KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…

Beramal Tetapi Niatnya Bukan Karena Allah
Hasil sebuah amal sangat ditentukan oleh niat, apakah diterima oleh Allah atau sebaliknya yaitu ditolak oleh Allah alias tidak membuahkan pahala. Niat adalah sentral dan sekaligus pondasinya sebuah amal.
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Sehingga kita dituntut untuk selalu meluruskan niat dalam beramal yaitu beramal harus semata-mata karena Allah.
Jika beramal karena Allah insyaAllah amalnya diterima dan membuahkan pahala. Lantas bagaimana jika beramal karena selain Allah?
Syaikh Abdulllah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah berkata: Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyebutkan bahwa amal karena selain Allah ada beberapa macam. Terkadang dimaksudkan untuk riya’ (pamer) semata, tidak dimaksudkan selain untuk pamer kepada manusia agar dapat meraup keuntungan duniawi. Yang demikian ini hampir tidak dilakukan seorang Mukmin. Tidak diragukan bahwa yang demikian itu menggugurkan amal dan pelakunya layak mendapatkan murka dan hukuman dari Allah. Terkadang amal dilakukan untuk Allah namun juga dicampuri riya’. Jika riya’ ini sudah mencampurinya sejak awal, maka beberapa nash yang shahih menunjukkan kebathilannya, tapi jika dasar amal itu untuk Allah kemudian disusupi riya’ setelah itu, pelakunya juga berusaha untuk menyingkirkan riya’ ini, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa riya’ itu tidak menggugurkan amal. Para ulama salaf berbeda pendapat tentang membiarkan riya’ yang datang secara tiba-tiba ditengah-tengah amalan, apakah riya’ itu menggugurkan amal ataukah tidak membahayakan pelakunya serta diberikan balasan sesuai dengan niat awalnya. ” [Lihat Kitab Taisirul ‘Allam Syarah Umdatul Ahkam Pustaka Ibnul Jauzi Kairo Halaman 7]
Semoga Allah menghindarkan penyakit riya’ dalam beramal dan semoga Allah menerima semua amal saleh kita.
Akhukum Fillah:
Abul Fata Miftah, Lc
Bogor, 16 Oktober 2017
Artikel:
www.inilahfikih.com