LIMA MACAM GERAKAN SHALAT

LIMA MACAM GERAKAN SHALAT

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah berkata, “Di antara perbuatan yang termasuk dalam hal mendirikan shalat adalah seseorang merasa khusyu’ kepada Allah Taala secara lahir dan batin.

Khusyu’ secara batin adalah dengan
menghadirkan hati, sedangkan khusyu’ secara lahir adalah diam dan tidak banyak bergerak.

Gerakan dalam shalat terbagi atas lima macam:

1. Gerakan yang wajib, yaitu wajib melakukan gerakan dalam shalat, gerakan yang apabila ditinggalkan menyebabkan shalat batal, gerakan seperti ini hukumnya wajib.
Misalnya, seseorang mendirikan shalat tanpa menghadap kiblat, maka datang seseorang kepadanya dan berkata, “Kiblat di sebelah
kananmu”, maka dalam keadaan seperti ini dia wajib untuk bergerak
menghadap ke arah kanan, karena jika dia tetap diam pada arah itu, shalatnya batal.

Contoh lain, jika seseorang mengingat bahwa pecinya terkena najis, maka wajib baginya bergerak untuk melepaskan pecinya, seperti apa
yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika
Jibril datang kepadanya dan memberitahukan bahwa pada kedua
sandal beliau terdapat najis, maka beliau langsung melepaskannya.

2. Gerakan yang sunnah, yaitu gerakan yang disunnahkan dalam shalat.
Contoh, seseorang maju ke shaf kosong yang ada di depannya, gerakan ini disunnahkan karena untuk menyempurnakan shaf dan
mengisi tempat yang kosong, serta maju ke shaf yang lebih utama.

Contoh lain, begitu juga jika susunan shaf terlalu renggang bergeser untuk merapatkannya, gerakan ini disunnahkan karena merupakan sunnah dalam shalat.

3. Gerakan yang makruh, yaitu gerakan yang ringan tanpa ada keperluan, gerakan seperti ini hukumnya makruh karena ia merupakan gerakan main-main yang dapat menghilangkan khusyu’. Sebagaimana yang kita lihat pada kebanyakan orang, diantara mereka ada yang melihat jam tangan ketika shalat, merapikan pecinya, atau setan mengingatkannya kepada sesuatu hal yang terlupa, maka ia pun mengeluarkan pena dan mencatatnya agar ia tidak lupa lagi, padahal ia sedang shalat, dan masih banyak contoh lainnya.

4. Gerakan yang haram, yaitu melakukan banyak gerakan yang berturut-turut tidak dalam keadaan darurat. Banyak gerakan yang
kami maksud bukan gerakan yang sedikit, karena gerakan yang
sedikit hukumnya makruh. Berturut-turut yang kami maksud bukan gerakan yang terpisah-pisah. Jika seseorang melakukan sedikit gerakan pada rakaat pertama, begitu pula rakaat kedua, ketiga, dan keempat. Jika kita kumpulkan semua gerakan ini, maka ia adalah gerakan yang banyak. Namun, semua gerakan ini
dilakukan secara terpisah, maka tidak termasuk kategori gerakan yang banyak. Kemudian, maksud perkataan kami ‘tidak dalam keadaan darurat
berarti di luar gerakan yang darurat, contohnya seseorang yang dalam
keadaan perang yang membutuhkan banyak gerakan dalam membawa
senjatanya dan mengarahkan senjatanya tersebut ke arah musuh, atau keadaan darurat yang serupa dengannya.

Allah Ta ‘ala berfirman:
…Kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyem-purnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum
shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. (QS. An-Nisaa: 102)

Perbuatan ini harus dilakukan oleh para mujahidin yang sedang
berperang di jalan Allah Ta’ala.

Di antara hal yang termasuk dalam kategori ini, yaitu jika musuh datang di hadapannya dan dia pun lari, maka gerakan yang banyak seperti ini dimaafkan, karena ia dalam keadaan darurat. Begitu pula, jika ada ular yang menyerang orang yang sedang
melakukan shalat dan ia berusaha untuk melindungi dirinya, maka
gerakan seperti ini diperbolehkan walaupun ia melakukan banyak
gerakan, karena ia dalam keadaan darurat.

5. Gerakan yang boleh, yaitu gerakan yang ringan karena adanya
keperluan atau gerakan yang banyak karena darurat.

Contohnya, jika seorang ibu bersama anaknya yang menangis, jika ia menggendongnya anak itu diam, maka tidak mengapa baginya pada saat itu untuk menggendongnya dalam keadaan berdiri ketika shalat dan ia bisa meletakkannya ketika duduk. Gerakan yang ringan
seperti ini dilakukan karena adanya keperluan dan hukumnya boleh,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab.
berdiri, beliau menggendongnya dan ketika hendak sujud, beliau
meletakkannya. (Lihat Min Ahkami Ash-Shalah hal. 33)

Sumber:

Disalin dari Buku Kultum Setahun Karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman Al-Qasim Pustaka Darus Sunnah Cetakan Ke -2 Halaman 241-242

Artikel: www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *