KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Memaknai Kejayaan dan Kehancuran
Oleh: Arifin, SHI.
“Jika kalian (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Alloh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim,” (QS. Ali Imran [3] :140)
Roda kehidupan dunia ini berputar berdasarkan ketetapan takdir Alloh . Di permukaan bumi ini manusia mengalami dua hal yang berlawanan. Kejayaan pada suatu kelompok dan kehancuran pada kelompok yang lain. Kemenangan pada suatu kaum dan kekalahan pada kaum lain. Keperkasaan pada suatu bangsa dan kelemahan pada bangsa lain. Itulah sesuatu yang pasti terjadi pada manusia yang di dalamnya terkandung hikmah dan pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang beriman.
Ibnu Katsir berkata:
“Jika kalian pada (perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya orang kafir (pada perang Badar) mendapat luka serupa. “ Maksudnya: jika kalian mengalami luka, bahkan beberapa orang di antaranya gugur, maka musuh kalian pun mengalami hal yang sama tidak lama setelah kejadian itu.
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran). Yakni, pada suatu kesempatan, Kami pergilirkan kemenangan itu kepada musuh-musuh kalian. Namun kesudahan yang baik tetap bagi kalian. Karena setiap perbuatan Kami pasti mengandung hikmah.
Karena itulah Alloh berfirman: “Dan supaya Alloh membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir).” Tentang ayat ini, Ibnu Abbas berkata: “Dalam peristiwa ini, Kami akan menyaksikan mana orang-orang yang sabar dalam menghadapi musuh.”
“Dan suapaya sebagaian kalian dijadikan-Nya syuhada.” Yakni dengan terbunuh di jalan Alloh. Mereka telah menumpahkan darah dengan mencari keridhoan-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/126)
Syaikh as-Sa’di berkata:
“Jika kalian pada (perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya orang kafir (pada perang Badar) mendapat luka serupa. “ Kalian dan mereka sama-sama menderita luka, akan tetapi kalian mengharapkan dari Alloh apa yang tidak mereka harapkan, sebagaimana Alloh berfirman: “Jika kalian menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kalian menderitanya, sedangkan kalian mengharap dari pada Alloh apa yang mereka tidak harapkan.”
Dan diantara hikmah lain adalah dunia ini telah Alloh berikan kepada orang-orang kafir, orang baik maupun orang jahat. Begitulah Alloh menggilir hari diantara manusia, hari ini untuk kelompok itu dan hari yang lain untuk kelompok lainnya, karena negeri dunia ini sementara akan musnah, hal itu tentunya berbeda dengan negeri akhirat, karena negeri itu khusus untuk orang-orang yang beriman.
“Dan supaya Alloh membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir).” Ini juga diantara hikmah-hikmahnya, yaitu bahwa Alloh menguji hamba-hamba-Nya dengan kekalahan dan musibah, agar nampak jelas antara mukmin dan munafik. Karena bila kemenangan selalu bersama kaum mukminin dalam peperangannya, niscaya akan masuk ke dalam Islam orang-orang yang tidak menginginkannya, namun apabila terjadi beberapa bentuk cobaan pada beberapa peperangan niscaya akan jelaslah orang-orang mukmin hakiki yang benar-benar menghendaki Islam, baik dalam kondisi susah, senang, sulit dan lapang dari orang yang tidak demikian.”
Dari ketarangan di atas nampak jelas bahwa ada suatu hari dimana kaum mukminin berjaya, meraih kemenangan gemilang, dan memiliki kekuatan yang tak tertandingkan. Namun demikian, ada suatu hari dimana orang-orang kafir sebagai negara adi kuasa, bangsa perkasa, dan sebagai polisi dunia. Hikmah yang dapat dipetik ketika kaum mukminin mengalami ujian berupa kemunduran dan kekalahan adalah agar bisa dibedakan siapakah yang benar-benar teguh dalam keimanan dan berjuang di atas kebenaran hingga ia memperoleh anugerah derajat syahid di sisi Alloh dengan siapakah yang gugur dalam medan juang bahkan lari darinya sebagaimana orang-orang munafik.
Artikel:
www.inilahfikih.com