AL-HAJRU (ORANG YANG DILARANG MENGELOLA /MENTASHORUFKAN HARTA)

AL-HAJRU (ORANG YANG DILARANG MENGELOLA /MENTASHORUFKAN HARTA)

PENGERTIAN

Al-Hajr secara bahasa artinya mencegah (al-man’u), melarang atau mencekal. Orang yang dicekal diebut al-mahjur ‘alaih.
Secara istilah para ulama berbeda pendapat. Menurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah bahwasannya hajr adalah mencegah atau melarang seseorang dari melakukan transaksi /mengelola harta (tasharruf maliyah).

Adapun ulama Hanafiyyah mendefinisikan hajr adalah melarang seseorang melakukan pengelolaan harta (tashorruf maliyah) dalam bentuk verbal (perkataan) bukan dalam bentuk perbuatan.

DASAR HUKUM

1. Al-qur’an
Alloh ta’ala berfirman:

وَلا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِياماً

“Dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” (QS. An-Nisa : 5)

Sisi pendalilannya Alloh melarang menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya seperti anak keil, orang gila atau orang yang bodoh (idiot) atau berkebutuhan khusus.

فَإِن كَانَ ٱلَّذِى عَلَيْهِ ٱلْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُۥ بِٱلْعَدْلِ

“Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.” (Al-Baqarah 282)

Ayat ini memberikan tambahan bagi orang yang kondisinya lemah baik akal atau keadaannya, karena sakit atau cacat sehingga tidak bisa mengelola harta maka tanggung jawabnya diserahkan kepada walinya. Artinya di sini juga bahwa orang yang berhak melarang membelanjakan harta adalah walinya atau hakim.

وابْتَلُواْ الْيَتَامَى حَتَّىَ إِذَا بَلَغُواْ النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُواْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُم

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya”

Ayat ini menjelaskan bahwa anak yatim yang belum sampai usia baligh atau faham (rusyda) dilarang mengelola hartanya sendiri, kecuali setelah dia mencapai usia dewasa dan sudah memahami seluk beluk pengelolaan harta. Dalil bahwa Islam sangat menjaga harta pemiliknya agar tidak jatuh ke tangan orang lain atau hilang dengan mubadzir.

2. Hadits

وعن ابن كعب بن مالك عن أبيه رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( حجر على معاذ ماله وباعه في دين كان عليه ) رواه الدارقطني ، وصححه الحاكم ، وأخرجه أبو داود مرسلاً، ورجح إرسال

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Nabi Saw menahan harta Muadz dan beliau menjual hartanya muadz itu untuk membayar utangnya”.

Dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah Saw menetapkan Muadz bin Jabal sebagai orang yang terlilit hutang dan tidak mampu melunasinya (taflis/pailit). Kemudian Rasulullah Saw melunasi hutang Muadz bin Jabal dengan sisa hartanya. Tapi orang yang berpiutang tidak menerima seluruh pinjamannya maka dia pun melakukan protes kepada Rasulullah Saw.
Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Tidak ada yang dapat diberikan kepada kamu selain itu”. (HR Daruquthni & Al-Hakim)
Berdasarkan hadits tersebut, ulama fiqih telah sepakat menyatakan bahwa seorang hakim berhak menetapkan seseorang pailit karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya. Dengan demikian secara hukum terhadap sisa hartanya dan dengan sisa hartanya itu hutang itu harus dilunasi.
Imam Qodi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Asfahani rahimahulloh mengatakan bahwa ada enam orang yang tidak diperbolehkan mengelola harta:
1. Anak kecil (Shobiy)
2. Orang gila
3. Orang bodoh atau idiot yang membuang-buang harta (tabdzir)
4. Orang bangkrut yang terlilit hutang (muflis)
5. Orang yang sakit dikhawatirkan mati.
6. Hamba sahaya yang tidak diizinkan berdagang oleh tuannya.

TUJUAN MAHJUR

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah disebutkan bahwa hajr/larangan pengelolaan harta ini dilakukan untuk kemaslahatan orang lain seperti orang yang bangrut (muflis) untuk membayar denda atau sisa hartanya dicekal hartanya yang tersisa untuk pemberi hutang, atau orang yang sakit keras untuk menjaga hak ahli waris yang akan ditinggalkan. Seorang yang sakit keras tasharrufnya dibatasi tidak boleh lebih dari 1/3 hartanya. Dan tentu saja hajr ini tujuannya adalah untuk kemaslahatan orang tersebut. Seperti larangan jual beli untuk orang gila ,anak kecil, dan anak yang berkebutuhan khusus (idiot).

Sulaiman Rasyid dalam bukunya Fiqh Islam menjelaskan tujuan hajr:

1. Mahjur dilakukan guna menjaga hak-hak orang lain seperti pencegahan terhadap :
a. Orang yang utangnya lebih banyak daripada hartanya, orang ini dilarang mengelola harta guna menjaga hak-hak yang berpiutang.
b. Orang yang sakit parah, dilarang berbelanja lebih dari sepertiga hartanya guna menjaga hak-hak ahli warisnya.
c. Orang yang menjaminkan hartanya dilarang membelanjakan harta yang dijaminkan tersebut.
d. Murtad (orang yang keluar dari Islam) dilarang mengedarkan hartanya guna menjaga hak muslimin.
2. Mahjur dilakukan untuk menjaga hak-hak orang yang dimahjur itu sendiri, seperti :
a. Anak kecil dilarang membelanjakan hartanya hingga beranjak dewasa dan sudah pandai mengelola dan mengendalikan harta.
b. Orang gila dilarang mengelola hartanya sebelum dia sembuh, hal ini dilakukan juga untuk menjaga hak-haknya sendiri.
c. Pemboros dilarang membelanjakan hartanya sebelum dia sadar, hal ini juga untuk menjaga hak terhadap hartanya ketika ia membutuhkan pembelanjaannya.

Referensi:

1. Mausu’ah Fiqhiyyah Quwaitiyah
2. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Ibnu Rusd Al-Qurtubi
3. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
4. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
5. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
6. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid

Disusun oleh : Salman Yudi Aris D, S.Ud; Lc

Editor: Abul fata Miftah, Lc

www.inilahfikih.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *