MENGAPA AHLU MAKSIAT MENUDUH TOKOH ISLAM, AKTIVIS ISLAM ATAU DAI ISLAM DOYAN MAKSIAT? DAN LUPA PADA DIRINYA

MENGAPA AHLU MAKSIAT MENUDUH TOKOH ISLAM, AKTIVIS ISLAM ATAU DAI ISLAM DOYAN MAKSIAT? DAN LUPA PADA DIRINYA

Seringkali ahli maksiat atau yang bergelimang dalam maksiat bahkan sudah sampai level kemunafikan menuduh tokoh Islam, aktivis Islam atau dai Islam itu doyan maksiat, bejat, mabok agama, sok suci, cabul, berhati setan dan lain sebagainya.

Ironisnya orang-orang yang menuduh tadi justru yang bergelimang dan tenggelam dalam dosa, maksiat bahkan kemunafikan. Hampir tiap hari mulutnya tidak sepi dari dusta, bohong, curang, makan harta haram, hoax, mencaci maki orang Islam, penuh kedengkian, tidak kenal halal haram, zina, selingkuh, konten porno, musik, dangdutan, ghibah, mafia, tidak shalat, tidak puasa ramadhan, tidak membaca quran, dan meninggalkan beragam kewajiban dalam agama Islam.

Mengapa hal itu menimpa mereka? Jawabannya adalah mereka ketika melihat para dai dan aktivis Islam atau tokoh Islam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar atau berdakwah mereka sangat terganggu, serta dirinya sulit menerima dakwah disebabkan sudah saking banyaknya dosa dan maksiat yang ia lakukan. Karena kekesalan dan kebenciannya itu lah keluar tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepada tokoh Islam, aktivis Islam atau dai Islam tersebut.

Saking banyaknya dosa dan maksiat yang ia lakukan, sampai-sampai sudah mati rasa dalam dirinya, ia melakukan dosa dan maksiat sudah seperti melakukan hal-hal yang mubah atau diperbolehkan. Dari sinilah ia mulai meremehkan dan menganggap dosa dan maksiat itu sangat ringan dan biasa saja.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan;

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir atau orang yang gemar maksiat, ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” [Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya]

Semoga Allah senantiasa membimbing kita.

@Abul Fata Murod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *