Peradaban Islam VS Peradaban Modern (Barat)

Peradaban Islam VS Peradaban Modern ( Barat )

Oleh: Arifin, SHI.

Islam merupakan agama yang mulia, karena kemuliannya itulah umat ini dapat membangun peradaban yang kokoh sehingga bisa eksist sampai sekarang. Akan tetapi pada saat ini umat islam seolah-olah tidak banyak berperan di panggung dunia bahkan mungkin umat ini hanya jadi objek penderita yang ikut terombang – ambing oleh hiruk pikuknya kehidupan dunia modern. Salah satu faktor yang menyebabkan umat ini mundur dan terbelakang adalah karena tergerusnya umat ini oleh peradaban modern yang dimainkan oleh barat ( Yahudi dan Nashoro ). Padahal umat  islam tidak mungkin kalah kalau mereka tetap berpegang teguh kepada apa yang menjadikan mereka tetap jaya dan mulia yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

Adapun musuh-musuh islam dalam hal ini barat, mereka terus berusaha mencari kelemahan umat ini agar mereka bisa menghancurkan dan menceraiberaikan umat islam dan peradabannya sehingga mereka bisa dengan leluasa mengusai dunia dan berbuat kerusakan semaunya.

Barat memiliki satu tujuan, yaitu mengenyahkan identitas peradaban umat islam. Selama berabad – abad, barat telah menghadapi umat ini dan selama itu pula umat islam kokoh tidak pernah terkalahkan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mengetahui bahwa umat islam kuat karena menyandang predikat sebagai umat Islam. Mereka bangga dengan keislamannya sehingga disegani oleh lawan. Kini, barat mengambil sebuah keputusan, yaitu memalingkan umat islam dari identitas sejatinya. Dalam rangka memuluskan jalan agar tujuan itu tercapai, barat berupaya membuat berbagai macam sarana, dimana yang paling berhasil pengaruhnya adalah ide tentang “interaksi antara peradaban”.

Slogan demi slogan kosong mereka terus gencarkan ke telinga kaum muslimin, tujuannya, mereka ingin mengatakan kepada kita bahwa peradaban islam tidak mampu berdiri kokoh kecuali setalah orang-orang arab pada saat itu menyerap intisari dari berbagai macam peradaban baik yang telah mendahuluinya maupun yang ada pada saat itu kemudian melebur menjadi peradaban baru.  Jadi, menurut mereka umat islam akan tetap bisa eksis sebagai pemilik peradaban yang cemerlang, tergantung sejauh mana mereka bisa mengikuti aktivitas belajar dan mendidik diri dengan berbagai paradaban dan pemikiran lainnya. Karena itu, ketika masyarakat islam menutup diri dari peradaban lain, pada saat itu pula kelemahan mulai menjangkit didalam dirinya, masyarakat mulai tertimpa kebekuan dan kejumudan. Mereka juga mengatakan bahwa jika umat islam saat ini ingin kembali menggapai kecemerlangan peradabannya, tidak ada jalan lain kecuali harus memulainya dengan aktivitas pertukaran antar peradaban ( at-Tabaadul al-Hadhaari). Umat islam harus dapat menerima apa yang dimiliki oleh peradaban barat kontemporer, baik berupa ide, tesis, pemahaman, berbagai tolak ukur, maupun sistem bagi kehidupan dan masyarakat. Itu merupakan kata-kata beracun yang dilontarkan oleh barat untuk meragukan eksistensi kaum muslimin, bahwa menurut mereka peradaban islam itu merupakan produk yang berasal dari interaksi antara peradaban lainnya. Padahal peradaban islam itu tidak lain merupakan wahyu dari Alloh subhanahu wa ta’ala, bukan produk manusia.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…”  (QS. al-Maidah [5]: 3 )

Orang-oarang kafir  dari kalangan Yahudi dan Nashoro tidak beriman kepada Islam dikarenakan kedengkian yang ada pada diri mereka. Mereka membuat propaganda yang dilakukan secara terus menerus di tubuh kaum Muslimin yang menjadikan sebagian besar intelektual muslim ternyata merasa puas dengan nasihat yang dilancarkan oleh barat berupa propaganda interaksi antara peradaban. Mereka mulai menerima buah sebagian dari peradaban barat. Meskipun pada mulanya mereka masih tetap waspada, akan tetapi, ketika telah merasakan kelezatannya, mereka kemudian meminta tambahan lagi. Hingga akhirnya sirnalah segala penghalang yang sebelumnya mengahadang didepan peradaban tersebut. Implikasi dari itu semua adalah munculnya orang-orang didalam tubuh kaum muslimin yang mengkampanyekan peradaban barat dengan seluruh isinya yang orisinal. Sampai akhirnya munculah slogan-slogan dari sebagian tokoh kaum muslimin yang mengatakan, “ mengambil yang sesuai dengan identitas kita dari peradaban asing” membumbung tunggi di udara.

Begitulah tiba-tiba umat islam menjumpai dirinya berada dalam keadaan telah kehilangan identitasnya, tercerabut kepribadiannya, mengonsumsi begitu saja sistem barat. Sementara itu, yang telah didapatkan oleh barat yakni berupa pencapaian dibidang materi, tidak didapatkan oleh kaum muslimin.

Akhir-akhir ini, bersamaan dengan munculnya slogan globalisasi ( al-awlamah ) yang diangkat oleh Amerika Serikat, tampak bahwa peradaban barat ingin menjadikan dirinya sebagai peradaban tunggal di dunia internasional, yang akan membentuk kehidupan seluruh bangsa-bangsa di dunia. Menurut mereka sejarah dunia telah berakhir dan telah sampai pada tujuan yang paling akhir, dimana seluruh manusia di dunia ini dituntut untuk menjadi sebuah masyarakat tunggal hidup sesuai dengan corak peradaban yang paling maju sepanjang sejarah dan inilah peradaban universal.

Jadi, interaksi peradaban ini merupakan salah satu trik barat untuk menghancurkan peradaban islam dengan metode pendekatan sehingga banyak sekali dari kaum muslimin yang tidak menyadari akan hal ini. Berbeda ketika umat islam diserang secara militer, maka dengan serempak umat ini bersatu untuk melawannya. Mereka ( Barat ) menyadari bahwa ketika umat ini diserang dengan senjata maka akan mendapati perlawanan yang hebat, akan tetapi mereka mengambil jalan yakni dengan perang terhadap pemikiran dan terbukti ini telah berhasil.

Akan tetapi umat islam jangan menyerah dengan keadaan seperti ini, karena sekali-kali Alloh tidak akan rela kalau bumi ini dipimpin oleh orang-orang yang dzolim. Peradaban islam sampai menjelang kiamat akan terus ada, dan Alloh tidak akan mengakhiri dunia ini sebelum islam kembali jaya dan berperan sebagai khilafah dalam kehidupan ini. Asalkan syarat-syarat untuk mencapai kejayaan itu harus terpenuhi (lihat: QS. an-Nuur [24] : 55).

Kaum muslimin harus bangga dengan keislamannya, tidak ada peradaban yang lebih baik melainkan islam. Sedangkan peradaban modern saat ini hanya menilai suatu kehidupan ini dengan materi belaka, dimana tujuan tertinggi dari segalanya adalah kemanfaatan materi, harta, profesi, kekuatan dan kekuasaan. Sedikitpun tidak terbersit dalam akal orang-orang kafir itu apa yang akan terjadi setelah kehidupan ini , seperti hari berbangkit, padang mahsyar, hari berhisab, surga dan neraka. Wajar jika tidak ditemui pengaruh ruhiyah dalam kehidupan mereka.

Inilah yang ditegaskan oleh Alloh dalam firman-Nya :

 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi .”(QS. al-Qoshosh  [28]: 77 )

Dalam islam juga diajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya akan diperoleh melalui ridho-Nya Alloh, sebagaimana firman-Nya :

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. ( Q.S. An-Nahl : 97 ).

Begitu pula apabila berpaling dari aturan- aturan Alloh mereka akan mendapatkan kesengsaraan. Alloh berfirman :

 “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS. Thoha [20]:124 )

Demikianlah islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berpandangan bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia, Sedangkan peradaban barat akan menganggap bahwa kemuliaan itu dihitung berdasarkan materi dan itu terjadi hanya didunia.

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *