MENYUSUI ANAK DALAM ISLAM

MENYUSUI ANAK DALAM ISLAM

A. Definisi

Menyusui menurut bahasa adalah mengisap susu dari puting susu, baik itu dari bina tang maupun dari manusia.

Menurut syariat adalah mengisap susu dari puting susu atau meminumnya dan semacam
nya.

B. Hukum Menyusui

Terkait ibu, dia wajib menyusui anaknya selama dia berada dalam tanggungan suami, berdasarkan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala:

“Para ibu (hendaklah) menyusui anak-
anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah (2]: 233)

Kata “menyusui”adalah kalimat berita yang bermakna perintah. Kemudian berfirman, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Adapun setelah dia berpisah dengannya, maka ibu tidak diharuskan menyusuinya tetapi dianjurkan kepadanya agar menyusuinya.

Dalil bahwa dia tidak diharuskan adalah firman-Nya: “Dan jika kamu menemui kesulitan, perempuan lain boleh menyusukan (anak
itu) untuknya.” (QS. Ath-Thalaaq: 6)

Tetapi, jika anak itu tidak menerima puting susu yang lainnya, maka dengan demikian dia wajib menyusuinya sebagai bentuk penyelamatan terhadap anak yang tidak berdosa bukan lantaran dia sebagai ibunya. Maka dari itu
seandainya diasumsikan bahwa ibunya meninggal dan anak ini tidak dapat menerima susu buatan tetapi menyusu pada seorang wanita, maka
wanita ini pun wajib menyusuinya sebagai ben-
tuk penyelamatan terhadap anak yang tidak berdosa. Meminta wanita yang bukan ibu bagi anak untuk menyusui dibolehkan berdasarkan firman Allah –Tabaaraka wa Ta’aala–, “Dan
jika kamu menemui kesulitan, maka perem-puan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

Tetapi, selayaknya seseorang tidak
meminta kepada wanita yang bodoh dan buruk perilakunya untuk menyusui anaknya, karena ini dapat mempengaruhi wataknya. Bahkan
selayaknya dia memilih -jika memungkin kan- wanita yang baik akhlaknya agar anaknya
terpengaruhi lantaran menyusu kepadanya. Kemudian dia harus peduli terkait masa
persusuan. Artinya jika seorang wanita menyusui anak dengan penyusuan mahram, maka
wanita itu harus memastikan nama orang yang disusuinya agar tidak terjadi kerancuan di kemudian hari.

Sumber:

(Shahih Fikih Wanita Karya Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Penerbit Akbar Media Halaman 402)

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *