajmu’ berkata; “Kulit hewan yang sudah disamak ada tiga pendapat terkait kebolehan memakannya, sebagaimana telah dijelaskan dalam babul aniyah atau bab tentang bejana. Pertama, yang paling sahih adalah haram memakannya. Kedua, memakannya halal. Ketiga, jika kulit hewan yang bisa dimakan, maka halal dimakan. Jika tidak bisa dimakan, maka tidak boleh dimakan.”

@Abul Fata Miftah Murod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *