“SEMOGA ALLAH MEMBINASAKANNYA DAN MEMBINASAKAN PENGUASA”

“SEMOGA ALLAH MEMBINASAKANNYA DAN MEMBINASAKAN PENGUASA”

Doa inilah yang pernah diucapkan oleh seorang ulama besar ahlus sunnah wal jama’ah yang lahir pada tahun 541 H dan wafat pada tahun 606 H, yaitu bernama Imam Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah.

Tentang jati diri beliau, Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Dia seorang al-Imam al-Alim al-Hafidz al-Kabir ash-Shadiq al-Qudwah al-Abid al-Atsari al-Muttaba’ Alim al-Huffadz, Taqiyuddin. ”

Imam Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah dikenal sebagai ulama yang sangat tegas dalam menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Adh-Dhiya’ yaitu muridnya pernah mengatakan: “Tidaklah dia melihat kemungkaran melainkan pasti merubahnya dengan tangannya atau lisannya, dan tidak menghiraukan celaan orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah. Suatu kali aku melihatnya menumpahkan khomer, lalu pemiliknya menghunus pedang, namun dia tidak takut dari-nya, dan mengambil pedang tersebut dari tangannya. Dia adalah orang yang kuat tubuhnya. Di Damaskus, dia seringkali mematahkan rebab (sejenis alat musik) dan alat-alat musik semacam seruling.”

Adh-Dhiya’ mengatakan, Aku mendengar Abu Bakar bin ath-Thahhan mengatakan, “Dia berada di negara al-Afdhal, mereka meletakkan alat-alat yang melenakan di dekat menara, yakni menara Jairun. Ketika Imam al-Hafizh rahimahullah datang, dia mematahkan sesuatu, kemudian naik mimbar untuk membacakan hadits. Kemudian datanglah utusan al-Qadhi menyuruhnya untuk datang kepadanya guna berdialog dengannya tentang duff (rebana) dan syababah (semacam seruling). Dia mengatakan, ‘Ini bagiku adalah haram, dan aku tidak akan datang kepadanya.’ Kemudian dia membaca hadits. Utusan
itu datang kembali seraya mengatakan, ‘Engkau harus datang kepadanya, karena engkau telah melenyapkan semua ini di hadapan
penguasa. Dia mengatakan, “SEMOGA ALLAH MEMBINASAKANNYA DAN MEMBINASAKAN PENGUASA”. Utusan itu pun pergi, dan kami merasa ketakutan, ternyata tidak ada seorangpun yang datang. ”

Sumber: Buku biografi 60 ulama ahlus sunnah karya Syaikh Ahmad Farid penerbit darul haq halaman 819-820

Semoga bermanfaat

@Abul Fata Murod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *