ADAKAH PUASA RAJAB?

ADAKAH PUASA RAJAB?

Umat Islam baik dari kalangan ulamanya, penuntut ilmunya maupun orang awamnya berbeda pendapat mengenai puasa rajab secara khusus yang dilakukan di bulan rajab. Minimal ada dua kelompok dalam masalah ini.

KELOMPOK PERTAMA:

Puasa rajab secara khusus adalah dianjurkan.

Dalil yang biasa digunakan oleh kelompok pertama ini adalah sebagai berikut:

1. Bulan rajab merupakan salah satu bulan haram atau bulan mulia, maka hendaknya diisi dengan amal-amal shaleh diantaranya dengan puasa. Juga tidak ada larangan untuk berpuasa di bulan rajab sehingga puasa rajab boleh dilakukan bahkan dianjurkan.

Tentang bulan rajab adalah termasuk bulan haram, Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Asy’as, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan Langit dan bumi diantaranya empat  bulan haram (suci); tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharram, sedangkan lainnya ialah Rajab Mudhar yang terletak di antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat At-Taubah ayat 36)

2. Merujuk pada hadits yang berbunyi;

Dari Mujibah al-Bahiliyah dari ayahnya atau dari pamannya – yakni saudara lelaki dari ayahnya, bahwasanya ia – ayah atau pamannya itu – mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian pergi lagi. Selanjutnya ia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lagi sesudah setahun, tetapi hal-ihwal serta keadaan tubuhnya telah berubah. la lalu berkata: “Ya Rasulullah, apakah Tuan tidak mengenal lagi kepada saya?” Beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Siapakah engkau?” la menjawab: “Saya adalah al-Bahili yang datang pada Tuan tahun yang lalu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apakah yang menyebabkan perubahan dirimu, padahal engkau dahulu baik sekali keadaan tubuhmu?” la menjawab: “Saya tidak pernah makan sesuatu makanan sejak saya berpisah dengan Tuan dahulu, melainkan di waktu malam.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda: “Kalau begitu, engkau telah menyiksa dirimu sendiri,” kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan sabdanya: “Berpuasalah dalam bulan Shabar – yakni bulan Ramadhan – dan sehari saja dalam setiap bulan lainnya.” la berkata: “Tambahkanlah itu untuk saya, sebab sesungguhnya saya masih ada kekuatan lebih dari itu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah dua hari.” la berkata: “Tambahkanlah!” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah tiga hari.” la berkata: “Tambahkanlah!” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah bulan-bulan mulia – yaitu Rajab, Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram – dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.” Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda demikian dengan menunjukkan tiga buah jari-jarinya lalu mengumpulkannya dan kemudian membukanya – maksudnya tiga hari
puasa lalu tiga hari tidak dan demikian seterusnya.

Status hadits:

Hadits dhaif diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (2428), kitab Ash-Shaum bab Fi Shaumi Asyhuri Al-Hurum, dinyatakan Dhaif oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Dhaif Sunan Abu Daud (537).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: Hadits Mujibah dhaif karena mujibah majhul (tidak dikenal), dan hadits dengan sanad ini dhaif, ada kemungkaran dalam matannya, dan puasa dibulan haram tidaklah datang riwayatnya kecuali dari hadits ini. “[Lihat Syarah Riyadhus Shalihin Bab Penjelasan Keutamaan Puasa Muharram, Sya’ban dan Bulan Haram]

Juga merujuk pada hadits yang berbunyi;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair -dalam riwayat lain- Danb Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim Al Anshari ia berkata; Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan. Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka.”

Status hadits:

Hadits shahih riwayat Imam Muslim.

Disimpulkan dari hadits ini bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah puasa di bulan rajab.

3. Merujuk pada fatwa-fatwa yang bersifat umum dari ulama madzhab syafii yang menganjurkan puasa di bulan haram diantaranya di bulan rajab, fatwanya sebagai berikut;

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah berkata dalam kitab Syarah Shahih Muslim pada bab “Puasanya Nabi Diselain Bulan Ramadhan dan Anjuran Untuk Tidak Melewati Bulan Tanpa Berpuasa”: “Tidak ada dalil yang melarang puasa rajab dan juga tidak ada anjuran secara khusus, akan tetapi hukum asal puasa dianjurkan, dalam sunan Abu Daud Rasulullah menganjurkan puasa di bulan haram dan rajab diantara bulan tersebut. Wallahu a’lam. ”

Imam An-Nawawi rahimahullah juga berkata dalam kitabnya Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab pada kitab shaum: “Sahabat-shabat kami (ulama syafiiyyah) berkata, diantara puasa yang dianjurkan adalah puasa dibulan-bulan haram (mulia) yaitu Dzul qo’dah, Dzul hijjah, Muharram dan Rajab dan yang paling afdhal adalah di bulan Muharram.”

Imam Syihabuddin Abul Abbas Ahmad bin An-Naqib Al-Mishri rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Umdatus Salik Wa Uddatun Nasik pada kitabus Shiyam, dianjurkan puasa pada bulan haram: Dzul qa’dah, Dzul hijjah, Muharram dan Rajab. Beliau berkata: Puasa sunnah yang paling utama setelah ramadhan adalah di bulan Muharram, kemudian Rajab, kemudian Sya’ban, dan puasa Arafah kecuali orang yang di Arafah karena berbuka (tidak berpuasa) lebih baik baginya.”

Imam Taqiyuddin Al-Hishni rahimahullah berkata dalam kitabnya Kifayatul Akhyar pada bab Puasa Tathowwu’ (Sunnah): ” “Puasa sunnah yang paling utama setelah ramadhan adalah di bulan-bulan haram yaitu Dzul qa’dah, Dzul hijjah, Muharram dan Rajab. Yang paling afdhal dari semua itu adalah di bulan Muharram, kemudian Sya’ban. ”

Inilah diantara argumentasi kelompok pertama yang mensunnahkan puasa rajab secara khusus yang dilakukan di bulan rajab.

KELOMPOK KEDUA:

Tidak ada pengkhususan puasa di bulan rajab

Dalil yang dikemukakan oleh kelompok kedua ini sebagai berikut:

1. Tidak ada dalil shahih yang menjelaskan kekhususan perintah puasa bulan rajab, bahkan yang tersebar dari riwayat tentang keutamaan secara khusus puasa rajab adalah riwayat dhaif bahkan ada yang palsu. Misalnya;

1. (HR Anas), Rasululloh ﷺ bersabda:

ان فى الجنة نهرا يقال له رجب. ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل. من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر

Artinya: “Sungguh di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa Puasa sehari di bulan Rajab, maka Alloh akan memberi minum dari air sungai itu.”

2. (HR Anas), Rasululloh ﷺ bersabda:

من صام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة

Artinya :” Barangsiapa Puasa di bulan Harom, yaitu hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah 700 (tujuh ratus) Tahun.”

3. (HR Ibnu Abbas), Rasulullah ﷺ bersabda:

من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات

Artinya : “Barangsiapa Puasa sehari di bulan Rajab, bagaikan Puasa sebulan. Barangsiapa Puasa 7 (tujuh) hari di Bulan Rajab, maka 7 (tujuh) Pintu Neraka jahim dikunci gembok. Dan, barangsiapa Puasa 8 (delapan) hari di Bulan Rajab, maka 8 (delapan) Pintu Surga dibuka. Juga, barangsiapa Puasa 10 (sepuluh) hari di bulan Rajab, maka amal-amal buruknya diganti dengan amal-amal baik.”

Dan masih banyak yang semisal ini.

(Diambil dari dari web islami.co)

Imam Ibu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata dalam kitabnya Lathoiful Ma’aarif: “Begitu juga dengan ibadah puasa, maka tidak ada keterangan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan puasa khusus pada bulan rajab.”

قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله تعالى-: وأما صوم رجب بخصوصه فأحاديثه كلها ضعيفة، بل موضوعة، لا يعتمد أهل العلم على شيء منها، وليست من الضعيف الذي يروى في الفضائل، بل عامتها من الموضوعات المكذوبات

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Adapun puasa bulan rajab secara khusus, maka seluruh hadits tentangnya adalah lemah bahkan palsu. Para ulama tidak menjadikannya sebagai landasan. Hadits-hadits tersebut bukanlah dari jenis hadits dhoif yang bisa diriwayatkan dalam masalah fadhilah amal bahkan kebanyakannya adalah palsu dan dusta.”

|[ مجموع الفتاوى (٢٥/٢٩٠) ]|

قال الحافظ ابن حجر -رحمه الله تعالى-: لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه ، حديث صحيح يصلح للحجة

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Tidak ada hadits yang shahih yang dapat dijadikan sebagai landasan tentang keutamaan bulan Rajab, keutamaan puasanya, puasa di hari-hari tertentu dan sholat malam pd malam-malam tertentu pada bulan tersebut.”

وقال أيضا: “الأحاديث الصريحة الواردة في فضل رجب أو فضل صيامه أو صيام شئ منه تنقسم إلى قسمين: قسم ضعيف، وقسم موضوع

Beliau juga berkata: “Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan bulan rajab dan keutamaan berpuasa di bulan tersebut atau beberapa hari darinya terbagi menjadi 2 bagian: pertama; Dhoif (lemah) dan kedua; palsu.”

|[ تبيين العجب فيما ورد في فضل رجب (١١) ]|

قال الإمام ابن القيم
-رحمه الله تعالى -: كل حديث في ذكر صيام رجب وصلاة بعض الليالي فيه فهو كذب مفترى

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap hadits yang menyebutkan tentang puasa Rajab dan sholat beberapa malam darinya adalah hadits dusta yang diada-adakan.”

|[ المنار المنيف (٩٦) ]|

قال العراقي رحمه الله تعالى : لا يصح في فضل رجب حديث

Al ‘Iraqi rahimahullah berkata: “Tidak ada hadits yang shahih tentang keutamaan bulan rajab.”

|[ فيض القدير (٤/١٨) ]|

2. Ada hadits umum yang menjelaskan tentang perintah puasa di bulan bulan haram yaitu Dzul qa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab dari Mujibah Al-Bahiliyah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud sebagaimana yang disampaikan dalam argumen kelompok pertama akan tetapi para ulama menilainya sebagai hadits dhaif. Sekalipun ini ditrima dan dijadikan landasan, akan tetapi hadits ini hanya bersifat global tidak menyebutkan keutamaan atau perintah secara khusus untuk puasa rajab apalagi keutamaan ditanggal-tanggal tertentu sebagaimana diyakini oleh sebagian orang. Juga dengan kedhaifan haditsnya pun belum bisa dijadikan sebagai argumen.

3. Dari uraian argumen kelompok kedua ini bukan berarti seseorang sama sekali tidak diperbolehkan berpuasa di bulan rajab, akan tetapi dari uraian ini hendak menjelaskan sekaligus penekanan bahwa tidak ada dalil khusus yang shahih atau tidak ada keutamaan khusus berpuasa di bulan rajab.

Oleh karena itu bagi orang yang ingin berpuasa di bulan rajab bisa melaksanakan puasa-puasa yang sudah jelas disyariatkan secara dalil yang shahih dan pasti seperti puasa daud, puasa senin dan kamis, puasa ayyamul biydh (tanggal 13, 14 dan 15), puasa 3 hari setiap bulan (ditanggal dan hari mana saja), atau bagi yang masih punya utang puasa ramadhan bisa mengqadha di bulan rajab. Puasa-puasa inilah yang lebih baik dan lebih jelas diketahui syariatnya untuk dikerjakan di bulan Rajab.

Pendapat kedua inilah yang penulis pilih. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjalankan ketaatan-ketaatan kepada Allah yang dilandasi dalil dalil yang shahih. Wallahu A’lam

@Abul Fata Murod, Lc; S. Ud

Artikel:

www.inilahfikih.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *