KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
BERHARI RAYA ALA ROSULULLOH
Dari Anas ia berkata: “Nabi datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda: “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu: hari raya kurban dan hari ‘Idul Fitri.” (HR. Ahmad)
Berpenampilan Indah Pada Hari Raya
Dari Ibnu ‘Umar ia berkata: “’Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar. Lalu ia datang kepada Rosululloh dan berkata: “Ya Rosululloh, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya, dan saat menerima utusan.” Rosululloh bersabda kepada ‘Umar: “Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bagian (di akhirat-pen)”. Maka ‘Umar tinggal selama waktu yang Alloh kehendaki. Kemudian Rosululloh mengirimkan kepada ‘Umar jubah sutera. ‘Umar menerimanya lalu mendatangi Rosululloh . Ia berkata: “Ya Rosululloh, engkau pernah mengatakan: “Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bagian”, dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini”. Rosululloh bersabda kepada ‘Umar: “Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Abi Dunya dan al- Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shohih yang sampai kepada Ibnu ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fitri dan Idul ‘Adha.”
Beliau juga menyatakan: “Sisi pen-dalilan dengan hadits ini adalah taqrirnya (penetapan) Nabi kepada ‘Umar berda-sarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum’at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera.”
Keluar Menuju Musholla (Tanah Lapang yang Digunakan untuk Sholat ‘Id)
Dari Abu Said al-Khudri ia ber-kata:“Rosululloh biasa keluar menuju musholla (tanah lapang) pada hari Idul Fitri dan Idul ‘Adha, maka pertama kali yang beliau lakukan adalah sholat….” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Ibnu Qudamah al-Maqdisi menya-takan: “Sunnah untuk melaksanakan sholat ‘Id di tanah lapang. ‘Ali me-merintahkan yang demikian dan dianggap baik oleh al-Auza’i dan Ashhabur Ro’yi. Inilah ucapan Ibnu Mundzir .”
Mengambil Jalan Yang Berlainan Ketika Pergi Dan Kembali Dari Musholla
Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: “Nabi pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari musholla).” (HR. al-Bukhori)
Berkata Ibnul Qoyyim al- Jauziyah : “Beliau biasa mengambil jalan yang berbeda pada hari raya. Beliau pergi ke musholla melewati satu jalan dan kembali dengan melewati jalan lain. Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya ada-lah agar beliau dapat memberi salam ke-pada orang-orang yang berada di dua jalan itu. Ada yang mengatakan: agar mendapatkan barokahnya dua jalan yang berbeda. Ada pula yang mengatakan: agar beliau dapat memenuhi hajat orang yang butuh pada beliau di dua jalan itu. Ada pula yang mengatakan tujuannya agar dapat menampakkan syi’ar Islam dan ada yang mengatakan –inilah yang paling benar-: Beliau melakukan perbuatan itu untuk semua tujuan tersebut dan hikmah-hikmah lain yang memang perbuatan beliau tidak kosong dari hikmah.”
Takbir Pada ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha
Alloh berfirman: “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau ber-syukur.” (QS. al-Baqoroh [2] : 185)
Telah pasti riwayat bahwa Nabi : “Beliau keluar pada hari ‘Idul Fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di musholla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya sholat. Apabila beliau telah menunaikan sholat, beliau menghentikan takbir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Seperti Ibnu Mas’ud , ia meng-ucapkan takbir dengan lafadh:
اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولِلَّهِ الْحَمْدُ
“Alloh Maha Besar Alloh Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh, Alloh Maha Besar Alloh Maha Besar dan untuk Alloh lah segala pujian.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Sedangkan Ibnu ‘Abbas bertakbir dengan lafadh:
اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَاَجَلَّ، اَللهُ اَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
“Alloh Maha Besar 3´ dan bagi Alloh lah segala pujian, Alloh Maha Besar dan Maha Mulia, Alloh Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita.” (HR. al-Baihaqi)
Abdurrozzaq –dan dari jalannya al-Baihaqi dalam “as-Sunanul Kubro” (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Salman al-Khoir , ia berkata:
كَبِّرُوْا الله: اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
“Agungkanlah Alloh dengan meng-ucapkan: Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar kabiro.”
Kapan Disunnahkan Makan Pada hari ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha?
Dari Anas ia berkata: “Rosululloh tidak pergi (ke tanah lapang) pada hari ‘Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma.” (HR. al-Bukhori, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dari Buroidah ia berkata: “Nabi tidak keluar pada hari ‘Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari raya kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari musholla) lalu beliau makan dari sembelihannya.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
asy-Syaukani menyatakan: “Hik-mah mengakhirkan makan pada hari Idul ‘Adha adalah karena hari itu disyariatkan menyembelih kurban dan makan dari kurban tersebut, maka bagi orang yang berkurban disyariatkan agar berbukanya (makan) dengan sesuatu dari kurban tersebut. Ini dikatakan oleh Ibnu Qudamah .”
Mandi Sebelum Shalat Id
Sa’id Ibnul Musayyib berkata: “Sunnah Idul Fitri itu ada tiga: berjalan kaki menuju ke musholla, makan sebelum keluar ke musholla dan mandi.”
Berkata Imam Ibnu Qudamah : “Disunnahkan untuk bersuci dengan man-di pada hari raya. Ibnu Umar biasa mandi pada hari ‘Idhul Fitri dan diriwayatkan yang demikian dari Ali . Dengan inilah ‘Alqamah berpendapat, juga ‘Urwah, ‘Atho’, an-Nakho’i, asy-Sya’bi, Qotadah, Abu Zinad, Malik, asy-Syafi’i dan Ibnul Mundzir
Apakah Ada Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Sholat ‘Id?
Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Nabi sholat dua rokaat pada hari ‘Idul Fitri, beliau tidak sholat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya…. (HR. al-Bukhori, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Ibnu Hajar menyata-kan: “Jadi, kesimpulannya bahwa untuk sholat ‘Id tidak ada sholat sunnah sebe-lumnya dan tidak pula sesudahnya. Berbeda dengan orang yang mengqiyas-kannya (menyamakan) dengan sholat Jum’at.”
Semoga kita diberi kekuatan oleh Alloh untuk mengamalkan sunnah Rosululloh . Amin.
Referensi:
Disalin dari Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com