HUKUM MUSAQOH

HUKUM MUSAQOH

A. Pengertian Musaqoh

Musaqoh secara bahasa masdar dari fi’il (kata kerja) saaqo-yusaaqi maknanya memberikan minum. Karena diambil dari pekerjaan yang terpenting di dalamnya yaitu memberikan pengairan pada lahan yang digarap.

Secara istilah musaqoh adalah akad kerjasama dalam pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap, dimana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara engan imbalan tertentu berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil panen yang benihnya berasal dari pemilik lahan.

B. Landasan Hukum Musaqoh

Firman Allah ta’ala:

وتعاونوا على البروالتقوى ولاتعاونوا على الاثم والعدوان

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam hal mengerjakan kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah: 2)

Ayat ini umum mencakup akad musaqoh karena terkandung kerjasama dalam kebaikan.

Nabi  bersabda :

عَنِ ابْنِ عُمَرَرَضِيَ الله ُعَنْهُمَاأَنَّ النَّبِيَّ عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَرْطٍ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمرٍأَوْزَرْعٍ متفق عليه.

Dari ibnu Umar ra. “bahwasanya Nabi SAW telah mempekerjakan penduduk Khaibar dengan syarat akan diberi upah separuh dari hasil tanaman atau buah-buahan yang keluar dari lahan tersebut” (HR. Muttafaq Alaih)

Dengan hadits ini jumhur ulama berdalil atas kebolehan musaqoh adapun Abu Hanifah tidak membolehkannya.

Dalam riwayat di atas Nabi memberikan kurma Khaibar dan tanahnya kepada Yahudi Khaibar agar mereka mengolahnya dengan harta mereka, sedangkan Rosululloh mendapatkan setengahnya.
Dalam hal ini kurma ditetapkan berdasarkan nash, sedangkan pohon anggur diqiyaskan kepada kurma dan juga bisa diqiyaskan dengan tanam-tanaman selama mendatangkan manfaat dan keuntungan.
Musaqoh termasuk dari akad syarikah (kerjasama) yang berlandaskan keadilan antara kedua belah pihak. Akad ini diperbolehkan oleh agama karena banyak yang membutuhkan dan mendatangkan maslahat. Sebagaimana dijumpai banyak orang mempunyai lahan tetapi tidak mampu memelihara tanaman di atasnya. Dan banyak yang mampu bekerja memelihara tanaman tapi tidak memiiki lahan. Dengan adanya syariat ini maka memberikan peluang kepada manusia untuk saling bekerjasama mendatangkan kebaikkan bersama dan akan meningkatkan produktivitas lahandan manusianya serta meningkatkan kesejahteraan mereka.

C. Ikhtilaf Ulama dalam Hukum Musaqoh

Para ulama berbeda pendapat dalam hukum musaqoh menjadi dua pendapat;
Pendapat pertama, adalah pendapat jumhur ulama Malik, Syafi’i, ats Tsauri, Abu Yusuf sahabat Abu Hanifah, Ahmad dan Daud Adz Zhohiri tentang bolrhnya Musaqoh.
Pendapat kedua, adalah pendapat Abu hanifah yang mengatakan hukum asal musaqoh tidak boleh.
Para ulama juga berbeda pendapat dalam memahami hadits di atas. Apakah musaqoh hanya terbatas pada pohon kurma saja sebagaimana dalam teks hadits atau boleh diqiyaskan kepada tumbuhan yang lain.
Imam Daud adz-Dzohiri membatasi kebolehan musaqoh pada tanaman kurma saja, sebagaimana tekstual hadits. Imam syafii membatasi pada pohon kurma dan anggur, sementara Imam Malik membolehkan pada pohon yang akarnya kokoh seperti Kurma, zaitun, anggur, tin dan juga pohon yang tidak kokoh akarnya seperti semangka. Sementara dari pengikut Hanafiyah membolehan juga seluruh tumbuhan yang bermanfaat seperti sayur mayur, kol dll.

D. Rukun dan Syarat Musaqoh

Musaqoh memiliki rukun dan syaratnya:
1. Ijab, perkataan dari pihak pertama yaitu pemilik lahan
2. Qobul , perkataan dari pihak kedua yaitu pengelola
Ijab qobul ini sah dengan sesuatu yang bisa menunjukkan terjadinya akad baik berupa perkataan, tulisan atau isyarat. Selama hal tersebut dilakukan dan difahami oleh kedua belah pihak.
3. Kedua belah pihak (pemilik dan pengelola) disyaratkan sebagai orang yang boleh bertasyaruf (boleh bertransaksi/ bermuamalah)
4. Lahan, berupa kebun atau sawah dari pohon yang berbuah atau tanaman buah-buahan san sayur mayur dan dapat dipanen sesuaimasanya.
5. Hendaknya akad kerjasama tersebut ditentukan waktu atau masanya. Sekurang-kurangnya satu masa tanam atau ditentukan sesuai adat kebiasaan.
6. Pekerjaan yang dilakukan pengelola meliputi penjagaan dari kerusakan serta pemeliharaan tanaman seperti, menggarap lahan, menyiram, menyemprot, mengawinkan dan memanen.
7. Hendaklah kedua belah pihak membuat kesepakatan di awal tentang qismah atau bagian dari setiap pihak misal, pemilik dan pengelola mendapatkan setengah-setengah, atau pemilik mendapatkan 60% pengelola 40% atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak yang saling menguntungkan.

Referensi :
1. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Ibnu Rusd Al-Qurtubi
2. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
3. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
4. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
5. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid

Disusun oleh : Salman Yudi Aris D, S.Ud., Lc.

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *