KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM
KEDUDUKAN ADAB DALAM ISLAM Secara umum adab adalah melakukan sesuatu yang terpuji berupa ucapan dan perbuatan atau yang terkenal dengan sebutan al-akhlaq al-karimah. Dalam Islam, masalah…
Rebo Wekasan Dalam Timbangan
Oleh: Arifin, SHI.
Rebo wekasan atau yang dikenal juga dengan istilah rebo pungkasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar. Hari ini dianggap hari naas atau turunnya bencana ke permukaan bumi. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul Hamid Quds, pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” menjelaskan bahwa banyak auliya Alloh yang mempunyai pengetahuan spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Hari ini dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun.”
Berdasarkan hal itulah, sebagian kaum Muslimin di berbagai pelosok nusantara, baik masyarakat perkotaan atau pedesaan mengadakan acara rebo wekasan. Mereka mengadakan acara ini dengan penuh khidmat, khusyu’, dan tenang. Seolah-olah mereka anggap bahwa rebo wekasan merupakan suatu bagian dari syari’at Islam.
Ritual Peribadahan Rebo Wekasan
Para pengamal acara rebo wekasan berkeyakinan bahwa bala melanda ke permukaan bumi pada hari ini. Oleh karena itu untuk melindungi diri mereka dari hal tersebut dilakukan ritual peribadahan untuk menolak mara bahaya tersebut. Biasanya ritual peribadahan antara satu daerah dengan yang lainnya berbeda-beda. Namun secara global mereka biasanya berkumpul di masjid pada Rabu pagi kira-kira pukul 06.30 atau setelah Shalat Maghrib malam Rabu kemudian melakukan aneka ritual peribadahan berikut berikut;
Budaya Jahiliyyah
Keyakinan bahwa hari Rabu akhir bulan Shafar adalah hari naas, hari, sial, dan hari turunnya bencana sama sekali bukan ajaran dari Islam, tetapi aqidah kaum Jahiliyyah. Pada masa jahiliyyah orang-orang berkeyakinan bahwa bulan safar adalah bulan sial, kemudian Beliau membantah aqidah bathil ini dengan sabdanya:
لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ
“Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
“Maksud hadits ini, orang-orang Jahiliyyah meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar. Mereka berkata, Shafar adalah bulan sial. Maka Nabi membatalkan hal tersebut. Pendapat ini diceritakan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya berpendapat demikian. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. Meyakini datangnya sial dengan bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini adanya pertanda buruk) yang dilarang.” (Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).
Pantaskah kita sebagai kaum Muslimin mengikuti budaya Jahiliyyah?
Segalanya atas Ketetapan Alloh
Ketahuilah bahwa segala kebaikan dan keburukan telah ditentukan oleh Alloh . Ketika Alloh berkehendak, niscaya terjadi sedangkan ketika Alloh tidak berkehendak maka tidak terjadi musibah dan bencana itupun tidak lepas dari kehendak Alloh . Tidak boleh bagi seorang Muslim menyandarkan bala kepada bulan tertentu atau hari tertentu. Inilah aqidah yang harus ditancapkan dalam jiwa seorang Muslim. Alloh berfirman;
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Alloh orang-orang yang beriman harus bertawakal.”. (QS. at-Taubah [9] : 51)
Menyandarkan sesuatu musibah atau mara bahaya bakal menimpa karena waktu atau masa yang tertentu adalah perbuatan yang tercela karena segala sesuatu itu ditetapkan oleh Alloh tanpa ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan-Nya.
Dari Abdulloh bin ‘Abbas , ia mengatakan, bahwa Rosululloh bersabda kepadanya “Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Alloh untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu.” (HR. at-Tirmidzi)
Rebo Wekasan Dalam Timbangan
Amalan peribadahan yang dilakukan seorang Muslim hendaknya di bangun di atas dasar mengikuti Rosululloh dalam memahami dan mempraktekkan agama (ittiba’). Ingat! Jika peribadahan tersebut tanpa didasari pedoman Nabi Muhammad , maka ibadah tersebut tertolak. Pelakuanya sia-sia tak memperoleh pahala di hadapan Alloh , padahal ia telah mencurahkan waktunya dan menguras tenaga hingga berlelah-lelah. Rosululloh bersabda;
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).
Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Alloh,
“Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. al Mulk: 2), beliau mengatakan, “Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi ) .”
Beliau lalu berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran Nabi , amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali)
Sebagai seorang Muslim setelah mengetahui dalil di atas tentunya dituntut cerdas dan kritis sambil menagajukan pertanyaan. Adakah sumber hukum acara rebo wekasan dari al-Qur’an dan as-Sunnah? Adakah rujukan valid dari al-Qur’an dan hadits tentang shalat empat rakaat, sedekah, pembacaan tahmid, tasbih, dan tahlil pada Rebo wekasan? Kenapa kita mendahulukan pendapat orang daripada keduanya, padahal Alloh berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Alloh dan Rosulnya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Hujuraat [49] : 1)
Kalau kita mau jujur, berhati lapang dan cinta kepada kebenaran, pasti meyakini bahwa acara rebo wekasan bukan bagian dari ajaran Islam. Ia hanyalah ajaran dari Syaih Abdul Hamid al-Quds merujuk kepada orang-orang sufi. Pantaskah kita berpegang teguh kepada orang sufi namun meninggalkan al-Qur’an dan as-Sunnah? Kenapa kita yakin bahwa pada Rabu akhir bulan Safar adalah hari sial dan turunnya bala, padahal al-Qur’an dan hadits telah mengeyahkannya?
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs , , ia mengatakan, “Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi , lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’” (HR. at-Tirmidzi, dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahîh.”)
Jauhnya kaum Muslimin dari panduan Islam menyebabkan mereka melakukan peribadahan yang tidak diperbuat oleh Rosululloh . Salah satunya adalah ritual tahunan rebo wekasan.
Alloh berfirman:
“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. al-A’raaf [7] : 131).
Artikel:
www.inilahfikih.com