KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Oleh: Arifin, SHI.
Alloh berfirman :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Alloh.” (QS. al-Ahzab [33] : 21)
Di antara nikmat Alloh yang terbesar kepada umat ini adalah diutusnya seorang Rosul yang menjadi murobbi umat yang mengajarkan mereka al-Qur’an dan al-hikmah, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran, yang menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk, dimana sebelumnya umat ini berada dalam kesesatan yang nyata.
Rosululloh adalah murobbi sejati yang harus diteladani, meneladani Rosululloh adalah sebuah kemulian dan menyelisihi beliau adalah kehinaan yang nyata. Meneladani beliau adalah satu-satunya jalan menuju surga dan sebab meraih wajah Alloh di negeri akhirat. Alloh berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. al-Ahzab [33]: 1)
Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar meneladani Rosululloh , karena Alloh sendiri yang menyebutkan semua perbuatan Rosululloh sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani Rosululloh berarti dia telah menempuh jalan yang lurus yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Alloh .
Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rosululloh dalam semua ucapan, perbuatan dan akhlak beliau “.
Kemudian firman Alloh di akhir ayat ini mengisyaratkan adanya keterikatan antara meneladani Rosululloh dengan kesempurnaan iman kepada Alloh dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang Muslim untuk meneladani Rosululloh merupakan tanda kesempurnaan imannya.
Meneladani Rosululloh adalah bukti kecintaan kepada Alloh dan sekaligus cinta kepada Rosul-Nya. Alloh menyangkal dengan keras bagi setiap yang mengaku-ngaku mencintai Alloh tetapi tidak meneladani Rosululloh . Sebagaimana Alloh berfirman : “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ali Imron[3]: 31)
Imam Hasan al-Bashri berkata: suatu kaum yang mengaku mencintai Alloh , maka Alloh uji dengan ayat ini atas kesungguhan cinta mereka.
Imam al-Qodhi ‘Iyadh berkata: ‘Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rosululloh adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rosululloh yang utama adalah (dengan) meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.’
Termasuk cakupan dalam meneledani Rosululloh adalah aspek dakwah. Kita sebagai orang yang beriman hendaknya memahami dan mengetahui bagaimana sifat dakwah Rosululloh . Fungsi memahami sifat dakwah Rosululloh sangat besar. Dengannya akan mengantarkan kita kepada sikap yang bijak dan tepat dalam berdakwah, serta menjauhi sikap arogansi dan narsis dalam menyebarkan risalah Islam.
Berikut ini beerapa contoh sikap dakwah Rosululloh menghadapi objek dakwah yang wajib kita teladani;
Diriwayatkan dari Anas , ia berkata: “Ketika kami sedang berada di masjid bersama Rosululloh tiba-tiba datang seorang Arab Badui, kemudian masuk masjid dan kencing di dalamnya, seketika itu para sahabat menghardiknya seraya berkata: “Biarkan ia jangan kalian putus kencingnya!”, akhirnya mereka membiarkan orang tersebut menyelesaikan kencingnya, setelah itu Rosululloh memanggilnya dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak sedikitpun dikencingi dan dikotori, sesungguhnya masjid ini hanya untuk dzikir kepada Alloh, sholat, dan untuk membaca al-Qur’an.” Kemudian Rosululloh menyuruh salah seorang sahabatnya mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat kencing orang tersebut. “ (HR. al-Bukhori)
Rosululloh tinggal di Thoif selama sepuluh hari, Beliau tidak meninggalkan seorangpun dari tokoh dan pembesar negeri itu kecuali didakwahinya kepada Islam, tetapi mereka menjawab; “Keluarlah dari negeri kami !”, bahkan mereka menyuruh anak-anak dan orang-orang yang bodoh di antara mereka agar menghina dan mencaci maki Beliau. Ketika Beliau hendak keluar dari negeri itu, Beliau diikuti oleh orang-orang dungu penduduk negeri itu, mereka mengelillingi Rosululloh dalam dua barisan, kemudian mereka melempari Beliau dengan batu dan mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan menyakitkan, mereka melempari kedua urat di atas tumitnya dengan batu hingga kedua sandalnya terlumuri oleh darah. Zaid bin Haritsah melindumgi Beliau dengan dirinya hingga kepalanya terluka oleh lemparan batu mereka. Kemudian Rosululloh kembali ke Makkah dengan kesedihan yang dalam dan hati yang berkeping-keping. Di tengah jalan yang menuju Makkah, Alloh mengutus Jibril bersama malaikat gunung yang menawarkan kepada Beliau agar diizinkan mengangkat dua gunung yang mengapit negeri Thoif kemudian melemparkannya ke negeri Thoif yang menyiksa dan menganiayanya. (Lihat : Rahiqul Mahtum hal, 122)
Diriwayatkan dari Abu Umamah , ia berkata: Ada seorang pemuda menemui Nabi seraya berkata, “Wahai Rosululloh, izinkan aku melakukan zina; seketika itu kaum yang ada di sisi Rosululloh menghardiknya seraya berkata: “Enyahlah kamu dari sini, kemudian Rosululloh bersabda: “Dekatkanlah dia kepadaku, kemudian pemuda itu lebih mendekat kepada Rosul, kemudian beliau bersabda kepadanya: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya kepada ibumu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu ya Rosul, kemudian Beliau bersabda lagi: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya terhadap anak perempuanmu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak senang kalau anak perempuannya dizinahi.” Beliau bersabda lagi: “Apakah kamu senang jika orang lain melakukannya terhadap saudarimu?”, dia menjawab: “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak rela kalau saudarinya dizinahi.” Beliau bersabda lagi, “Apa kamu senang jika orang lain melakukannya terhadap bibimu?”, dia menjawab, “Demi Alloh, tidak, semoga Alloh menjadikanku sebagai tebusanmu.” Beliau bersabda: “Demikian juga orang lain tidak rela jika bibinya dizinahi.” (HR. Ahmad)
Demikianlah tiga contoh Rosululloh menghadapi objek dakwah yang harus kita jadikan sebagai pedoman. Tentunya masih banyak sekali bagaimana sikap Rosululloh menghadapi objek dakwah. Galilah dan pahamilah sepak terjang dakwah Rosululloh , niscaya kita akan menuai kesuksesan dalam berdakwah.
www.inilahfikih.com