TAHUN BERDUKA CITA DAN PERLUASAN DAKWAH NABI

TAHUN BERDUKA CITA DAN PERLUASAN DAKWAH NABI

1. Abu Tholib sering mengalami sakit, semakin lama sakitnya semakin parah. Akhirnya ia meninggal pada Bulan Rojab tahun 10 kenabian, setelah 6 bulan dari pemboikotan. Ketika sekarat, Rosululloh datang menghampirinya, saat itu ada Abu Jahal di sampingnya. Rosul pun mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkan Laa Ilaha Illalloh, kalimat yang dapat aku gunakan untuk membelamu di sisi Alloh kelak.” Namun Abu Jahal dan Abdulloh bin Abi Umayyah menimpalinya, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau membenci agama Abdul Muttholib?” akhirnya Abu Tholib mengatakan, “Saya tetap berada di dalam agama Abdul Muttholib”. Kemudian Rosululloh bersabda, “Aku akan memintakan ampunan untukmu, selagi aku tidak dilarang”. Maka turunlah ayat dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 113. Demikianlah Abu Tholib mati dalam kekafirannya, meskipun selama hidupnya selalu membela dan melindungi Rosululloh .
2. Dua bulan setelah wafatnya Abu Tholib, berikutnya wafat pula Ummul Mukminin, Khodijah . Beliau meninggal dunia pada tahun 10 kenabian, di usia 65 tahun, sedangkan pada saat itu Rosululloh berusia 50 tahun. Khodijah adalah istri yang selalu mendampingi Rosululloh di masa-masa terberat awal dakwah Beliau, dia korbankan diri dan hartanya demi kelangsungan dakwah Beliau. Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh : “Dia beriman kepadaku ketika orang-orang kufur kepadaku, Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, Dia menyerahkan hartanya untukku ketika orang-orang mencegah hartanya untukku, dan Alloh memberi keturunan darinya, sementara yang lainnya tidak mendapatkannya.”
3. Dua kejadian di atas sangat besar pengaruhnya dalam diri Rosululloh , mengingat kedua orang tersebut selama ini sangat besar artinya dalam kehidupan Rosululloh . Sementara di sisi lain tekanan dan ancaman orang-orang kafir semakin menjadi-jadi, karena kini tidak ada lagi Abu Tholib yang suka melindunginya.
4. Melihat hal tersebut, Rosululloh mencoba hijrah ke Thoif dengan harapan di sana mendapat sambutan baik tidak seperti yang Beliau dapatkan di kota Mekkah. Namun kenyataannya penduduk Thoif memperlakukannya dengan kasar melebihi dari apa yang Beliau dapatkan dari kaumnya. Begitu pula apa yang dialami oleh para sahabatnya, mereka pun mendapatkan perlakuan yang semakin keras dari orang-orang kafir Quroisy. Karena itu, tahun ini dalam sejarah kehidupan Rosululloh dikenal sebagai Tahun Duka Cita (‘Aamul Huzni).

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *