Tinjauan Fikih Terkait Hukum Membaca Basmalah Di Dalam Sholat

Tinjauan Fikih Terkait Hukum Membaca Basmalah Di Dalam Sholat

Bismillah, Alhamdulillahi wassholatu wassalamu ala sayyidi rosulillah wa ba’du.
Ucapan basmalah “bismillahirrohmanirrohim” (dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), kalimat ini dianjurkan untuk dilafadzkan di setiap melakukan aktifitas kebaikan. Sebagaimana sabda Rosululloh shallallahu alaihi wasallam :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami’, dari jalur Ar-Rahawai dalam Al-Arba’in, As-Subki dalam tabaqathnya)
Anjuran tersebut bersifat sunnah (dianjurkan) saja tidak sampai pada hukum wajib. Artinya apabila hendak melakukan aktifitas kemudian lupa membaca basmalah maka tidak berdosa.

Beberapa hal yang dianjurkan membaca bismillah di awalnya (karena sebagian dianjurkan dalam hadits diawali dulu dengan bismillah) di antaranya:

• Memulai membaca Al-Qur’an dan dzikir.
• Naik perahu atau kendaraan lainnya
• Masuk rumah, masuk masjid dan keluar dari rumah dan masjid.
• Menyalakan dan memadamkan lampu.
• Sebelum bersetubuh yang halal.
• Ketika imam naik mimbar.
• Ketika akan tidur.
• Masuk dalam shalat sunnah.
• Menutup wadah (bejana).
• Memulai menulis.
• Menutupi mata mayit dan memasukkannya dalam liang lahat.
• Meletakkan tangan ketika membaca doa (ruqyah) pada anggota tubuh yang sakit.

Yang sering menjadi perdebatan mengenai ucapan basmalah adalah hukum membacanya di dalam permulaan membaca Al-Qur’an, atau permulaan surat. Baik dalam sholat atau di luar sholat.
Sebelum menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang basmalah maka penulis ingin mengutarakan kesepakatan ulama dalam masalah tersebut. Para ulama telah bersepakat bahwa basmalah adalah salah satu ayat al-Qur’an di dalam surat An-Naml ayat yang ke-30. Dan juga para ulama bersepakat tentang penulisannya di setiap awal surat dalam Al-qur’an sebagai pembeda antara satu surat dengan surat yang lain.
Kemudian para ulama bersepakat tidak menganjurkan membaca basmalah ketika memulai membaca Surat At-Taubah. Setidaknya ada tiga alasan mengenai larangannya; yang pertama karena dalam surat at-taubah berisi tentang peperangan dan kemarahan kepada orang-orang musyrik dan munafik. Sementara kalimat basmalah adalah kalimat aman dan rahmat. Yang kedua, karena para sahabat berbeda pendapat apakah surat at-taubah merupakan bagian dari surat al-anfal ataukah surat yang berbeda. Dan yang ketiga juga para ahli qurro tidak membaca basmalah ketika memulai membaca surat at-taubah sedangkan bacaaan mereka bersambung kepada Rosululloh shallallahu alaihi wasallam.
Sedangkan yang menjadi perdebatan para ulama dalam masalah basmalah setidaknya terdapat dalam 3 hal;

1. Apakah basmalah termasuk ayat dalam awal surat al-fatihah?
Para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini;
Pendapat pertama mengatakan bahwa basmalah bukan termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah. Pendapat ini adalah pendapat sahabat Anas, Ubay, Abu Hanifah, dan Malik.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa basmalah adalah ayat pertama dalam surat Al-Fatihah. Pendapat ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, abu-Tsaur, Abu Ubaid dan pendapat terkuat dari Ahmad.
2. Apakah basmalah termasuk ayat dalam setiap awal surat selain surat at-taubah?
Adapun dalam masalah ini maka seperti pendapat di atas, mayoritas ulama tidak memasukkan basmalah sebagai ayat dalam setiap surat. Kecuali dalam awal surat al-Fatihah maka as-Syafi’i dan Ahmad menggolongkannya sebagai awal surat dal al-fatihah. Dan terdapat sebuah riwayat bahwa As-Syafi’i memasukkan basmalah dalam setiap surat dalam al-Qur’an.
Adapun basmalah yang terdapat dalam setiap awal surat terkecuali surat at-Taubah menurut sebagaian ulama merupakan pemisah atau ayat tersendiri dalam al-Qur’an.
Bagaimanakah cara membaca basmalah bagi imam dalam sholat jahriyyah dan sholat sirriyyah baik dalam membaca al-fatihah atau membaca surat yang lain?
Adapun dalam masalah membaca basmalah di awal surat alfatihah terutama dalam sholat jahriyyah para ulama berbeda pendapat.
Pendapat yang pertama, bahwa seorang imam tidak membaca basmalah dan langsung membaca alhamdulillah baik dalam sholat sirriyah atau sholat jahriyah. Demikian juga ketika membaca awal surat yang lain ketika sholat maka tidak dianjurkan membaca basmalah. Terutama dalam sholat maktubah (fardhu). Adapun dalam sholat nafilah (sunnah) maka dibolehkan. Ini merupakan pendapat madzhab Malik.
Pendapat yang kedua, merupakan pendapat Abu hanifah, Abu Tsaur dan Ahmad mengatakan: seorang imam dianjurkan atau diwajibkan membaca basmalah di awal surat al-fatihah dengan cara sirr (tidak dikeraskan).
Pendapat yang ketiga, merupakan pendapat As-Syafi’i menyatakan bahwa wajib membaca basmalah ketika membaca al-fatihah dengan cara dikeraskan pada sholat jahriyyah dan disirrkan dalam sholat sirriyah.
Ibnu Rusy al-Qurthubi menjelaskan bahwa sebab ikhtilaf (perbedaan pendapat) para ulama dalam permasalan-permasalahan tersebuat ada dua;
Pertama, perbedaan Atsar (nash) dalam permasalahan tersebut. Yaitu ada dalil hadits yang berbeda muatan dalilnya. Yaitu terdapat hadits yang menyebutkan basmalah dan terdapat hadits lain yang tidak menyebutkannya ketika membaca alfatihah. Bagi yang berpegang dengan hadits Abu Huroiroh maka mereka mengeraskan bacaan basmalah dalam sholat jahriyah dan melirihkan basmalah dalam surat sirriyah. Adapun bagi yang berpegang dengan hadits Aisyah dan hadits Anas maka mereka tidak membaca basmalah atau mensirrkan basmalah dalam sholat sirriyah.

Kedua, Para ulama berselisih apakah bismillahirrohmanirrohim adalah termasuk ayat dalam surat alfatihah atau tidak termasuk. Penjelasan ini sudah dijelaskan di atas. Kesimpulan dalilnya bagi yang berpendapat bismilah bukan ayat dari surat alfatihah maka mereka tidak membacanya. Adapun bagi yang berpendapat basmalah ayat dari surat alfatihah maka mereka membacanya.
Di antara dalil yang tidak menyebutkan basmalah adalah hadits Aisyah dan hadits Anas;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka shalatnya dengan takbir lalu membaca alhamdulillahi robbil ‘alamin.” (HR. Muslim no. 498).

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga bersama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, aku tidak pernah mendengar salah seorang dari mereka membaca ‘ bismillahir rahmanir rahiim’.” (HR. Muslim no. 399).
Hadits-hadits ini sebagai dalil oleh para ulama tentang tidak dibacanya basamalah (madzhab Malik) atau tidak dikeraskannya basmalah dalam sholat jahriyah saat membaca alfatihah. (Madzhab Hanafi dan Hambali).

Adapun dalil yang menyebutkan basmalah dalam Alfatihah adalah hadits Abu Hurairoh;
Diriwayatkan dari Abu Hilal, diriwayatkan dari Nu’aim al-Mujammir, ia berkata: Saya shalat dibelakang Abu Hurairah (makmum). Maka beliau membaca ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’, kemudian membaca Ummul-Qur’an, hingga ketika sampai pada ‘Gairil-magdlubi ‘alaihim waladl-dlaalliin’ beliau membaca ‘Amiin’. Kemudian orang-orang yang bermakmum membaca ‘Amiin’. Dan setiap bersujud beliau membaca ‘Allahu Akbar’ dan apabila berdiri dari duduk dalam dua rakaat, beliau membaca ‘Allahu Akbar’, dan apabila membaca salam (sesudah selesai), beliau berkata: Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya orang yang paling mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw.” [HR. an-Nasa’i]

Hadits ini menjadi dalil tentang dikeraskannya basmalah yang merupakan pendafat As-Syafi’i. As-Shon’ani mengatakan: “hadits ini adalah hadits yang paling shahih dalam masalah ini, yang menjadi dalil kuat bahwa hukum basmalah dalam bacaan adalah sebagaimana alfatihah ketika dibaca keras atau dibaca sirr.” Dan ini dalil yang nampak bahwa Nabi menampakkan basmalah, bahkan sampai Abu Huroiroh mengatakan bahwa tata cara sholatnya paling mirip dengan Nabi. Walaupun kemungkinan maksudnya adalah dalam kebanyakan tata caranya. Dan sebagai hal yang mustahil adalah apabila sahabat (Abu Hurairoh) melakukan bid’ah (penambahan) dalam sholatnya sebagaimana yang tidak dilakukan oleh Nabi (dalam penyebutan basmalah dalam alfatihah).”
Kesimpulan, bahwa tentang hukum basmalah maka telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama. Adanya dalil hadits yang berbeda bisa jadi Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam mengamalkan keduanya. Bisa jadi suatu saat Nabi menjaharkan basmalah dan saat yang lain Nabi mensirkannya. Wallohu ta’ala ‘ala wa’alam.

Penyusun: Salman Yudi Aris D., S.Ud., Lc.

Sumber:

1. Kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid karya Ibnu Rusyd Al-Qurthubi
2. Kitab Subulus Salam karya Imam As-Shon’ani
3. Kitab Shahih Fiqhus Sunnah karya Syaikh Kamal bin Sayyid Salim
4. Beberapa situs internet;
http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/04/20/basmalah-dalam-shalat-sirr-atau-jahr/

Mulailah dengan Bismillah

https://www.dakwatuna.com/2013/04/10/30964/membaca-basmalah-dalam-shalat-jahr-atau-sir/#axzz5t8xjNsbG

https://islam.nu.or.id/post/read/87194/memahami-beda-pendapat-bacaan-basmalah-surat-al-fatihah-dalam-shalat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *