Duhai Istriku, Qonaahlah…

Duhai Istriku, Qonaahlah…

Oleh: Arifin, SHI.

Jalan kehidupan rumah tangga memang tidak selalu bertabur bunga dan kondisi bahagia. Kehidupan rumah tangga laksana bahtera yang berlayar di lautan. Terkadang gelombang lautan menghempas bahtera. Demikian pula dalam kehidupan rumah tanggapun terdapat problematika, salah satunya adalah istri selalu merasa kurang atas nafkah suami, padahal suami sudah bekerja secara maksimal dan optimal.

Kepada para suami yang menghadapi problematika ini hendaknya bersabar dan berhati lapang. Janganlah terbawa emosi atas sikap istri. Sebab emosi bukanlah mengatasi masalah akan tetapi justru akan menambah masalah.

Terdapat beberapa saran untuk mengobati problematika ini;

  1. Bimbinglah dan ajarkanlah istri secara terus menerus.

Suami hendaklah menuntun dan membimbing istri perkara agamanya. Janganlah membiarkan istri dan anak-anak terlena dengan kehidupan dunia dan bergelimpangan harta. Arahkan mereka kepada kehidupan akhirat. Bimbinglah mereka akidah yang benar. Ajarkanlah hak dan kewajiban suami istri. Ketika mereka mengetahui hal itu semua, niscaya problematika rumah tangga lebih mudah dikomunikasikan dan dipecahkan. Ingatlah! Bimbinglah kepada istri dan anak-anak anda sifatnya terus menerus dan istiqomah.

Alloh  berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim [66] : 6)

  1. Ajaklah istri umtuk merenungi dan memperhatikan kehidupan para tetangga yang memiliki ekonomi lebih rendah dari kita.

Pernak-pernik kehidupan para tetangga tentunya bermacam-macam. Ada keluarga yang dianugerahkan oleh Alloh  harta banyak dan kesehatan bugar, namun tidak memiliki anak. Ada sebuah keluarga yang memiliki harta melimpah, namun ujian berupa sakit berat menimpanya. Ada keluarga yang miskin sampai untuk mencari sesuap nasi harus banting tulang siang dan malam. Ada yang suami istri bekerja dan ekonomi terpenuhi, namun anak-anaknya tidak diperhatikan.

Kita coba berbincang-bincang dengan istri memperhatikan kehidupan tetangga yang lebih rendah dari sisi ekonomi atau kesehatan atau anak ataupun yang lainnya.

Rosululloh  bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan dalam harta dan fisik, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

  1. Mengatur keuangan rumah tangga dengan baik dan benar.

Mengatur keuangan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan rumah tangga. Dan ketiadaan faktor ini kadangkala menjadikan konflik dalam rumah tangga. Untuk itu bagi yang sudah menikah namun selalu mengeluh mengenai masalah keuangan, mungkin harus mulai memanag atau mengatur keuangan keluarga anda.

Begitu pentingnya manajemen keuangan dalam keluarga karena banyak kasus atau permasalahan keluarga yang terjadi dan ujungnya adalah perceraian disebabkan suami/istri kurang bisa mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan dalam kehidupan berumah tangga. Sedikit kesalahan dalam hal keuangan dapat memicu permasalahan rumah tangga yang lebih besar dan terjadinya perceraian. Karena itu pandai-pandailah mengatur keuangan keluarga. Masing-masing pasangan suami istri perlu belajar dan mempraktekkan bagaimanakah caranya mengatur keuangan yang benar.

Meskipun gaji suami yang didapatkan besar  ketika tidak ada managemen keuangan yang benar, niscaya alur keuangan  tidak akan benar. Uang akan selalu habis dan tak tahu kemana dibelanjakan. Bahkan ketika pertengahan bulan neraca keuangan bisa minus.

Rosululloh  bersabda:

“Ridholah terhadap apa yang Alloh berikan padamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya.” (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Bani )

Ketahuilah yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu menuntut lebih.

Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qanaah (merasa cukup dan puas dengan rezeki yang Alloh  berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya.

Rosululloh  bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” (HR. Muslim).

Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qanaah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rosululloh  bersabda:

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Alloh menganugrahkan kepadanya sifat qanaah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Alloh Ta’ala berikan kepadanya”. (HR. Muslim)

  1. Mencari penghasilan tambahan atau pekerjaan yang lebih baik dengan syarat tidak mengorbankan faktor akidah dan keimanan.

Mencari penghasilan yang lebih baik merupakan suatu hal yang wajar. Namun faktor kehalalan dan keberkahan harta harus diperhatikan. Jangan sampai kita beralih kepada pekerjaan yang penghasilannya menggiurkan, tapi melanggar aturan syari’at Islam atau menjadikan diri kita tenggelam dalam kubang dosa dan kemaksiatan.

Artikel:

www.inilahfikih.com

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *