Kafirkah Orang yang Tidak Berhukum dengan Hukum Allah?

Kafirkah Orang yang Tidak Berhukum dengan Hukum Allah?

Berikut pemaparan para ulama tentang masalah ini:

Pertama:

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah pernah ditanya, ‘’Apakah pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah orang kafir?Jika kita kita katakan semua masih muslim, maka bagaimana dengan firman Allah Ta’ala yang berbunyi, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.’’ (QS. Al- Maidah: 44)

Beliau menjawab, ” Pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah terbagi menjadi beberapa macam, hukum mereka berbeda-beda, sesuai dengan keyakinan dan perbuatan mereka. Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah dan dia menganggap bahwa hukum itu lebih baik dari hukum Alloh, maka dia telah kafir menurut pendapat semua ulama kaum muslimin.

Begitu juga yang memberlakukan hukum positif sebagai pengganti dari hukum Allah dan menganggap perbuatan itu diperbolehkan, walau dia mengatakan, ‘’Menerapkan hukum syariah lebih baik’’, maka dengan itu dia telah kafir karena menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Adapun jika orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, karena mengikuti hawa nafsunya, karena mendapatkan uang suap, adanya permusuhan antara dia dan orang yang terkena pidana atau sebab lain, sedangkan dia mengetahui bahwa dia telah berbuat maksiat kepada Allah dengan perbuatannya itu dan dia meyakini bahwa dia wajib berhukum dengan hukum Allah, maka orang seperti itu disebut sebagai pelaku maksiat atau pelaku dosa besar, dia telah melakukan perbuatan kufur kecil, kezholiman yang kecil, dan kefasikan yang kecil. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyalllahu ‘anhuma, Thawus dan segelongangan dari generasi salaf shalih, hal ini merupakan hal yang sudah diketahui oleh para ulama. Wallahu A’lam. [Disalin dari buku Kultum Setahun Karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman Al-Qosim Penerbit Darus Sunnah Cetakan ke – 2 Halaman 331-332]

Kedua:

Berikut ucapan syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah dalam kitabnya Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, beliau rahimahullah berkata:

عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ. رواه الدارمي، وقال الشيخ حسين أسد: إسناده صحيح

Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang merobohkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: Yang merobohkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan keputusan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (Riwayat ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih)

Ammad Ibnu Kasir rahimahullah berkata: Ayat diatas (Surat An-nisa 60-62) merupakan celaan bagi orang meninggalkan Al-Quran dan Hadits dan berhukum kepada selainnya yaitu berupa hukum batil maka inilah yang dimaksud berhukum kepada thogut”

“Siapa saja yang berhukum dengan selain Al-Quran dan As-Sunnah maka ia telah berhukum dengan hukum thoghut yang kepadanya orang beriman diperintahkan oleh Allah untuk mengkufurinya (meninggalkan hukum thogut)”

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: Ayat ini (Surat An-Nisa 61-62) adalah dalil bagi siapa saja yang diajak untuk berhukum dengan Al-Quran dan As-Sunnah kemudian ia enggan atau menolaknya maka ia termasuk orang munafik “. [Dikutip dari Kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid karya syaikh Abdurrahman bin Hasan Darul Aqidah Cetakan Pertama Tahun 1427 H/2006 Halaman 379-382]

Ketiga:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Wajib bagi siapa saja untuk tidak mengambil hukum yang bukan dari Allah, dan mengembalikan semua perdebatan manusia kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena agama semua hamba hanya untuk Allah dan memurnikan tauhid kepada-Nya. Semua orang yang berhukum kepada selain hukum Allah maka ia telah berhukum kepada thoghut walaupun ia mengaku mukmin, sama saja ia telah telah berdusta. Iman tidak sah kecuali dengan berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-Nya dalam perkara ushul (pokok) dan furu’ (cabang), barang siapa berhukum dengan hukum selain dari Allah dan Rasul-Nya maka ia menjadikan hukum itu sebagai tuhan dan ia telah berhukum kepada thoghut.” [Diambil dari Kitab Al-Qoulus Sadid Fi Maqosidit Tauhid Karya Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di Darul Aqidah Halaman 529]

Keempat:

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah membedakan antara orang yang membuat hukum yang bukan dari Allah atau hukum itu ia jadikan sebagai pengganti hukum al-Quran dan diterapkan di masyarakat maka ini sebuah kekafiran, berbeda dengan seseorang berhukum dalam kasus-kasus tertentu dengan hukum yang tidak sesuai Al-Quran misalnya si A adalah sebagai hakim ia memghakimi 2 orang yaitu si B dan si C yang sama-sama tertuduh sebagai pencuri. Si A sudah mengetahui bahwa pencurinya adalah si B tetapi ia memutuskan bahwa pencurinya adalah si C maka dalam hal ini tidak otomatis dia kafir tetapi ia dihukumi fasiq atau dzalim jika ia berhukum dengan hawa nafsu, bahkan ia disuap, tetapi jika dihatinya masih meyakini hukum Allah lebih baik. Apabila di hatinya berkeyakinan bahwa hukum dia atau manusia sama atau lebih baik dari hukum Allah maka ia telah kafir.

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Adapun bagi orang yang meletakkan undang-undang buatan manusia sedangkan ia mengetahui tentang hukum Allah dan hukum buatan manusia itu menyelisihi hukum Allah maka ini disebut telah mengganti hukum Allah. Maka dia kafir karena secara otomatis ia menganggap bahwa hukum buatan manusia lebih baik bagi manusia dan negara daripada hukum Allah. Ketika kami katakan bahwa ia kafir maksudnya perbuatan dia mengantarkan kepada kekafiran. [Diambil dari Kitab Al-Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid Karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Pustaka Muassasah Ar-Risalah Halaman 439]

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Wajib bagi penuntut ilmu mengetahui perbedaan antara membuat undang-undang buatan manusia dan diterapkan sebagai pengganti Al-Quran dengan seseorang yang berhukum dalam kasus-kasus tertentu yaitu berhukum tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka dalam hal ini bisa kafir atau fasiq atau dzalim. Bisa kafir apabila meyakini undang-undang buatan manusia itu lebih baik atau sama dengan hukum Allah. Bisa fasiq apabila menghukumi sesuatu karena hawa nafsu saja (bukan menganggap hukum dia lebih baik dari hukum Allah). Bisa dzalim apabila membuat mudhorot atau bahaya terhadap orang yang dikenai hukum (dan juga tidak menganggap hukum dia lebih baik dari hukum Allah). [Diambil dari Kitab Al-Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid Karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Pustaka Muassasah Ar-Risalah Halaman 502]

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat

@Abul Fata Miftah Murod, Lc; S. Ud

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *