SIKAP ORANG MUKMIN TERHADAP ACARA DAN RITUAL ORANG KAFIR

SIKAP ORANG MUKMIN TERHADAP ACARA DAN RITUAL ORANG KAFIR

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah teladan terbaik sepanjang zaman. Beliau shallallahu alaihi wasallam terkadang berinteraksi dengan orang kafir, namun dalam dua hal, yaitu, Pertama: Bertransaksi seperti membeli makanan dengan menggadaikan baju perangnya ke seorang Yahudi atau membeli kambing dari orang musyrik. Kedua: Mendakwahi orang kafir, Nabi shallallahu alaihi wasallam terkadang mendatangi perkumpulan atau mengundang mereka, tidak lain tujuannya adalah berdakwah atau menyeru mereka agar masuk Islam seperti mengundang pemuka-pemuka kafir quraisy, menemani pamannya saat hendak wafat dan mengajak untuk mengucapkan syahadat, menjenguk pembantunya yang sakit yaitu pemuda yahudi dan akhirnya diislamkan.

Adapun dalam urusan selain kedua itu, yang tidak ada kaitan transaksi atau dakwah seperti hanya diundang dalam acara atau ritual orang kafir maka beliau shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mendatanginya. Nabi pun pernah diminta menyembah tuhan orang kafir selama setahun dan orang kafir akan menyembah Allah selama setahun maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pun menolaknya dan turun surat Al-Kafirun.

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah menyebutkan di antara keistimewaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kitabnya Tahdzib Sirah Nabawiyah:

“Allah mensucikannya dari kotoran jahiliyah, sehingga beliau shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengagungkan ber
hala mereka (orang kafir) sepanjang usianya sama sekali. Beliau shallallahu alaihi wasallam juga tidak pernah menghadiri salah satu acara kekafiran mereka. Mereka meminta beliau shallallahu alaihi wasallam untuk menghadirinya, namun beliau shallallahu alaihi wasallam menolaknya dan Allah melindungi beliau shallallahu alaihi wasallam darinya. Dalam hadits dari Ali bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما عبدت صنما قط، وما شربت خمرا قط، ومازلت أعرف أن الذي هم عليه كُفر

“Aku tidak pernah menyembah berhala sekalipun, dan tidak pernah minum khamr sekalipun. Aku senantiasa mengetahui bahwa apa yang mereka (orang kafir lakukan adalah kufur”. (Lihat Khashaish Al-Kubra Imam As-Suyuthi)

Nabi shallallahu alaihi wasallam secara prinsip adalah bersikap tegas terhadap orang kafir dan berlemah lembut terhadap orang mukmin. Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Ny, pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. al-Fath:29)

Islam Hanya Bangkit Di Tangan Orang Mukmin Yang Memiliki Izzah (Harga Diri) Di Hadapan Orang Kafir Dan Berlemah Lembut Kepada Orang Beriman

Karakter kaum inilah yang difirmankan Allah dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. ”
(QS. Al-Maidah: 54)

“Allah berfirman menceritakan tentang kekuasaan-Nya Yang Maha Besar, bahwa barang siapa yang memalingkan diri tidak mau menolong agama Allah dan menegakkan syariat-Nya, sesungguhnya Allah akan menggantikannya dengan kaum yang lebih baik daripadanya, lebih keras pertahanannya serta lebih lurus jalannya. ”
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Semoga Allah menjaga akidah kita dan akidah anak cucu kita sehingga tidak terjajah dan tergadaikan oleh orang kafir.

@Abul Fata Murod, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *