HUKUM DZIHAR

HUKUM DZIHAR

Definisi:

Dzihar secara bahasa pecahan dari kata dzuhrun artinya punggung. Secara istilah dzihar adalah ungkapan suami kepada istrinya yang menyerupakannya dengan ibunya, sehingga istrinya haram atasnya. Seperti perkataan : “Bagiku engkau seperti punggung ibuku.” Ungkapan tersebut maksudnya adalah haram bagiku melakukan pergaulan suami istri denganmu. Sebagaimana haram bagiku melakukan itu dengan ibuku. Ungkapan tersebut biasanya hanya terjadi di kalangan orang Arab saja. Dan di Indonesia hampir tidak terdapat uangkapan dzihar tersebut.

Hukum Dzihar:
Dzihar hukumnya haram menurut ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu apabila ditinjau dari sisi hukum taklifi. Dan apabila ditinjau menurut hukum wad’i maka hukumnya sah / terjadi dan wajib membayar kafarah.
Keharamannya ini menurut para ulama karena Rosululoh shalallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan membayar kafarah (denda) bagi pelakunya. Dan Al-Qur’an menyebutkan bahwasannya perkara itu ada perkataan munkar dan dan dusta. Sebagaimana firman Alloh ta’ala:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلا اللائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Orang-orang yang men-zihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mujadilah: 2)
Ibnu Katsir berkata: kata zihar berasal dari zahar, artinya punggung, Dahulu di masa Jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zihar istrinya, ia mengatakan kepada istrinya, “Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku,” yakni punggungnya sama dengan punggung ibunya. Kemudian menurut istilah syara’ kata zihar ini bisa saja diberlakukan terhadap anggota tubuh lainnya secara analogi (kias). Dahulu di masa Jahiliah zihar dianggap sebagai talak, kemudian Allah. memberikan kemurahan bagi umat ini. Dia tidak menjadikannya sebagai talak, dan pelakunya hanya dikenai sanksi membayar kifarat, berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan mereka di masa Jahiliah. Hal yang sama telah dikatakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.
Ayat ini turun terkait wanita sahabat Khaulah binti Tsa’labah yang didzihar oleh suaminya Aus bin Shamit. Sementara Khaulah masih mencintai suaminya dan memiliki anak yang banyak darinya. Maka ia mengajukan gugatan perkara tersebut kepada Rasululloh dan mengadukannya kepada Alloh ta’ala, akhirnya turunlah ayat ini.

Beberapa ketentuan tentang Dzihar:

1. Dzihar adalah tradisi jahiliyah (sebelum Islam) adalah bagian dari talak. Sedangkan dzihar dalam Islam tidak termasuk talak, apabila seorang suami mendzihar istrinya dan berniat ingin kembali maka diwajibkan membayar kafarah (tebusan). Sebab kafarahnya adalah karena suami telah mengharamkan istrinya terhadap dirinya kemudian menyelisihinya dengan kembali kepada istrrinya lagi.
2. Apabila seorang suami mendzihar istrinya kemudian meneruskannya dengan talak, maka tidak ada kewajiban membayar kafarah.
3. Orang yang mendzihar istrinya tidak boleh menggaulinya sampai membayar kafarat. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ . فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيم

Orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul¬Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS. Al-Mujadilah: 3-4)
Larangan menggauli istrinya menurut jumhur ulama adalah meliputi larangan menyentuh, mencium, apalagi menjima’nya. Sedangkan menurut sebagian ulama larangannya hanya menjima’ saja artinya dibolehnya menyentuh dan menciumnya.
4. Kafarah dzihar yaitu;
a. Memerdekakan budak. Sebagian ulama mensyaratkannya dengan budak yang beriman. Sebagian lagi tidak mensyaratkannya.
b. Puasa dua bulan berturut-turut, kecuali karena udzur.
c. Memberi makan 60 miskin. Adalah makanan penduduk setempat, jumlah untuk setiap miskin 1 mud atau ¼ sha’ sekitar 560 g.
Kafarah ini dilakukaan berurutan sesuai kemampuan. Apabila tidak mampu memerdekakan budak maka puasa dua bulan berturut-turut. Apabila tidak mampu berpuasa maka dengan memberi makan.

Referensi :
1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait
2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
3. Minhatul ‘Allam Syarh fi Syarh Bulughul Marom, Abdulloh bin Sholeh Al-Fauzan
4. Fiqh Islami, H. Sulaiman Rasjid
At-Tadzhib fii Adillat Matan Ghoyah wa Taqrib, Dr. Mustofa Dieb Al-Bugho
5. Tafsir Ibnu Katsir
Disusun : Salman Yudi Aris D., S.Ud.,Lc

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *