HUKUM ILA’

HUKUM ILA’

Definisi Ila’

Secara bahasa masdar dari ‘aala-yu’lii ila’an artinya adalah alhalfu wa al-yamin artinya sumpah.
Secara syariat ila’ adalah sumpah seorang suami untuk tidak mencampuri istrinya (jima’)dalam masa lebih dari empat bulan atau dengan tidak menyebutkan tenggang waktunya. Misalnya; Demi Alloh saya tidak akan menjima’mu lima bulan, atau dengan lafadz kinayah jika disertai niat seperti; Demi Alloh saya tidak akan menyentuhmu satu tahun.
Dr. Wahbah Dzuhaili mengatakan: Ila’ dalam sejarah adalah bagian dari talak pada masa jahiliyah sebagaimana dzihar. Orang Arab Jahiliyah dulu menggunakannya dengan tujuan untuk menyakiti dan menelantarkan istri mereka dengan cara bersumpah untuk tidak menggaulinya dalam masa satu tahun atau lebih. Kemudian datang Islam dengan syariatnya yang mulia mengubah hukumnya dengan membatasi ila’ sampai jangka waktu paling banyak 4 bulan.

Dasar Hukum Ila’

Allah ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Kepada orang-orang yang meng-ila istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqoroh:226)
Dalam Hadits yang diriwayatkan dari jalur Aisyah menceritakan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ آلَى مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا، فَنَزَلَ لِتِسْعٍ وَعِشْرِينَ، وَقَالَ: الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ

Bahwa Rasulullah Saw. pernah meng-ila istri-istrinya selama satu bulan. Maka beliau baru turun setelah dua puluh sembilan hari, lalu bersabda, “Bulan ini bilangannya dua puluh sembilan hari.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Hukum Ila’:

Ila’ hukumnya haram menurut jumhur ulama, karena terdapat unsur menyakiti dan karena bersumpah meninggalkan perkara yang wajib. Dan menurut Hanafiyah hukumnya makruh yang mendekati keharaman.
Secara hukum wad’i, ila’ sah dan terdapat konsekwensi hukumnya. Ila’ terjadi dengan bahasa apa saja yang dipahami, baik bahasa Aran ataupun bahasa ‘Ajam (non Arab).

Syarat-syarat dan Rukun ila’:
1. Al-halif (orang yang bersumpah), syaratnya adalah setiap suami yang sah hukum talaknya yang berakal dan baligh.
2. Al-mahluf bihi (yang dijadikan sumpah) yaitu nama Alloh ta’ala dan sifat-sifatnya yang mulia.
3. Al-mahluf ‘alaih (objek sumpah) yaitu jima’. Seperti perkataan : demi Alloh saya tidak akan menjima’mu, tidak akan menyentuhmu dll.
4. Muddah (tenggang waktu), yaitu masa bersumpah. Menurut jumhur lebih dari empat bulan sedangkan menurut Hanafiyah empat bulan atau lebih.

Konsekwensi Hukum Ila’:

Apabila seorang suami bersumpah tidak akan menggauli istrinya dalam suatu masa, jika masanya kurang dari empat bulan maka pihak suami harus menunggu sampai masanya habis, baru boleh menggaulinya lagi. Demikian juga pihak istri harus bersabar menunggunya. Sebagaimana hadits di atas. jika suami menggauli istrinya sebelum masanya habis maka dia wajib membayar kafarah (denda).
Akan tetapi, apabila seorang suami bersumpah tidak menggauli istrinya lebih dari empat bulan, maka hendaklah ditunggu sampai jangka waktu empat bulan. Kalau dia kembali kepada istrinya sebelum jangka waktu empat bulan, maka dia diwajibkan membayar kafarah (denda). Tetapi jika dalam waktu empat bulan dia tidak kembali kepada istrinya, maka hakim berhak menyuruhnya memilih diantara dua perkara; pertama, membayar kafarat serta kembali bergaul dengan istrinya. Atau kedua jika suami tidak mau melakukannya maka hakim berhak menceraikan mereka dengan paksa dengan status talak roj’i (talak yang boleh rujuk) menurutt jumhur ulama. Menurut Hanafiyah mengakategorikannya sebagai talak ba’in (talak tiga) dengan sendirinya apabila sudah lewat empat bulan, sedang suami tidak menggauli istrinya setelah ila’.

Cara Kembali (ifa’) dari ila’:

Ulama berbeda pendapat mengenai cara kembalinya suami kepada istrinya, apakah harus dengan mencampurinya atau cukup dengan kata dan niat saja?
Pertama, kembali artinya kembali bercampur (jima’) dengan istrinya.
Kedua, berjima’ jika tidak ada halangan seperti haid, sakit dari suami dll. Jika berhalangan maka kembali cukup dengan lisan atau dengan niat saja.
Ketiga, kembali cukup dengan lisan baik ada halangan atau tidak.
Kafarah (denda) ila’
Kafarah (denda) dari ila’ adalah seperti kafarah yamin (sumpah) yaitu; memberikan makan kepada 10 orang miskin, atau memberikan pakaian kepada 10 miskin atau memerdekakan budak.

Referensi :
1. Fiqh Islam wa Adillatuhu, Dr. Wahbah Zuhaili
2. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
3. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid
4. Kifayatul Ahyar Fii Hilli Ghoyatul Ikhtishor, Abu Bakar bin Muhammad Ibn Husni

Disusun : Salman Yudi Aris D., S.Ud.,Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *