KEMBALI KEPADA AS-SUNNAH

KEMBALI KEPADA AS-SUNNAH

Oleh: Ganjar Wijaya

Pada kesempatan yang lalu kita telah membahas tentang betapa Al-Qur’an telah mengajarkan metode pendidikan terbaik bagi umat manusia. Al-Qur’an yang berfungsi sebagai tibayanan li kulli syai (penjelas atas segala sesuatu) tentu mengandung garansi akan adanya metode, sistem, dan berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, begitupun dengan as-Sunnah yang tiada lain wahyu dari Alloh .

Jadi prinsipnya sama saja. Kita sebagai muslim yang mengaku berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah seharusnya hanya menggunakan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai petunjuk dalam segala problematika kehidupan kita. Pun dalam urusan mendidik anak ataupun keluarga kita.

Kita sangat yakin dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi anehnya, kita seringkali meligitimatsi selain keduanya untuk menjadi pedoman mendidik anak maupun keluarga kita. Atau terkadang, kita yakin dengan metode pengajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, setelah adanya kecocokan dengan penelitian-penelitian ilmiah. Jika tidak cocok, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah disingkirkan. Wal’iyadzubillah. Harus benar-benar dipertanyakan keberadaan iman kita jika memang hal tersebut yang terjadi.

Nah…, sepertinya memang, nilai-nilai keyakinan seperti itu datangnya karena penanaman keislaman yang kurang ataupun sedikit di dalam meresearch (menggali) nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Padahal keduanya adalah sumber mata air petunjuk yang tidak pernah habis.

Di dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang telah kita bahas pada edisi sebelumnya terdapat berbagai cara mendidik, contoh hasil didikan dan lainnya yang dapat kita gali sebagai sumber pendidikan keluarga kita, begitupun dalam As-Sunnah, jika kita gali maka akan tumpah ruah meluberi buku-buku pendidikan kita.

Sebagai contoh dan sekaligus pembuka, kita bisa menyimak 2 hadits yang pernah disampaikan oleh Rosululloh . Hadits yang pertama datangnya dari ibnu Abbas  dan hadits kedua datangnya dari Abdulloh ibnu Umar :

Dari Ibnu Abbas  dia berkata: Aku dibonceng Nabi  dan beliau berkata, “Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Alloh memberimu manfaat dengannya.” Aku berkata: Ya Nabi berkata, “Jagalah Alloh, Dia akan menjagamu. Jagalah Alloh, kamu akan menjumpai-Nya ada di hadapanmu. Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit. Jika kamu minta, mintalah kepada Alloh. Jika kamu minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Pena telah kering terhadap semua yang ada, maka jika seluruh makhluk ingin memberimu manfaat (menolongmu) dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Alloh untukmu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika mereka ingin membahayakan dirimu dengan sesuatu yang tidak ada dalam takdir Alloh padamu, mereka tidak akan sanggup melakukannya. Ketahuilah, sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal yang tidak kamu sukai ada banyak sekali kebaikan. Sesungguhnya kemenangan datang bersama dengan kesabaran. Sesungguhnya solusi datang bersama dengan kesulitan. Dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dia berkata; hasan shohih)

Dari Mujahid, dari Abdulloh bin Umar  dia berkata: Rosululloh  memegang pundakku dan beliau bersabda, “Jadilah kamu di dunia ini seakan seorang yang asing (pengembara) atau penyeberang jalan.” Mujahid berkata: Ibnu Umar berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu hingga pagi hari. Dan jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhori)

Dua hadits tersebut mungkin sudah pernah kita simak dan sepintas terkesan biasa saja yang “sekedar” mengandung informasi yang sudah kita yakini bersama, tidak ada yang lainnya.

Kita yang kurang dalam menggali Al-Qur’an dan As-Sunnah mungkin akan berpikiran simpel seperti itu. Namun sungguh, dari kedua hadits tersebut kita akan dapati metode pendidikan terbaik yang mungkin saat ini baru digalakkan. Metode dan hal-hal apa sajakah yang dapat kita gali dari kedua hadits tersebut? InsyaAlloh, pada edisi mendatang akan kita lanjutkan. Ya Alloh  bimibinglah kami..!! Aamiin, Wallohu a’lam.

Artikel:

www.inilahfikih.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *