APAKAH BOLEH MEMBACA AL-QUR’AN DAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH DALAM KEAADAN BERHADATS?

APAKAH BOLEH MEMBACA AL-QUR’AN DAN BERDZIKIR KEPADA ALLAH DALAM KEAADAN BERHADATS?

Menurut mayoritas ulama ahli fiqih, dan termasuk di antaranya adalah : Imam abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah, berpendapat bahwasanya disunnahkan membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam keadaan bersuci. Adapun membaca Al-Qur’an dan berdzikir dalam keadaan berhadats maka tidak mengapa.

• Dan ada sebagian ulama ahli fiqih yang mewajibkan/mengharuskan berwudhu terlebih dahulu sebelum membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Sumber perbedaan pendapat di kalangan para ulama ahli fiqih dalam masalah ini adalah adanya dua hadits shahih yang terkesan saling bertentangan.

Pertama, hadits Abu Jahm :

أقبل انبي صلى الله عليه و سلم من نحو بئر جمل، فلقيه رجل فيلم عليه و لمم يرد عليه انبي صلى الله عليه و سلم، حتى أقبل على الجدار فمسح بوجهه و يديه ثم انه رد عليه صلى الله و سلم

“Nabi Shalallahu alaihi wa sallam tiba dari arah sumur Jamal, dan kemudian beliau bertemu seorang lelaki yang memberinya salam, tetapi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak berkenan menjawab salamnya sampai ia menghadap ke suatu tembok kemudian mengusap wajah dan tangannya lalu beliau shalallahu alaihi wa sallam berkenan menjawab salamnya”

Kedua, hadits Ali :

ان النبي صلى الله عليه و سلم كان لا يحبه عن قراءة القران شيء الا الجنابة

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak ada sesuatu apapun yang menghalanginya dari membaca Al-Qur’an”

Menurut mayoritas ulama ahli fiqih, hadits Ali Radhiyallahu Anhu menasakh hadits Abu Jahm Radhiyallahu Anhu.

Dan juga berdasarkan :

• Hadits yang dituliskan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim :
Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu menginap dirumah bibinya yang menjadi istri Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, yakni Maimunah Radhiyallahu Anha. Sekiranya tengah malam Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bangun dari tidurnya dan mengusap wajah mulianya, kemudian membaca 10 ayat terakhir dari surah Ali Imran, barulah kemudian beliau berwudhu dan melaksanakan sholat malam.

Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu mengkhabarkan kepada kita bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membaca beberapa ayat Al-Qur’an setelah beliau bangun dari tidurnya sebelum berwudhu terlebih dahulu. Dengan demikian orang yang berhadats boleh membaca Al-Qur’an secara hafalan.

Dan hadits atsar yang dituliskan didalam kitab Sunan Ad-daruquthni dan Sunan Al-Baihaqi :
“Bahwasanya Ali Radhiyallahu Anhu setelah buang air kecil atau buang air besar, membaca beberapa ayat Al-Qur’an, kemudian berkata “Bacalah Al-Qur’an selama kalian tidak junub. Apabila kalian junub, maka jangan lah membacanya walaupun hanya satu huruf”
Dan Imam An-Nawawi berkata didalam Kitabnya At-Tibyan Di Adabi Hamalatil Qur’an : “disunnah kan untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan bewudhu, apabila seseorang membaca Al-Qur’an (secara hafalan) dalam keadaan berhadats, maka kaum muslimin berijmak akan kebolehannya. Ada banyak hadits yang menunjukkan hal itu”

Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:

عن عائشه قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكر الله تعالى على كل احيانه

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam selalu berdzikir kepada Allah Ta’aladalam setiap waktunya”

Berkenaan dengan hadits tersebut, Imam An-Nawawi berkata didalam kitab Syarah Shahih Muslim : “hadits tersebut adalah dasar diperbolehkannya tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan dzikir-dzikir lain yang semisal. Yang dimaksud hadits tersebut adalah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam keadaan bersuci, berhadats, dalam keadaan junub, berdiri, duduk, berbaring dan berjalan.

• Adapun ulama ahli fiqih yang mewajibkan berwudhu terlebih dahulu sebelum membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah Ta’ala, dengan mengunggulkan hadits Abu Jahm.
Wallahu A’lam.

Oleh: Indra Lukmana (Mahasiswa Ma’had Huda Islami – STAI Al-Hidayah Bogor)

Editor: Abul Fata Miftah, Lc

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *