KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
PENCERAMAH MEMBACA AYAT AL-QURAN TAPI TIDAK DIDAHULUI MEMBACA TAA’WUDZ, BAGAMANA HUKUMNYA?
Assalamualaikum, mau bertanya, kadang kalo yang ceramah itu pas membaca al-quran gak baca taawudz atau bismillah dulu, langsung aja baca ayatnya, itu gimana?
Jawaban: Jika membaca dari awal surat, maka memulai dengan ta’awudz dan basmalah. Adapun bacaan ta’awudz berdasarkan perintah Allah :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca al-Qur`ân hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. [QS. an-Nahl:98]
Sedangkan bacaan basmalah adalah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi sebagaimana berikut:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah di tengah-tengah kami (di dalam riwayat lain ada tambahan: di dalam masjid), beliau tidur sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan keadaan tersenyum. Maka kami bertanya: “Apa yang telah menjadikanmu tersenyum wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab: “Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surat”. Lalu berlau membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ
Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kamu, apakah al-Kautsar itu?”. Kami menjawab: “Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Itu adalah sebuah sungai yang Rabbku Azza wa Jalla menjanjikannya kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Itu juga merupakan telaga yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat. Wadah minumnya sebanyak bilangan bintang-bintang. Kemudian seorang hamba di antara mereka akan ditarik, maka akan berkata: “Wahai Rabbku, dia adalah umatku”. Allah Azza wa Jalla menjawab: :”Engkau tidak mengetahui perkara baru yang dibuat oleh umatmu setelahmu”. [HR. Muslim]
Imam Nawawi berkata: “Sepantasnya pembaca al-Qur’an selalu membaca bismillahir rahmanir rahim pada awal setiap surat kecuali surat Bara’ah (QS. at-Taubah), karena mayoritas Ulama berpendapat bahwa basmalah itu merupakan satu ayat”.
Namun jika tidak dari awal surat, maka cukup ta’awwudz saja. Di dalam ceramah atau khutbah, ta’awudz cukup sekali pada pembacaan ayat yang pertama. Karena ketika Nabi membaca ayat-ayat al-Qur’ân di khutbah-khutbahnya, beliau langsung membaca ayatnya, tanpa ta’awudz dan basmalah. Contohnya adalah hadits sebagai berikut:
عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَعْلَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَى الْمِنْبَرِ وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ
Dari Shafwan bin Ya’la, dari bapaknya, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (ayat) di atas mimbar: “Mereka berseru: “Hai Malik, biarlah rabbmu membunuh kami saja”. [QS. az-Zukhruf: 77]”
Dan membaca ta’awudz itu hukumnya sunnah, Imam Nawawi berkata: “Kemudian sesungguhnya ta’awudz itu hukumnya mustahab atau disukai, tidak wajib, dan itu mustahab untuk setiap pembaca al-Qur’ân, baik di dalam shalat atau diluarnya”.
Dari keterangan ini kita mengetahui, jika seseorang berkhutbah atau berceramah, lalu dia membaca ayat al-Qur’an dengan tanpa membaca basmalah atau ta’awudz, maka dia tidak berdosa, karena ia tidak meninggalkan sesuatu yang diwajibkan. Wallahu a`lam