Tata Cara Shalat Ringkas dan Sesuai Sunnah

Tata Cara Shalat Ringkas dan Sesuai Sunnah

Apabila ia hendak shalat, ia memulainya dengan takbir, imam membaca takbir tersebut dan takbir-takbir lainnya dengan dikeraskan (jahr) agar didengar oleh orang-orang yang makmum di belakangnya. Adapun makmum membacanya dengan lirih (sir).

Saat takbir pertama dilakukan, hendaknya disertai dengan
mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya
atau hingga sejajar dengan telinganya. Kemudian meletakkan kedua
tangannya di bawah pusar. Pandangan menuju ke tempat sujud,
kemudian mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri)

Kemudian langsung membaca ta’awudz dan basmalah, tanpa jahr. Karena riwayat dari Anas bin Malik ia berkata: “Saya pernah shalat bersama Nabi Abu Bakar, Umar, dan
Utsman, namun saya tidak pernah mendengar satu pun dari mereka
yang membaca dengan jahr lafadz Bismillahirrahmánirrahi”. (Muslim)

Selanjutnya membaca Al-Fatihah. Tidak sah shalat tanpa membacanya, kecuali bagi makmum, karena bacaan imam sekaligus merupakan bacaan bagi makmum. Tetapi makmum dianjurkan membacanya saat imam berhenti sejenak setelah membaca Al-Fatihah.

Dianjurkan juga makmum membacanya saat imam tidak membacanya dengan jahr.

Setelah itu membaca surah. Untuk shalat Subuh membaca surah-surah
mufashshal yang panjang-panjang, untuk shalat Maghrib membaca surah-surah mufashal yang pendek-pendek, sedangkan untuk shalat
yang lain dengan yang sedang.

Imam membaca surah dengan jahr pada shalat subuh serta pada
dua rakat awal shalat Maghrib dan Isya. Selain itu, imam membacanya
dengan lirih. Kemudian bertakbir untuk rukuk dan mengangkat kedua tangan sebagaimana saat takbir awal.
Kemudian meletakkan kedua tangan di lutut dan merenggangkan jari jemarinya, meluruskan punggung sejajar dengan kepala. Kemudian membaca:

سُبْحاَنَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ

Mahasuci Rabb-ku yang Maha agung.” (tiga kali)

Kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Allah mendengar siapa yang memuji-Nya.”

jika telah sempurna tegak berdiri ia mengucapkan:

رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَوَاتِ، وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمِلْءُ ماَ شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Ya Rabb kami, segala prujt bagi-Mu sepenuh langit dan bumi serta
sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu.”

Sedangkan makmum cukup mengucapkan:

رَبَّناَ وَلَكَ الْحَمْدُ

“Ya Rabb kami dan segala puji bagi-Mu.”

Kemudian turun bersujud sambil mengucap takbir tanpa mengangkat kedua tangan.

Hendaknya yang pertama kali menyentuh lantai adalah kedua lutut,
kemudian kedua telapak tangan, baru kemudian kening dan hidungnya.
la merenggangkan kedua lengan dari rusuknya, dan perut dari kedua
pahanya. Posisi kedua telapak tangannya sejajar dengan pundaknya.
Sujud juga dilakukan dengan bertumpu pada jemari kedua telapak kaki.

Kemudian mengucapkan:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Mahasuci Rabb-ku yang Mahatinggi.” (tiga kali)

Selanjutnya mengangkat kepalanya sambil bertakbir untuk duduk iftirasy, ia menidurkan kaki kirinya dan duduk di atasnya, serta menegakkan kaki kanannya dan melipat jarinya menghadap kiblat, dan membaca:

رَبِّ غْفِرْلِيْ

“Ya Rabb, ampunilah aku.” (tiga kali)

Kemudian ia sujud lagi seperti sujud yang pertama. Kemudian mengangkat kepalanya sambil bertakbir dan bangkit berdiri. la melanjutkan rakaat kedua sebagaimana yang pertama.

Jika telah selesai ia duduk iftirasy untuk tasyahud, meletakkan tangan kiri di atas paha kiri dan tangan kanan di atas paha kanannya, ia menggenggamkan jari kelingking dan jari manisnya, dan melingkarkan jari tengah dengan ibu jari, kemudian memberi isyarat dengan jari telunjuknya serta membaca

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Segala penghormatan milik Allah, juga semua shalawat dan
kebaikan. Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi,
juga rahmat dan berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpahkan atas
kami dan hamba Allah yang shalih. Saya bersaksi bahwa tidak ada
tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. (HR. Bukhari dan
Muslim)

Inilah tasyahud yang paling shahih yang diriwayatkan dari Nabi. Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohimm innaka hamidun majiid.”

“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga
Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada
Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sungguh Engkau Maha Terpuji
dan Maha mulia. Ya Allah karuniakanlah keberkahan kepada
Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau
telah mengaruniakan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga
Ibrahim, sungguh Engkau Maha Terpuji dan Mahamulia.”

Kemudian dianjurkan memohon perlindungan dari adzab Jahanam,
adzab kubur, fitnah hidup dan mati. Serta fitnah Dajjal, kemudian ia
menoleh ke arah kanan dan mengucapkan:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهْ

“Semoga kesejahteraan bagimu, serta rahmat dari Allah.”

Dan menoleh ke kiri mengucapkan seperti itu.

Jika shalat lebih dari dua rakaat, ia bangkit setelah tasyahud pertama
sebagaimana ia bangkit dari sujudnya. Kemudian ia melanjutkan dua rakaat, tetapi tidak membaca apa pun setelah Al-Fatihah. Jika ia duduk untuk tasyahud akhir ia duduk dengan tawarruk, yaitu menegakkan
kaki kanan dan menidurkan kaki kiri dan mengeluarkannya dari bawah
kaki kanan.

Duduk tawaruk hanya untuk shalat yang memiliki dua tasyahud, itu pun hanya untuk tasyahud akhir.
Jika ia telah selesai salam maka ia beristighfar sebanyak tiga kali,
dan mengucapkan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Ya Allah, Engkau adalah Dzat Yang Memberikan keselamatan, dan
dari-Mu datang keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Dzat yang
Memiliki keagungan dan kemuliaan.”

Semoga Bermanfaat.

Sumber: Disalin dari Kitab ‘Umdatul Fiqh Karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah.

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *