KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…

Mengantar Jenazah, Berdzikir Dengan Suara Keras Atau Diam?
Mengiring atau mengantarkan jenazah hingga menyaksikan mayat dikuburkan memiliki keutamaan yang besar sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits sahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:
ﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﺍﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺼَﻠِّﻲَ ﻓَﻠَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻁٌ ﻭَﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺪْﻓَﻦَ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ﻗِﻴﻞَ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﻘِﻴﺮَﺍﻃَﺎﻥِ ﻗَﺎﻝَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟْﺠَﺒَﻠَﻴْﻦِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻤَﻴْﻦِ
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath”. Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ada perkara penting yang perlu diperhatikan dalam masalah mengantarkan jenazah, yaitu sebagian orang ketika mengantarkan jenazah ke kuburan, mereka berdzikir seperti kalimat “laa ilaaha illallah” dengan suara keras.
Ternyata kita dapati dalam keterangan para ulama bahwa diam alias tidak mengucapkan lafadz-lafadz tertentu ketika mengantarkan jenazah adalah pendapat yang benar.
Dilarang juga mengiringi jenazah disertai dengan tangisan maupun rintihan atau berkata-kata dengan suara keras, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
ﻻ ﺗﺘّﺒﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺑﺼﻮﺕ ﻭﻻ ﻧﺎﺭ
“Jangan kamu mengiringi jenazah dengan rintihan suara dan (membawa) api” (Hasan: Ahkamul Janaiz dan Aunul Ma’bud). [Lihat Kitab Al-Wajiz]
Termasuk juga berdzikir, hendaknya bagi seseorang yang mengantarkan jenazah ke kuburan untuk tidak melafadzkan dzikir maupun ucapan yang lainnya.
Dari Qais bin Abbad Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata:
ﻛﺎﻥ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨّﺒﻲ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻳﻜﺮﻫﻮﻥ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﺼّﻮﺕ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ
“Adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam benci mengeraskan suara ketika mengiringi jenazah”. (HR. Al-Baihaqi)
Disamping itu, perbuatan tersebut menyerupai kebiasaan kaum Nashrani, yang mana kebiasaan mereka ketika mengiringi jenazah membaca Injil, mereka sambil menyanyikan suara-suara sendu yang melambangkan belasungkawa. [Lihat Kitab Al-Wajiz]
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨّﻮﻭﻱّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
ﻳُﺴﺘﺤﺐّ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺸﺘﻐﻼً ﺑﺬﻛﺮ ﺍﻟﻠّﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﺍﻟﻔﻜﺮ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻠﻘﺎﻩ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺼﻴﺮُﻩ ﻭﺣﺎﺻﻞُ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ، ﻭﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺁﺧﺮُ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻣﺼﻴﺮُ ﺃﻫﻠﻬﺎ؛ ﻭﻟﻴﺤﺬﺭْ ﻛﻞَّ ﺍﻟﺤﺬﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻓﺎﺋﺪﺓَ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﻭﻗﺖُ ﻓِﻜﺮ ﻭﺫﻛﺮ ﺗﻘﺒﺢُ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻐﻔﻠﺔُ ﻭﺍﻟﻠﻬﻮ ﻭﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻔﺎﺭﻍ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻜﻼﻡَ ﺑﻤﺎ ﻻ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻓﻴﻪ ﻣﻨﻬﻲٌّ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ، ﻓﻜﻴﻒ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺎﻝ .
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥّ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏَ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭَ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﻒُ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺍﻟﺴﻜﻮﺕُ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺴﻴﺮ ﻣﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻓﻼ ﻳُﺮﻓﻊ ﺻﻮﺕٌ ﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻻ ﺫﻛﺮ ﻭﻻ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ، ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻴﻪ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻭﻫﻲ ﺃﻧﻪ ﺃﺳﻜﻦُ ﻟﺨﺎﻃﺮﻩ ﻭﺃﺟﻤﻊُ ﻟﻔﻜﺮﻩ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺏُ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺎﻝ، ﻓﻬﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﻖّ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮّﻥّ ﺑﻜﺜﺮﺓ ﻣﻦ ﻳُﺨﺎﻟﻔﻪ، ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲّ ﺍﻟﻔُﻀﻴﻞ ﺑﻦ ﻋِﻴﺎﺽ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺍﻟﺰﻡْ ﻃﺮﻕَ ﺍﻟﻬﺪَﻯ، ﻭﻻ ﻳﻀﺮُّﻙَ ﻗﻠّﺔُ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ، ﻭﺇﻳﺎﻙ ﻭﻃﺮﻕَ ﺍﻟﻀﻼﻟﺔ، ﻭﻻ ﺗﻐﺘﺮَّ ﺑﻜﺜﺮﺓ ﺍﻟﻬﺎﻟﻜﻴﻦ .
Imam An-Nawawi Asy-Syafii Rahimahullah berkata: “Dianjurkan bagi orang yang mengantarkan jenazah untuk menyibukkan dirinya dengan mengingat Allah dan merenungkan apa yang akan dia temui setelah kematian, bagaimana tempat kembalinya, dan apa yang akan dia dapatkan di sana, serta memikirkan bahwa kematian merupakan penghujung dunia dan kondisi akhir penduduk dunia.
Kemudian, jangan sekali-kali berbicara mengenai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Karena pada saat itu adalah waktu untuk merenung dan berpikir tentang kehidupan setelah mati. Sangat tercela jika digunakan untuk hal yang melalaikan, main-main, dan sibuk dengan omong kosong. Karena berbicara yang tidak ada manfaatnya terlarang dalam setiap keadaan, maka baimana lagi dalam kondisi semacam ini.
Kemudian ketauhilah, bahwa (pendapat) yang benar dan sesuai dengan kebiasaan para sahabat adalah diam ketika mengiringi jenazah. Tidak boleh mengeraskan suara dengan membaca Al-quran atau dzikir, atau bacaan lainnya. Hikmahnya sangat jelas yaitu agar lebih tenang dan konsentrasi memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan jenazah, Inilah (pendapat) yang benar. Dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang bersikap sebaliknya. Fudhail bin ‘Iyadh Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Komitmenlah dalam menempuh jalan hidayah, tidak akan membahayakanmu dengan sedikitnya yang mengikuti. Dan hati-hatilah dengan jalan kesesatan, jangan terperdaya dengan banyaknya yang mengikuti. [Lihat Kitab Al-Adzkar Karya Imam An-Nawawi Asy-Syafii Rahimahullah dalam bab “Bacaan yang diucapkan para pengantar jenazah”]
Wallahu A’lam. Semoga Bermanfaat
Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud; Lc
Artikel:
alghurobasite.wordpress.com
Inilahfikih.com