Apakah Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu?

Apakah Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu?

Ulama mengatakan bahwa menyentuh kemaluan dengan penghalang tidak membatalkan wudhu. Adapun menyentuhnya tanpa penghalang ulama berbeda pendapat. Dalam situs Islam Sual Wal Jawab yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Shaleh al-Munajjid disebutkan beberapa pendapat sebagai berikut:

Pertama: Menyentuh kemaluan tanpa pembatas membatalkan wudhu. Ini pendapat mayoritas ulama, baik dari shahabat ataupun generasi setelahnya, para tabiin, begitu pula para imam, di antaranya Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad.

Mereka berdalil tentang hal itu dengan beberapa hadits, di antaranya, sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ  (رواه أبو داود، وصححه الألباني في صحيح أبي داود

“Barangsiapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudu.” (HR. Abu Daud, no. 181 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

Kedua: Menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah.

Di antara dalil dari pendapat ini adalah hadits dari Tholq bin ‘Ali di mana ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya,

مَسِسْتُ ذَكَرِى أَوِ الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ قَالَ : لاَ إِنَّمَا هُوَ مِنْكَ

“Aku pernah menyentuh kemaluanku atau seseorang ada pula yang menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia diharuskan untuk wudhu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kemaluanmu itu adalah bagian darimu.”  (HR. Ahmad 4/23. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ketiga: Sebagian ulama di antaranya Imam Malik merinci antara menyentuh dengan syahwat dan tanpa syahwat. Apabila menyentuh dengan syahwat, maka membatalkan wudhu, dan tidak membatalkan wudhu jika menyentuhnya tanpa syahwat. Pendapat ini yang dikuatkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam kitab Asy-Syarhul-Mumti’. Beliau juga menguatkan pendapat ini dalam penjelasannya di Kitab Bulughul Maram.

Kesimpulannya, “Bahwa seseorang ketika menyentuh kemaluannya, dianjurkan baginya berwudu secara umum, baik dengan syahwat atau tanpa syahwat. Dan kalau menyentuhnya dengan syahwat, pendapat yang mewajibkan berwudhu lagi in syaAllah adalah pendapat yang kuat sekali.

@www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *