Isbal (Menjulurkan Pakain Hingga Menutupi Atau Melebihi Mata Kaki) Dalam Madzhab Syafii

Isbal (Menjulurkan Pakain Hingga Menutupi Atau Melebihi Mata Kaki) Dalam Madzhab Syafii

Jika melihat hadis-hadis Nabi, maka akan didapati bahwa kita seorang muslim dianjurkan dalam berpakaian baik menggunakan celana, sarung, gamis atau semisalnya agar tidak isbal yaitu menjulurkannya hingga menutupi atau melebihi mata kaki.

Lalu bagaimana hukumnya jika seseorang yang masih tetap isbal apakah jatuh dalam keharaman atau hanya sebatas makruh? Ini masalah yang sampai saat ini masih diperdebatkan para ulama. Ada ulama yang mengatakan bahwa isbal adalah haram baik disertai sombong maupun tidak dan sebagian ulama lainnya megatakan bahwa isbal hukumnya makruh (tidak disukai) jika tidak disertai dengan sombong dan dihukumi haram apabila karena sombong.

Masing-masing ulama membawakan dalil-dalil dari hadis Nabi, bahkan terkadang kedua kelompok tersebut sama-sama berdalil dengan hadis yang sama hanya saja berbeda dalam memahaminya.

Dalam masalah ini madzhab syafii adalah termasuk yang berpendapat bahwa isbal itu hukumnya makruh jika tidak disertai dengan sombong. Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab:

يحرم إطالة الثوب والإزار والسراويل على الكعبين للخيلاء، ويكره لغير
الخيلاء، نص عليه الشافعي في » البويطي  وصرح به الأصحاب، وقد بيناه في باب ستر العورة
استدل له بالأحاديث الصحيحة المشهورة، منه حديث ابن عمر أن النبي قال من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيام

“Haram menjulurkan pakaian, sarung, celana hingga menutupi mata kaki karena sombong, dan makruh (tidak disukai) apabila tidak sombong. Hal ini telah dinyatakan oleh Imam Asy-Syafii sebagaimana dalam kitab Imam Al-Buwaithi dan telah dipertegas oleh ulama-ulama syafiiyyah. Dan kami telah jelaskan dalam bab menutupi aurat, dalilnya adalah hadis-hadis shahih yang masyhur, diantaranya hadis Ibnu Umar radhiyallahu anhuma sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”.

Kesimpulannya, ulama ada 2 pendapat dalam masalah isbal. Pertama: Haram mutlak baik sombong maupun tidak, Kedua: Jika sombong haram, jika tidak sombong maka makruh (tidak disukai).

Dari dua pendapat tersebut maka kita ketahui bahwa meninggalkan isbal adalah pilihan terbaik. Disamping kita terhindar dari perkara yang minimal adalah makruh atau hal yang tidak disukai, juga kita telah mengaplikasikan sabda Nabi “Pakaian seorang muslim itu setengah betis, dan tidak mengapa antara setengah betis dan tumit (sekitar satu jengkal keatas dari tumit), pakaian yang menutupi (atau melebihi) mata kaki adalah di neraka”. (HR. Abu Daud). Wallahu a’lam

Oleh: Abul Fata Miftah, Lc

Artikel: www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *