RAJIN IBADAH NAMUN MASUK NERAKA DISEBABKAN BURUKNYA LISAN

RAJIN IBADAH NAMUN MASUK NERAKA DISEBABKAN BURUKNYA LISAN

Di antara nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada diri kita adalah dilengkapinya tubuh kita pada bagian rongga mulut dengan lidah yang membuat kita mampu berkomunikasi dengan baik dan merasakan lezatnya makanan. Bukan hanya itu, dengan lidah tersebut seorang manusia dapat meraih keutamaan disisi Allah yaitu dengan berdzikir, membaca al-Qur’an, berbicara yang santun lagi baik, dan kemampuan beretorika dengan indah untuk mengajak seseorang kepada kebaikan serta keutamaan-keutamaan lainnya.

Namun tidak sedikit juga diantara manusia yang binasa disebabkan karena lidahnya, bahkan lidah ini dapat menjerumuskannya dalam kebinasaan yang sangat besar. Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat, ‘Hal apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka? Maka Beliau menjawab, ‘Dua rongga; yaitu mulut dan kemaluan.’ (HR. Ibnu Majah)

Kebanyakan kita mungkin akan merasa heran ketika ternyata apa yang kita ucapkan merupakan hal yang akan diperhitungkan oleh Allah. Rasa heran ini pula yang pernah terjadi dan dialami oleh Mu’adz bin Jabal ketika beliau mendengar Rasulullah memerintahkan untuk menahan lisan agar bisa memasuki surga dan dijauhkan dari api neraka. Beliau berkata,’ Apakah ucapan-ucapan kita akan diperhitungkan?’ mendengar hal itu Rasululloh bersabda,’Ibumu telah kehilanganmu wahai Muadz, bukankah wajah-wajah manusia dicampakkan ke dalam api neraka karena buah dari lisan mereka?.’ (HR. Tirmidzi)

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan ibadah dan perintah Allah dengan baik seperti shalat, haji, membaca al-Quran, puasa, infak dan lain sebaginya, juga mampu menjauhkan dirinya dari dosa seperti zina, minum khomr, mencuri, narkoba dan lain sebagainya; Namun, mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari perbuatan ghibah, Padahal Allah memperumpamakan perbuatan ghibah dengan perumpamaan yang sangat hina dan menjijikan, dimana Allah menyamakan orang yang melakukan ghibah sama dengan orang yang memakan bangkai saudaranya, Allah berfirman: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan sebagian yang lain. Adakah seorang diantara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuurat: 12)

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan ibadah dan perintah Allah dengan baik ,namun mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari perbuatan mencela, padahal mencela adalah perbuatan fasiq.

عَنْ زُبَيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا وَائِلٍ عَنْ الْمُرْجِئَةِ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Dari Zubaid, dia berkata: “Aku bertanya kepada Abu Wail tentang Murji’ah (satu kelompok yang berpendapat bahwa bahwa amal tidak termasuk iman, sehingga kemaksiatan tidak membahayakan iman-pen), maka dia berkata: Abdullah telah menceritakan kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Mencela seorang Muslim merupakan kefasikan, dan memeranginya merupakan kekafiran”. (HR. Al-Bukhari)

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan ibadah dan perintah Allah dengan baik, Namun, mereka tidak mampu menghindarkan lidahnya dari mengolok-olok, merendahkan dan meremehkan orang lain, padahal semua perbuatan tersebut tercela dan dilarang oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah janganlah kamu mencela orang lain. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat: 11)

Sebagai seorang mukmin, tentu sangat tidak layak memiliki hobi mengghibah, mencela, mengolok-olok, meremehkan dan melaknat orang mukmin lainnya kapanpun dan di mana pun, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻌَّﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﻄَّﻌَّﺎﻥِ، ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻔَﺎﺣِﺶِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﺒَﺬِﻱﺀِ

“Sesungguhnya orang mukmin itu orang yang tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor” (HR. Ahmad).

Tidak dipungkiri sangat sedikit diantara kita yang bisa selamat dari penyakit-penyakit ini, bahkan naudzubillah mungkin ada diantara kaum muslimin yang menjadikan perbuatan-perbuatan ini menjadi konsumsi sehari-sehari yang didukung oleh berbagai sarana yang memudahkan hal tersebut. Akan tetapi tidak ada kata terlambat, kita harus bertaubat dan meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk tersebut.

Kita sebagai orang mukmin tidak hanya dituntut untuk beribadah dengan baik, akan tetapi kita dituntut pula memiliki akhlak dan perangai yang baik dalam bergaul dengan sesama manusia terkhusus kepada orang-orang yang beriman. Bahkan baik buruknya akhlak dan perangai kita juga menentukan tempat kita kelak di akherat apakah di surga atau di neraka. Juga menentukan amal shaleh yang kita kerjakan di dunia, apakah diterima dan menghasilkan pahala di sisi Allah atau hanya sia-sia lantaran amal kita di ambil lalu dilimpahkan ke saudara-saudara yang kita telah menggunjingnya, mencelanya, dan merendahkannya.

Perhatikanlah sebuah hadis mulia dimana Rasulullah pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, ”orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

Dalam hadis lain Rasululullah menceritakan tentang kondisi seseorang yang dimasukkan ke dalam neraka disebabkan menyakiti tetangganya dengan lisannya meskipun ia orang yang rajin beribadah. Jadi, Serajin apapun seseorang dalam beribadah, namun dia suka menyakiti tetangganya, dia terancam masuk neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ada seseorang yang melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkomentar, “Dia di neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang shalat sunah, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad)

Semoga Allah menjaga lisan kita sehingga terhindar dari ucapan-ucapan yang menjerumuskan kita ke dalam api neraka.

(Abul Fata Murod, Lc)

Artikel: www.inilahfikih.com

2 Replies to “RAJIN IBADAH NAMUN MASUK NERAKA DISEBABKAN BURUKNYA LISAN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *