ARIYAH (PINJAM-MEMINJAM)

ARIYAH (PINJAM-MEMINJAM)

Definisi:
‘Ariyah secara bahasa pecahan kata dari al ‘uro artinya adalah lepas atau bebas.
Secara syariat ‘ariyah adalah akad berupa pemberian manfaat suatu benda yang halal dari orang lain tanpa ada imbalan dengan tidak mengurangi atau merusak benda itu dan dikembalikannya setelah diambil manfaatnya.
Imam mawardi rahimahulloh berkata bahwa ‘ariyah adalah pemberian berupa manfaat  “هبة المنافع ”
Dasar Hukum Ariyah AL-Qur’an:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

Bahwasannya ‘ariyah (pinjam-meminjam bagian dari ta’awun (tolong-menolong).

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Maun: 7)

Yang dimaksud dengan al-ma’un menurut jumhur ulama adalah barang yang dipinjam para tetangga dari tetangga yang lain. Artinya orang yang tidak mau meminjamkan barang yang bermanfaat bagai orang lain terdapat unsur celaan dalam ayat ini.

Diriwayatkan dari Samuroh ra bahwa Rosululloh saw meminjam baju besi dari Shofwan bin Umayyah ketika perang Hunain (dalam riwayat yang lain Khoibar). Shofwan berkata kepada Rasululloh: “Apakah ini Ghosob (merampas) wahai Muhammad?” beiau menjawab: “Bukan tapi peminjaman yang dijamin.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Adapun dalil Ijma’ adalah perkataan Ibnu Qudamah bahwa “Kaum muslimin telah berijma’ tentang boleh dan sunnahnya ‘ariyah.”
Adapun Qiyas, sebagaimana dibolehkan menghibahkan barang seperti baju dan buku maka dibolehkan juga menghibahkan menfaatnya.
Contoh Akad ‘Ariyah
Meminjamkan rumah untuk ditempati, meminjamkan mobil untuk dikendarai, meminjamkan pohon untuk diambil buahnya, meminjamkan kambing untuk diambil susunya, meminjamkan kitab untuk dibaca, atau meminjamkan perabotan rumah tangga untuk dimanfaatkan.

Hukum Ariyah (Pinjam-meminjam)
Bagi orang yang meminjamkan barang (al-mu’ir) hukumnya adalah sunnah (mustahabbah) karena di sana terdapat pemberian pertolongan kepada muslim yang lain, memberikan bantuan untuk memenuhi hajat kebutuhan mereka dan hal tersebut merupakan bentuk ihsan (perbuatan baik) sebagaiman dalam hadits: Allah akan senantiasa menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Terkadang ‘ariyah hukumnya menjadi wajib, seperti meminjamkan baju kepada seorang yang terbuka auratnya karena darurat. Juga terkadang ariyah hukumnya haram, seperti meminjamkan pisau untuk tujuan membunuh atau menyakiti orang lain.
Adapun bagi orang yang meminjam (musta’ir) hukumnya adalah mubah (boleh). Sesuai dengan izin dari pemiliknya. Seperti meminjam motor untuk pergi ke Cianjur, maka peminjam hanya boleh memakainya ke Cianjur. Bukan tujuan ke Jakarta atau ke Bandung. Atau sesuai kadar atau masa yang diizinkan oleh pemilik, seperti seseorang meminjamkan lahan untuk ditanami padi satu kali tanam dengan masa 4 bulan, maka tidak boleh menanami jagung yang usianya 6 bulan kecuali atas persetujuan pemiliknya.

Rukun ‘Ariyah
1. Orang yang meminjamkan (al-mu’ir). Syaratnya yaitu;
a. Orangnya berhak berbuat sesuai kehendaknya, maka anak kecil dan orang yang dipaksa tidak sah meminjamkan barang.
b. Barang yang dipinjamkan adalah miliknya sekalipun dengan jalan menyewa. Maka tidak boleh meminjamkan sesuatu yang dipinjamnya karena manfaat barang yang dipinjam bukan miliknya. Dia hanya boleh mengambil manfaatnya dan tidak berhak meminjamkannya. Ini adalah perkataan dalam madzhab Syafi’i.
Walaupun permasalahan ini adalah diperdebatkan oleh para ulama. Abu Hanifah dan Malik membolehkan meminjamkan barang dari hasil meminjam asalkan penggunaanya tidak menyimpang. Adapun Ahmad maka membolehkannya apabila terdapat izin pemiliknya.
2. Peminjam (al-musta’ir). Hendaklah orang yang meminjam adalah orang yang berhak menerima kebaikan dan memanfaatkannya. Orang gila atau anak kecil tidaklah berhak meminjam, karena dikhawatirkan tidak bisa memanfaatkan kebaikan atau bahkan merusak barangnya.
3. Ada barang yang dipinjam. Dengan syarat;
a. Barang yang bermanfaat.
b. Ketika diambil manfaatnya barangnya secara dzatnya tidak rusak. Oleh karena itu makanan tidak sah dipinjamkan.
4. Lafadz/akad sah dengan perkataan atau perbuatan yang menunjukan akad tersebut.

Referensi :

1. Kifayatul Ahyar, Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Hushni
2. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Ibnu Rusd Al-Qurtubi
3. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
4. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
5. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
6. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid

Disusun : Salman Yudi Aris D., S.Ud., Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *