HIDUP MERDEKA TANPA SIHIR DAN PERDUKUNAN

HIDUP MERDEKA TANPA SIHIR DAN PERDUKUNAN

Oleh: Ali Maulida, S.S, M.Pd.I

Suatu hal yang wajib disyukuri bahwa kita hidup di negeri berpenduduk mayoritas muslim. Namun demikian, hal ini bukan berarti tidak adanya problem di bangsa ini khususnya pada aspek akidah (keyakinan) dan kehidupan beragama secara umum. Karena jika dilihat lebih dalam, berbagai kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang bangsa Indonesia lengkap dengan ritual-ritualnya telah ikut masuk dan menodai kemurnian keislaman yang mereka anut.

Kesyirikan yang dibalut dengan mengatasnamakan budaya pun telah mendarah daging. Sebut saja misalnya kepercayaan terhadap binatang tertentu dan benda-benda mati dengan dibungkus istilah pusaka yang diyakini memiliki keistimewaan. Akidah ini melahirkan berbagai bentuk pemujaan dan pengagungan, sampai bahkan pada tingkat meminta hajat kebutuhan atau meminta perlindungan kepada benda-benda dan binatang tersebut.

Belum lagi kepercayaan terhadap makhluk halus (jin/ setan dengan berbagai namanya) yang diyakini menunggu tempat atau wilayah tertentu yang mereka mintakan perlindungannya, atau pertolongan dan ‘tuah’nya. Masih banyak lagi aneka ragam keyakinan lain yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Bentuk keyakinan lain yang juga masih melekat pada masyarakat kita adalah kepercayaan terhadap kemampuan istimewa pada orang-orang tertentu di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Dengan berbagai istilah seperti; sakti mandraguna, ilmu kedigdayaan, atau kemampuan supranatural, perhatian dan kekaguman masyarakat pun tertuju pada orang-orang yang telah dikenal memilikinya.

Era modern saat ini makin meramaikan kosakata istilah yang dikenal di tengah masyarakat. Kini bukan hanya dimonopoli oleh istilah ‘mbah dukun’ dan ‘orang pintar’, beragam nama keren pun bermunculan dengan menunjukkan spesialisasi kemampuan mereka, seperti paranormal, mentalist, ahli supranatural, ahli hipnoteraphis, penasihat spiritual dan lain-lain.

Masyarakat tampak tidak begitu peduli bagaimana tinjauan Islam terhadap hal ini. Karenanya tidaklah mengherankan jika banyak diantara mereka yang menggantungkan segala bentuk pinta dan harap kepada sosok-sosok tersebut. Dari sejak meminta kesembuhan jika terserang sakit sampai menjadikan mereka tempat mengadu ketika terjadi prahara rumah tangga. Tak terhitung lagi mereka yang meminta diramalkan nasib dan peruntungan, juga yang meminta-minta saat jodoh tak kunjung tiba.

Mendatangi dukun kini bukan lagi dianggap dosa besar, bahkan sudah dianggap lumrah dan biasa.  Yang melakoninya pun bukan hanya rakyat kelas bawah. Kalangan pejabat yang mengincar kursi empuk di lembaga eksekutif atau legislatif, pengusaha yang ingin menang tender dan meminta sang dukun melunakkan hati rekan bisnis mereka, bahkan sampai para siswa sekolah yang sedang sibuk menghadapi ujian, terdengar pula kabar mereka mendatangi mbah dukun dan meminta ritual agar lulus dalam ujian.

Dengan alasan ikhtiar, mereka tak lagi peduli rambu-rambu larangan di dalam Islam. Padahal Rosululloh  telah memperingatkan dan memberikan ancaman keras agar kita tidak mendatangi dukun. Beliau bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً فَصَدَّقَهُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun dan mempercayainya maka ia telah kafir terhadap risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ”  (HR. Abu Dawud).

مَنْ أَتَى عَرَّافاً لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةً أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi dukun maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari” (HR. Muslim).

Beragam sikap masyarakat dalam merespon persoalan hidup di dunia ini yang sangat kental dengan dunia klenik dan perdukunan sungguh sangat mengkhawatirkan. Para dukun dengan berbagai labelnya itu mendapatkan kedudukan terhormat, bahkan menjadi referensi dan wadah konsultasi beragam problema yang dihadapi.

Aksi-aksi tipu para dukun ini pun kerap masih samar di mata sebagian masyarakat. Padahal, tak mungkin ada dukun yang bisa melakukan aksinya tanpa menggunakan sihir di dalamnya. Ibarat sebuah komputer, dukun adalah ‘perangkat keras’nya dan sihir adalah ‘perangkat lunak’nya. Jika tak menggunakan sihir maka dukun pun tak bisa bertindak.

Beragam trik dan kemampuan ‘luar biasa’ cukuplah menjadi bukti. Dari aksi kekebalan tak mempan dibacok senjata tajam, tak terluka dengan memakan benda-benda tajam, berjalan di atas bara atau kobaran api, mampu menarik benda yang berkali lipat beratnya, dan masih banyak atraksi lainnya.

Belum lagi aksi mempengaruhi pihak lain, baik dengan mengirim santet atau teluh yang menyakiti bahkan membunuh korbannya, juga yang secara halus membuat orang lain tak sadarkan diri, tertidur pulas, pingsan, atau membuat seseorang bertingkah laku yang sangat berbeda dengan kepribadiannya. Termasuk pula membuat seseorang jatuh cinta atau sebaliknya membenci pihak yang diinginkan. Semua itu tak ragu lagi adalah bentuk-bentuk sihir dari para dukun durjana. Semua kemampuan itu mereka raih setelah melakukan penyembahan kepada setan dengan ritual-ritual yang mereka rahasiakan. Sudah barang tentu ritual tersebut merupakan bentuk kesyirikan dan bagian dari kekufuran.

Selamatkan Keluarga Kita dari Sihir dan Perdukunan

Melihat tipu daya para dukun yang telah begitu merajalela di tengah masyarakat, setiap muslim wajib melakukan berbagai upaya positif agar tidak semakin banyak korban yang berjatuhan, diantaranya:

  1. Selalu menggantungkan setiap urusan dan meminta semua kebutuhan kepada Alloh .

Alloh  Maha Pemberi rezeki. Dia-lah Yang Maha Pemberi semua kebutuhan dan mengatur segala urusan makhluk-makhluk-Nya. Oleh karena itu, hendaklah kita selalu meminta setiap kebutuhan kita kepada-Nya, baik hal-hal besar maupun yang kita anggap kecil.

Alloh  berfirman:

“Robb kalian telah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan…” (QS. al-Mu’min [40]: 60).

Rosululloh  mengajarkan kita untuk selalu meminta kepada Alloh  dalam segala hal, dan Alloh  sangat suka diminta oleh hamba-Nya.

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ، يَسْتَحْيِيْ إِذَا رَفَعَ اْلعَبْدُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Alloh Maha Pemalu. Dia sangat malu jika seorang hamba mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya lalu kembali dalam keadaan hampa” (Shohih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dll).

Jika dalam diri setiap muslim telah tertanam pemahaman yang benar akan sifat-sifat Alloh  dengan ke-Maha Sempurnaan-Nya, maka tak akan ada lagi terlintas keinginan untuk menyambangi atau meminta-meminta kepada mbah dukun atau siapapun makhluk yang memang tidak layak dijadikan sandaran.

  1. Membiasakan anak-anak  kita dan mengajarkannya untuk membaca dzikir dan doa yang diajarkan Rosululloh dalam segala aktivitas.

Diantara bentuk kesempurnaan ajaran Islam adalah tuntunan dzikir dan doa yang sangat lengkap dalam setiap aktivitas kita. Sejak dari bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, melepas atau mengenakan pakaian, sebelum dan selesai makan dan minum, keluar atau masuk ke dalam rumah, hendak berangkat pergi dan naik kendaraan, serta dzikir-dzikir lainnya yang sangat disukai untuk dibaca dalam menemani seluruh aktivitas sepanjang hari.

Termasuk pula membaca dzikir-dzikir yang disunnahkan di pagi dan petang hari, juga dzikir-dzikir untuk  meminta perlindungan kepada Alloh  dari gangguan makhluk-Nya.

  1. Menjauhi tayangan TV atau bahan bacaan terutama yang terkait dunia mistik, klenik dan perdukunan.

Efek negatif dari tayangan televisi saat ini tidak diragukan lagi. Gaya hidup glamor dan pergaulan tanpa batas-batas syariah dipertontonkan dengan begitu vulgar dan telah menjadi sumber rujukan yang ditiru oleh masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah hal-hal yang mengotori akidah kita yang ditampilkan dalam berbagai film, sinetron dan berbagai program entertainmen.

Jurus-jurus kesaktian dan aksi-aksi para pendekar dalam berlaga ditambah dengan efek pencahayaan dan suara telah membuat pemirsa semakin  terpukau, dan tanpa sadar mereka menjadi korban pembodohan dan pendangkalan akidah oleh media. Apa jadinya jika sihir yang merupakan salah satu bentuk kekufuran malah dijadikan tontonan yang mengasyikkan?

  1. Menanamkan kebencian terhadap tokoh perdukunan.

Para tokoh dunia perdukunan telah menebar kerusakan yang begitu besar. Mereka menjajakan beragam bentuk kesyirikan yang hakikatnya jauh lebih berbahaya dari kerusakan fisik. Aksi-aksi tipudaya mereka telah berhasil menyesatkan masyarakat. Mirisnya lagi, tak satupun lembaga masyarakat yang menggugat dan mempermasalahkan aksi-aksi mereka. Kalaupun ada, tidak sebanding dengan kerusakan masal yang telah mereka timbulkan.

Tentunya masih banyak upaya positif lainnya yang harus dilakukan. Termasuk penyuluhan yang gencar dengan berbagai media yang memungkinkan. Tentunya semua ini dengan tujuan agar masyarakat dapat hidup merdeka tanpa sihir dan perdukunan.

Semoga Alloh  selalu melindungi kita, keluarga dan anak keturunan kita dari tipu daya sihir dan perdukunan, amiin..¨

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *