HUKUM ANJING MASUK MASJID

HUKUM ANJING MASUK MASJID

Akhir-akhir ini, kita khususnya kaum muslimin dihebohkan dengan peristiwa masuknya wanita non muslim yang membawa anjing ke dalam masjid. Kita tahu bahwa masjid merupakan tempat yang paling mulia di atas muka bumi serta dihormati oleh kaum muslimin.

Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya hukum anjing yang masuk masjid dan bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut?

Berikut ini adalah jawaban yang kami kutip dari fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah mengenai apa hukum anjing yang masuk masjid? dan apakah lantai yang terkena kencingnya wajib disiram?

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dalam riwayat Al-Bukhori disebutkan;

عن ابن عمر كُنْتُ أَبِيتُ فِي الْمَسْجِدِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكُنْتُ فَتًى شَابًّا عَزَبًا، وَكَانَتِ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Aku bermalam di dalam masjid pada masa Rasulullah. Waktu itu aku masih bujang. Saat itu ada anjing sedang kencing, mondar-mandir di dalam masjid. Mereka (para sahabat Nabi) tidak menyipratkan (air) apa pun bekas anjing tersebut. (HR. Al-Bukhori : 172 dan Muslim:279)

Hadits ini menjadi musykil (sedikit rumit dalam memahaminya) menurut para ulama. Sehingga mereka berselisih dalam memahaminya. Abu Dawud berkata: “jika tanah menjadi kering, maka tanahnya tetap suci” Dia berdalil dengan hadits ini. Syaikhul Islam sepakat dengan pendapat ini. Karena dia menyebutkan bahwa tanah disucikan oleh matahari dan angin, dan dia juga berdalil dengan hadits ini.
Sebagian ulama berpendapat bahwa perkataannya ‘dan kencing’, maknanya anjing kencing di luar masjid. Dan yang di dalam masjid hanyalah datang dan pergi. Tetapi pemahaman ini lemah. Karena jika anjing-anjing itu tidak kencing di dalam masjid, maka tidak ada gunanya dengan perkataannya ‘namun para sahabat tidak menyiramkan air sedikitpun kepadanya’.
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar berkata, “yang paling dekat (dengan kebenaran) adalah; bahwa kasus ini terjadi pada permulaan Islam, sebelum diperintahkan untuk memuliakan masjid, menyucikan dan membuat pintu-pintu untuk masjid.”
Yang saya ketahui bahwa pendapat dari Syaikhul Islam adalah benar. Karena tanah itu jika terkena najis, kemudian menjadi kering sehingga bekasnya hilang maka menjadi suci. Karena hukum itu bertumpu pada illatnya. Jika najis itu tidak memiliki bekas lagi, maka ia menjadi hilang (najisnya). Dengan demikian sucilah tanah itu. “ (selesai pernyataan Syaikh)

Secara hukum fikih memang para ulama memperselisihkan tentang kenajisan anjing. Akan tetapi pendapat yang kuat adalah bahwa anjing itu najis sebagaimana yang dianut oleh madzhab Syafi’i dan Hambali. Dan sudah disebutkan di atas apabila anjing yang masuk masjid itu kencing atau mengeluarkan liur maka cara membersihkannya dengan menghilangkan najis tersebut sampai tidak ada noda dan bekasnya apabila kotoran atau najisnya masih dalam keadaaan basah.
Kemudian yang menjadi perdebatan ulama dalam hadits tersebut adalah apabila najis tersebut terkena lantai tanah di dalam masjid, maka bagaimana cara membersihkan najisnya?. Sebagian ulama mengatakan tidak perlu disiram air apabila tanah yang terkena najis telah mengering karena panas matahari dan angin menjadi pensucinya. Dan sebagian yang lain mengatakan tetat harus dibersihkan karena konteks hadits tersebut terjadi di masa awal-awal Islam.
Konteks hadits ini jelas apabila najis terjadi di atas lantai tanah yang merupakan tempat sholat pada masa itu. Sementara berbeda halnya dengan sekarang kondisi masjid kaum muslimin yang laintainya adalah keramik atau yang sejenisnya yang tentunya najis tersebut tidak bisa hilang meresap. Dan cara membersihknnnya tentunya harus disiram atau dipel sampai hilang noda najis atau kotoran tersebut.
Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama mengenai hal tersebut, maka kita mengetahui bahwa di negeri kita Indonesia adalah mayoritas penganut madzhab Syafi’i yang mengatakan bahwa anjing itu najis bahkan sebagian mengatakan seluruh bagian anjing itu najis. Maka dari itu kita harus menghormati dan menjaga kemulian masjid. yaitu dengan menjaga kesucian masjid serta menjauhkannya dari seluruh kotoran, termasuk masuknya anjing ke dalam masjid yang merupakan sumber utama najis. Dan bahkan dikatakan sebagai najis mugholadzoh (najis yang berat) yang membersihkannya harus dengan tujuh basuhan air yang salah satunya harus dibasuh dengan tanah.
Adapun sikap kita sebagai kaum muslimin dalam menyikapi masuknya wanita nonmuslim yang masuk masjid dengan alas kaki dan membawa anjing yang najis itu, maka kita harus menyikapinya dengan proporsional. Tidak berlebihan dan juga tidak menyepelekannya. Berlebihan artinya adalah sampai kita melontarkan sumpah serapah yang jauh dari akhlak Islam, atau menyepelekannya dengan membiarkan, tidak diupayakan penegakkan hukum dan bahkan upaya mendukung kemungkaran yang dilakukan oleh wanita kafir itu.
Sikap yang benar dalam menyikapi hal tersebut adalah
1. Kita prihatin dan menyanyangkan perbuatan tersebut serta meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah sebuah kemungkaran. Dan kita wajib mengingkari kemungkaran dengan cara yang benar sesuai dengan akhlak Islami, tidak main hakim sendiri dan menghindari melontarkan sumpah serapah dan caci maki.

اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” [An-Nahl/16: 125]
2. Mengingkari sesuai dengan kemampuannya apakah dengan tangan (kekuasaan) yaitu menegakkan hukum, atau lisan dengan mencegah dan menjelaskan kemungkarannya atau hatinya dengan mengingkari atas kemungkaran tersebut.
3. Dalam mengingkari kemungkaran maka kita wajib tabayyun/klarifikasi terlebih dahulu apakah yang dilakukannnya adalah karena unsur kesengajaan atau karena unsur ketidaktahuan. Apabila dilakukan dengan sengaja maka itu termasuk penistaan terhadap Islam dan wajib kita menyerahkannya kepada pihak yang berwajib untuk ditegakkan hukum agar diberikan hukuman seberat-beratnya. Dan apabila perbuatan tersebut didasarkan karena unsur ketidaktahuan maka kita wajib menjelaskannya bahwa yang dilakukan adalah perbuatan yang sangat tercela, karena telah merusak kesucian dan kemuliaan masjid.
4. Tetap mengedepankan sikap bijak, lembut, sabar dan keadilan saat berhadapan dengan orang yang melakukan kemungkaran. Wallohu ta’ala  ‘alam

Disusun oleh : Yudi Aris D., S.Ud., Lc.

Editor: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

Sumber utama:

1. Halal dan Haram dalam Islam karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
2. Syarah Riyadus Shalihin karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Artikel: www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *