Hukum-Hukum Air

Hukum-Hukum Air

Air diciptakan dalam keadaan thahur (suci dan mensucikan). Digunakan untuk bersuci dari hadats dan najis. Thaharah tidak dianggap sah jika
menggunakan benda cair selain air.

Apabila air telah mencapai dua
qullah atau ia mengalir, ia tidak akan menjadi najis oleh benda apa pun,
kecuali bila telah berubah warna, rasa, atau baunya.

Selain itu, air bisa berubah menjadi najis jika bercampur dengan
benda najis. Ukuran dua qullah sekitar 108 rithl Damaskus.

Apabila benda yang tidak thahur dimasak di dalam air- jika ia bercampur dengan sesuatu sehingga melebihi kadarnya, atau ia dipakai untuk bersuci dari hadats- maka air yang semulanya thahir berubah menjadi tidak thahur lagi.

Ketika air diragukan statusnya, apakah thahur atau najis, mungkin karena sudah ada yang berubah, hukum air tersebut berdasarkan yang diyakini.

Jika bagian yang najis dari pakaian tidak jelas maka dicuci bagian yang diyakini najisnya.

Apabila kita ragu menentukan antara air yang thahur dengan yang
najis (sedangkan kita yakin salah satunya ada yang suci), sementara
tidak ada air yang lain maka kita bertayamum dan meninggalkan kedua
air tersebut.

Apabila diragukan antara air yang thahur (suci dan menyucikan)
dengan air yang thahir (suci tapi tidak menyucikan) maka hendaklah
berwudhu dengan kedua-duanya.

Apabila tidak diketahui mana pakaian yang suci dan mana pakaian yang terkena najis maka ia shalat dangan menggunakan pakaian yang berbeda-beda, sejumlah pakaian yang dianggap najis tersebut, ditambah
satu kali shalat lagi.

Benda yang terkena najis yang berasal dari anjing dan babi di cuci sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Sedangkan jika terkena najis lain, cukup dibersihkan sebanyak tiga kali.

Apabila najisnya mengenai permukaan tanah maka cukup dengan satu kali siraman air. Sebagaimana hadis Nabi: “Siramlah bekas air kencing orang Arab Badui itu, dengan satu ember air (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk membersihkan najis dari air kencing anak laki-laki kecil yang
belum memakan makanan, cukup dengan percikan air, begitu pula untuk
membersihkan madzi.

Madzi, begitu pula dengan darah dan bermacam macam zat yang berasal darinya semacam nanah dan sebagainya, jka kadarnya sedikit maka hal itu dimaafkan. Yang dimaksudkan ialah yang tidak dianggap banyak oleh umumnya manusia. Air mani manusia dan air kencing hewan yang dimakan dagingnya adalah thahir (suci).

Sumber:

(Disalin dari Kitab Umdatul Fiqh Karya Imam Ibnu Qudamah Penerbit Al-Qowam Halaman 15-16)

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *