HUKUM GHOSOB (MERAMPAS)

HUKUM GHOSOB (MERAMPAS)

Definisi

Secara bahasa, ghosob adalah mengambil sesuatu secara dzolim dan terang-terangan. Karena apabila mengambil secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanan maka disebut pencurian (sariqoh), dan apabila mengambilnya penuh dengan penantangan dan permusuhan maka disebut perampokan (muharobah), apabila mengambilnya secara sembunyi bukan di tempatnya maka disebut ikhtilas (pencopetan atau korupsi). Dan apabila menguasai harta yang diamanahkan kepadanya maka disebut dengan khianat.
Secara Istilah ghosob menurut Imam Nawawi adalah mengusai hak (harta) orang lain dengan jalan permusuhan. Sedangkan menurut Sulaiman Rasjid ghosob adalah menguasai hak (harta) orang lain dengan jalan paksa dan dzolim (aniaya).
Hak (harta) ini umum memncakup harta benda yang nampak atau juga harta benda yang bentuknya adalah manfaat, hak cipta dll.
Yang tidak termasuk ghosob adalah seperti harta rampasan perang (ghonimah dan fai), mengambil harta yang diambil orang lain yang ghosob, seorang wali yang mengambil alih penguasaan harta anak kecil, orang gila, atau seorang yang belum rasyid (faham) akalnya. Atau seorang hakim yang menguasai harta orang yang bangkrut (muflis), atau hakim yang menguasai harta sitaan orang yang korupsi.

Hukum Ghosob

Ghosob merupakan perbuatan haram, termasuk dari dosa besar. Keharamannya berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma.

Firman Alloh ta’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah sebahagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang bathil. (QS. Al-Baqarah [2]: 188)
Bahwasannya ghosob merupakan perbuatan mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Sabda Rosululloh shalallohu ‘alaihi wasallam:

لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفسه

“Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan keridhoan pemiliknya.” (HR. Daruqutni)

من اقتطع شبراً من الأرض ظلماً ؛ طوقه من سبع أرضين

“Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah dengan dzolim, maka ia akan ditimpakan tujuh lapis bumi.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dalil bahwa mengambil harta orang lain dengan cara dzolim walaupun sedikit diharamkan oleh Alloh, dan ancaman yang pedih bagi pelakunya.
Kewajiban orang yang Ghosob
Wajib bagi orang yang ghosob untuk mengembalikan harta rampasannya apabila barang tersebut masih utuh tidak ada penambahan atau pengurangan. Apabila telah berkurang jumlah/kualitas barangnya wajib mengganti kekurangannya. Apabila barang tersebut hilang baik sebab alam atau sebab kesalahan dirinya wajib menggantinya dengan barang yang serupa atau menggantinya dengan harga atau nilainya.
Dalam hadits Samurah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:

عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَهُ

“Kewajiban tangan (menggantinya) karena mengambilnya, sampai dikembalikan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan dishahihkannya serta Ibnu Majah)
Dalam madzhab Maliki apabila yang hilang setelah dighosob adalah barang-barang perabotan, dan hewan atau yang sejenisnya yang tidak dapat ditakar atau ditimbang maka dhoman atau gantinya adalah dengan nilai atau harganya. Adapun dalam madzhab Hanafi dan syafii wajib menggantinya dengan barang yang serupa. Kecuali kalau tidak ada yang semisal.
Mempertahankan Harta Milik Sendiri
Wajib bagi setiap orang untuk mempertahankan hartanya ketika ada orang lain ingin mengambilnya. Mempertahankan sesuai dengan kemampuan dari yang teringan, sampai yang terberat atau walaupun harus bertarung mempertaruhkan nyawa, maka itu bagian dari pada jihad fii sabilillah.
Sebagaimana Rasululloh saw bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Hukum menanam atau membangun di atas tanah ghosob

Barang siapa yang menenam di atas lahan rampasan, maka tanamannya untuk pemilik tanah dan bagi orang yang merampas wajib membayar sewa. Dan apabila tanamannya telah dipanen, maka dia hanya wajib membayar sewanya Adapun apabila membangun di atas tanah rampasan maka wajib menghancurkan bangunannya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Harta miliknya yang berada di tangan orang lain
Kapan saja barang rampasan ditemukan pada orang lain, maka dia lebih berhak, meskipun si perampas telah menjualnya kepada orang lain itu. Hal itu, karena perampas ketika menjualnya sama saja dalam keadaan tidak memilikinya, sedangkan akad jual beli jika seperti itu tidak sah. Dalam keadaan seperti ini, si pembeli tinggal menuntut uangnya dari si perampas. Abu Dawud dan Nasa’i meriwayatkan dari Samurah secara marfu’:

مَنْ وَجَدَ عَيْنَ مَالِهِ عِنْدَ رَجُلٍ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ وَيَتَّبِعُ الْبَيِّعُ مَنْ بَاعَه – أي يرجع المشتري على البائع

“Barangsiapa yang menemukan barangnya ada pada seseorang, maka dia lebih berhak terhadapnya, dan si pembeli mengambil (uangnya) dari si penjual.”

Referensi :

1. Kifayatul Ahyar, Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Hushni
2. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, Ibnu Rusd Al-Qurtubi
3. At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
4. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
5. Subulussalam, Muhammad bin Ismail As-Son’ani
6. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
7. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid

Disusun : Salman Yudi Aris D., S.Ud.,Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *