KEUTAMAAN MEMAKMURKAN MASJID

KEUTAMAAN MEMAKMURKAN MASJID

Hampir semua waktu yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan sahabatnya dihabiskan di dua tempat yaitu medan dakwah atau jihad dan masjid. Oleh karena itu ketika kita membaca kitab-kitab hadits akan didapati sekian banyak hadits yang menceritakan kejadian atau peristiwa yang ada di dua tempat tersebut yaitu medan jihad atau dakwah dan masjid.

Dari sini kita mengetahui bahwa memakmurkan masjid sudah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan sahabatnya. Harus kita ketahui pula bahwa memakmurkan masjid memiliki keutamaan yang besar diantaranya sebagai berikut;

1. Memakmurkan masjid adalah salah satu tolok ukur keimanan seseorang dan salah satu sarana meraih hidayah dari Allah

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah:18)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

Allah mempersaksikan keimanan orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid, seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, bahwa Darij —yakni Abus Samah—pernah menceritakan kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: Apabila kalian melihat seorang lelaki biasa pergi ke masjid, maka saksikanlah oleh kalian bahwa dia beriman. Allah telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. At-Taubah: 18) [Tafsir Ibnu Katsir]

2. Memakmurkan masjid termasuk amalan yang akan mendatangkan naungan Allah pada hari kiamat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) SEORANG YANG HATINYA BERGANTUNG KE MASJID, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Al-Bukhori)

3. Seseorang yang memakmurkan masjid berarti telah mendatangi tempat yang paling dicintai Allah dari tempat-tempat yang ada di negerinya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai oleh Allah dalam suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)

4. Ketenangan dan rahmat akan meliputi orang yang memakmurkan masjid

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بينهم ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu diantara rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat akan meliputi mereka, para Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. ” (HR. Muslim)

5. Memakmurkan masjid adalah bentuk memuliakan masjid yang ini merupakan perintah Allah

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: ” Qatadah rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan buyut (rumah-rumah) yang termaktub dalam ayat adalah masjid-masjid ini yang Allah memerintahkan agar dibangun, DIRAMAIKAN, dimuliakan, dan disuci­kan. [Tafsir Ibnu Katsir]

6. Allah mencela orang yang menghalangi orang-orang yang hendak memakmurkan masjid

Allah berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? (QS. Al-Baqarah:114]

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar kita mampu memakmurkan dan memuliakan masjid. Wallahu a’lam

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *