Apakah Tidur Membatalkan Wudhu?

Apakah Tidur Membatalkan Wudhu?

Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim menyebutkan dalam kitabnya Shahih Fikih sunnah bahwa masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama sebagai berikut;

Pertama: Tidur tidak membatalkan wudhu sama sekali. Ini pendapat Ibnu Umar, Abu Musa al-Asyari, Said bin Jubair, Makhul, Ubaidah, al-Auzai dan yang sependapat dengannya.

Dalil mereka di antaranya hadis dari Anas bin Malik, dia berkata; Saat itu sudah dikumandangkan iqamat untuk shalat, tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam memanggil seseorang dan beliau terus memanggilnya sampai para sahabat yang lain tertidur, kemudian Nabi datang dan shalat bersama mereka”. (HR. Al-Bukhari)

Kedua: Tidur membatalkan wudhu secara mutlak. Ini pendapat Abu Hurairah, Urwah bin Zubair, Al-Muzani, Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm dan yang dipilih oleh syaikh al-Albani.

Dalil mereka di antaranya adalah hadits Safwan bin Assal, dia berkata; Rasulullah memerintahkan kami mengusap sepatu-sepatu kami tatkala kami bepergian jauh dan tidak dilepas selama tiga hari, baik karena buang air besar, kencing, atau tidur kecuali mengalami janabat”. (HR. An-Nasai)

Ketiga: Tidur dalam waktu yang lama membatalkan wudhu apapun keadaannya, sedangkan tidur untuk waktu yang sebentar tidak membatalkan wudhu. Ini adalah pendapat Imam Malik, salah satu riwayat dari Ahmad, Az-Zuhri, Rabiah, dan Al-Auzai.

Keempat: Tidur tidak membatalkan wudhu, kecuali dengan posisi berbaring atau bersandar. Adapun orang yang tidur dengan posisi shalat seperti rukuk, sujud, berdiri atau duduk tidak membatalkan wudhu. Baik tidurnya dalam keadaan shalat maupun di luar shalat. Ini pendapat Hammad, ats-Tsauri dan Abu Hanifah.

Kelima: Tidur tidak membatalkan wudhu kecuali tidurnya orang yang rukuk dan sujud. Ini adalah pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad.

Keenam:Tidur tidak membatalkan wudhu kecuali tidurnya orang yang sujud. Pendapat ini juga disandarkan kepada Imam Ahmad.

Ketujuh: Tidur tidak membatalkan wudhu sama sekali ketika tidur dalam shalat, adapun di luar shalat bisa membatalkan wudhu. Pendapat ini disandarkan kepada Imam Abu Hanifah.

Kedelapan: Tidak batal apabila tidur dengan posisi pantat rata pada lantai, sama saja dalam shalat atau di luar shalat, baik sebentar maupun lama. Ini adalah pendapat Imam Syafii.

Kesimpulan dan sekaligus pendapat yang rajih menurut syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim adalah tidur yang pulas sehingga orangnya tidak sadarkan diri, tidak mendengar suara, tidak terasa jika sesuatu jatuh dari tangannya atau ada air liur yang keluar dari mulutnya ia tidak mengetahui maka tidur seperti ini membatalkan wudhu dengan posisi apapun ia tidur baik berdiri, duduk, berbaring, rukuk ataupun sujud. Wallahu a’lam

 

@Abul Fata Murod

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *